jatimnow.com - Festival Film Horor (FFH) 2026 resmi ditutup di Alun-Alun Kabupaten Pacitan. Tak sekadar menjadi ajang apresiasi karya sineas, festival bertema INDIGO ini juga menjadi ruang bagi sineas daerah untuk memperluas peluang distribusi film hingga menembus pasar perfilman nasional.
Malam puncak FFH 2026 menjadi panggung apresiasi bagi sineas dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, hingga pembuat film tingkat nasional.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf Cecep Rukendi, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan kegiatan ini yang disebut sebagai satu-satunya festival film horor di Indonesia.
Baca juga: Angkat Tema Indigo, Festival Film Horor 2026 Resmi Dibuka di Pacitan
Menurut Cecep, genre horor memiliki potensi besar dalam industri perfilman nasional karena berkaitan erat dengan kekayaan budaya lokal.
“Film horor merupakan genre dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, lebih dari 40 persen, karena sangat berakar pada kekayaan budaya lokal,” ujarnya, Minggu (18/10/2026).
Dia menjelaskan, perkembangan ekonomi kreatif membuka peluang bagi kreativitas untuk menghasilkan nilai ekonomi. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan perlindungan kekayaan intelektual agar karya para sineas memiliki nilai dan keberlanjutan.
Karena itu, Kemenekraf berharap sineas daerah tidak hanya berhenti pada proses produksi dan kompetisi, tetapi juga mampu memperluas jangkauan penayangan film mereka.
“Kami berharap sineas daerah dapat terus naik kelas menjadi national bahkan international champion melalui persiapan distribusi layar yang lebih luas di masa depan,” tutur Cecep.
Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menegaskan bahwa festival film tidak hanya berorientasi pada penghargaan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara karya sineas dan penonton. Apresiasi terhadap karya merupakan bagian penting dalam mendorong sineas terus berkarya. Namun, kesempatan agar film dapat disaksikan masyarakat luas juga tidak kalah penting.
Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Ayam Broiler di Pacitan, Alumni UGM Beri Pendampingan
“Yang paling penting itu bukan hadiah atau angkanya, tetapi apresiasi. Kegiatan ini memberikan apresiasi, tetapi juga ruang untuk film-film ini bertemu dengan penontonnya,” jelasnya.
Fauzan menilai penonton memiliki peran penting dalam perjalanan sebuah film. Sebab, karya yang diproduksi sineas pada akhirnya ditujukan untuk dinikmati oleh masyarakat.
“Penonton adalah alasan mengapa kami membuat film,” katanya.
Sementara itu, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menyampaikan kebanggaannya terhadap penyelenggaraan FFH 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga membantu mempromosikan Kabupaten Pacitan di tingkat nasional.
Baca juga: Emil Dardak Gerak Cepat Tangani Sengketa Lahan di Pacitan
“Kegiatan ini tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi memberikan dampak baik mengangkat nama Kabupaten Pacitan di tingkat nasional,” tuturnya.
Bupati yang akrab disapa Mas Aji itu memastikan Festival Film Horor akan kembali digelar pada 2027. Dia berharap festival tersebut dapat terus memberikan manfaat, baik bagi perkembangan industri kreatif maupun promosi daerah.
“Karena ini memberikan manfaat besar dan sampai bertemu kembali di tahun 2027,” pungkasnya.