Gus Yahya Ungkap Alasan Mbah Wahab Batal ke Saudi dan Cikal Bakal NU

Minggu, 16 Agu 2026 10:59 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Gus Yahya usai membedah buku karya H Abdul Mun’im DZ di Unwaha, Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam. (Foto: Media Center)

jatimnow.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkap alasan di balik keputusan KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab tidak menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi pada era 1920-an.

Menurut Gus Yahya, keputusan yang secara formal disebut karena Mbah Wahab “tertinggal kapal” bukan sekadar persoalan teknis perjalanan.

Di balik alasan sederhana itu terdapat sikap politik sekaligus pembacaan geopolitik terhadap arah perkembangan Islam dunia setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.

Baca juga: Dukung Transformasi Pesantren, Gus Yahya Apresiasi Inisiatif KH Imam Jazuli

Hal itu disampaikan Gus Yahya saat membedah buku karya H Abdul Mun’im DZ di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

Buku setebal 262 halaman yang diterbitkan Unwaha Press pada 2024 itu menjadi pintu masuk untuk menelusuri pemikiran, perjalanan gerakan, dan strategi Mbah Wahab yang kemudian bermuara pada lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926.

Gus Yahya menjelaskan, Mbah Wahab telah memiliki pengalaman intelektual dan organisasi yang kuat sebelum NU berdiri. Pengalaman itu ditempa selama belajar di Makkah dan ketika terlibat dalam pergerakan Sarekat Islam (SI).

Sepulang dari Tanah Suci, Mbah Wahab tidak berhenti pada aktivitas keilmuan. Ia membangun sejumlah organisasi yang menjadi ruang pendidikan, pengembangan ekonomi, sekaligus pertukaran gagasan umat.

Pada 1916, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan. Organisasi tersebut menjadi wadah pendidikan agama sekaligus penanaman kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda.

Gerakan itu kemudian berkembang menjadi jaringan pendidikan yang meluas, terutama di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Dua tahun kemudian, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar untuk menghimpun kekuatan ekonomi para pedagang. Pada tahun yang sama, ia turut menginisiasi Tashwirul Afkar sebagai ruang pertukaran pemikiran bagi para kiai, guru, dan intelektual muslim.

Menurut Gus Yahya, ketiga organisasi tersebut, Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar menjadi fondasi penting bagi terbentuknya NU.

“Jadi, NU tidak muncul secara tiba-tiba pada 1926. Ada proses panjang berupa pembangunan jaringan pendidikan, ekonomi, dan pemikiran yang dilakukan sebelumnya,” ujar Gus Yahya dalam pemaparannya.

Salah satu bagian penting yang disoroti Gus Yahya adalah sikap Mbah Wahab terhadap perubahan politik di Timur Tengah setelah runtuhnya kekuasaan Turki Utsmani.

Mbah Wahab disebut mendapat undangan untuk menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi. Namun, ia memilih tidak berangkat.

Baca juga: Musyawarah Kubro di Ponpes Lirboyo Kediri Sepakati 3 Poin Penyelesaian Konflik PBNU

Alasan “tertinggal kapal”, menurut Gus Yahya, merupakan bentuk penolakan yang disampaikan secara halus.

\

Gus Yahya menilai Mbah Wahab tidak sepakat jika Arab Saudi dijadikan pusat khilafah baru sebagai pengganti kekuasaan Utsmani.

Sikap itu berkaitan dengan perbedaan pandangan keagamaan. Mbah Wahab melihat tradisi keilmuan Islam di Nusantara memiliki kesinambungan sanad yang kuat dan berakar pada Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dalam pembacaan Mbah Wahab, tradisi keilmuan yang berkembang di Hijaz pada masa itu memiliki persoalan kesinambungan sanad dengan peradaban keilmuan Islam sebelumnya.

Karena itu, keputusan untuk tidak menghadiri forum di Saudi sekaligus memperkuat gerakan di tanah air menunjukkan bagaimana Mbah Wahab membaca perubahan politik global dan dampaknya terhadap umat Islam.

NU Lahir di Tengah Penjajahan

Gus Yahya juga menekankan karakter khas NU yang lahir dari gerakan para ulama di tengah situasi penjajahan.

Baca juga: PWNU Jawa Barat Serukan Islah dalam Musyawarah Kubro di Ponpes Lirboyo Kediri

NU, kata dia, tidak lahir dari struktur kekuasaan politik maupun militer. Organisasi itu dibangun dari kekuatan keilmuan, jaringan pesantren, pendidikan, ekonomi umat, serta kesadaran kebangsaan.

Rangkaian gerakan yang dibangun Mbah Wahab sebelum 1926 menjadi bagian penting dari proses tersebut. Dari ruang pendidikan hingga penguatan ekonomi, para ulama menyiapkan fondasi sosial yang memungkinkan organisasi keagamaan memiliki basis masyarakat yang kuat.

Gus Yahya menilai warisan pemikiran Mbah Wahab masih relevan untuk dibaca dalam menghadapi dinamika geopolitik kontemporer.

Ia juga mengingatkan kembali pesan Mbah Wahab mengenai pentingnya menjaga NU dari upaya perusakan dari dalam.

Pesan itu, menurut Gus Yahya, menunjukkan bahwa sejak awal para pendiri NU memahami organisasi bukan hanya sebagai wadah keagamaan, melainkan sebagai institusi yang membawa agenda peradaban.

Bedah buku di Unwaha akhirnya tidak sekadar menghidupkan kembali catatan sejarah Mbah Wahab. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk membaca kembali bagaimana para pendiri NU merespons perubahan dunia, membangun kekuatan masyarakat, dan menentukan arah perjuangan umat dari Indonesia.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Jombang

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler