Pixel Code jatimnow.com

Empat Film Pendek Jadi Pembuka Festival Film Horor Pacitan, 75 Film Siap Diputar

Editor : Yanuar D   Reporter : Ahmad Fauzani
Peserta mengikuti Workshop Kelas Produksi Film yang digelar Ruang Film Pacitan bersama Jogja Film Academy (JFA) dan Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di kawasan Gubuk Song Meri, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan. (Prokopim Pemkab Pac
Peserta mengikuti Workshop Kelas Produksi Film yang digelar Ruang Film Pacitan bersama Jogja Film Academy (JFA) dan Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di kawasan Gubuk Song Meri, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan. (Prokopim Pemkab Pac

jatimnow.com - Empat film pendek berdurasi lima menit menjadi hasil Workshop Kelas Produksi Film yang digelar Ruang Film Pacitan bersama Jogja Film Academy (JFA) dan Community Forum Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada September 2026.

Keempat film tersebut diproduksi peserta workshop sebagai bagian dari upaya mengasah kemampuan sineas lokal menjelang Festival Film Horor (FFH) II 2026. Karya mereka diputar perdana pada akhir kegiatan, dilanjutkan dengan diskusi dan evaluasi bersama praktisi perfilman.

Workshop selama dua hari itu menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Film Horor Pacitan 2026. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mendalami proses pembuatan film.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji membuka kegiatan pada hari pertama. Peserta kemudian mengikuti pembekalan berbagai aspek produksi film, mulai dari penyutradaraan, sinematografi, penyuntingan, hingga keaktoran.

Materi disampaikan sejumlah praktisi perfilman. Arief Akhmad Yani dari Community Forum JAFF membahas penguatan ekosistem perfilman daerah.

Sementara itu, kelas penyutradaraan diisi Lulu Hendra Komara, M.Sn., kelas sinematografi oleh Ardian Friatna, M.Sn., kelas penyuntingan oleh Driepuza Ryan Fortunanda, M.Sn., serta kelas keaktoran oleh Stephanus Wahyu Gumilar atau Agix.

Wakil Direktur JFA Dr. Suharmono Arimba, M.A., jajaran kepala dinas Pemerintah Kabupaten Pacitan, serta perwakilan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Pada hari kedua, peserta mempraktikkan materi yang telah dipelajari dengan memproduksi film di kawasan Gubuk Song Meri, Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan.

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok produksi dan didampingi fasilitator. Mereka menjalani tahapan produksi, mulai dari persiapan, pengambilan gambar, hingga penyelesaian film.

Proses tersebut menghasilkan empat film pendek yang kemudian ditayangkan dan dibedah bersama para narasumber. Melalui sesi evaluasi ini, peserta mendapat masukan mengenai kelebihan dan kekurangan karya mereka sebagai bekal untuk produksi selanjutnya.

Direktur Festival Film Horor II dari Ruang Film Pacitan, Idham Nugrahadi, mengatakan workshop tersebut menjadi salah satu upaya mendorong sineas lokal untuk terus berkarya.

Baca juga:
Gonjiam Versi Indonesia, 402 Rumah Sakit Angker Korea Bikin Penonton Lupa Napas

“Kami memberikan apresiasi besar atas karya sineas lokal. Ini merupakan pemanasan menuju FFH jilid dua,” ungkap Idham, Selasa (13/10/2026).

Ia mengajak sineas dan masyarakat untuk turut meramaikan festival serta mengirimkan karya terbaik mereka.

Penyelenggara berharap kegiatan pra-acara ini dapat melahirkan talenta baru yang memiliki keterampilan teknis sekaligus keberanian mengembangkan gagasan menjadi karya film.

75 Film Horor Meriahkan Festival

Rangkaian workshop tersebut berlanjut menuju Festival Film Horor Pacitan 2026 yang digelar pada 14–17 Oktober di Alun-alun Kabupaten Pacitan.

Festival tahun ini mengusung tema INDIGO-Jejak Mbah Sayem. Sebanyak lebih dari 75 film horor dijadwalkan diputar melalui lima layar di sejumlah titik lokasi festival.

Baca juga:
Film Horor Nosferatu, Kisah Wanita Muda Mengikat Perjanjian dengan Iblis

Tema tersebut mengangkat legenda lokal Mbah Sayem sebagai titik temu antara cerita rakyat, mitologi, dan sinema modern. Melalui pendekatan ini, festival berupaya menghadirkan pengalaman menonton sekaligus memperkenalkan kekayaan cerita lokal Pacitan.

FFH 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung, mulai dari malam penganugerahan, workshop film, temu insan perfilman, pasar kreatif, kegiatan komunitas, hingga Jejak Galeri Mbah Sayem.

Berbagai program tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi sineas, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk terlibat dalam satu perhelatan kreatif.

Melalui festival ini, Pacitan berupaya memperluas ruang apresiasi bagi film horor Indonesia sekaligus memperkuat potensi budaya dan pariwisata daerah melalui industri kreatif.

Informasi mengenai jadwal pemutaran dan daftar film dapat diakses melalui akun Instagram resmi @festivalfilmhoror.