jatimnow.com - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ishmatu Aulia Rizky Kirana meraih Juara 3 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tingkat Diploma berkat inovasi AutoDry Boost. Teknologi pengering tembakau itu dirancang untuk memangkas proses pengeringan pascapanen dari 6–12 hari menjadi hanya 2–3 jam untuk kapasitas 100 kilogram.
Mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS itu mengembangkan Autonomous Drying Acceleration System for Post-Harvest Processing sebagai solusi bagi petani tembakau di Desa Sumberagung, Tuban. Selama ini, proses pengeringan masih mengandalkan sinar matahari sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Aulia mengatakan ketidakpastian cuaca membuat durasi pengeringan sulit dikendalikan. Kondisi itu juga dapat memengaruhi mutu tembakau dan memicu kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai 30 persen.
Baca juga: Jawab Krisis Energi, Profesor ITS Racik Pembangkit Surya dan Angin
“Padahal, produksi tembakau di Indonesia tergolong tinggi, mencapai 238.800 ton pada 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” ujar Aulia.
AutoDry Boost mengadopsi teknologi hot air drying yang bekerja dengan sistem kontrol otomatis. Perangkat tersebut menggunakan blower heater untuk mendistribusikan udara panas secara merata, dilengkapi panel kontrol dan tiga exhaust fan.
Daun tembakau segar ditempatkan dalam drying chamber menggunakan tray dengan kapasitas total hingga 100 kilogram. Sistem kemudian menjaga suhu pengeringan pada rentang optimal 69–71 derajat Celsius menggunakan sensor RTD PT-100 dan mekanisme kontrol on-off.
Tidak hanya mengatur suhu, AutoDry Boost juga menggunakan sensor load cell untuk memantau penurunan massa daun selama proses pengeringan. Data itu digunakan untuk memperkirakan penurunan kadar air hingga mencapai kondisi yang dibutuhkan.
Menurut Aulia, teknologi tersebut menawarkan efisiensi dari sisi waktu maupun biaya. Pengeringan 100 kilogram tembakau yang sebelumnya membutuhkan berhari-hari dapat diselesaikan dalam 2–3 jam.
Dari sisi ekonomi, penggunaan AutoDry Boost diproyeksikan mampu memangkas biaya operasional hingga 54,8 persen. Teknologi itu juga berpotensi menekan limbah tembakau busuk sekitar 30 persen setiap musim panen.
Baca juga: Atasi Tantangan Geografis, Guru Besar ITS Merancang Teknologi Otonom
Kapasitas produksi pun diproyeksikan meningkat. Dengan penerapan sistem pengering otomatis, kapasitas produksi tembakau kering dapat bertambah dari sekitar 1,5 ton menjadi 4 ton per musim.
“Dampak ini diperkirakan juga berimbas pada kenaikan pendapatan bersih petani serta peningkatan kapasitas penjualan tembakau kering,” kata Aulia.
Meski menawarkan efisiensi, pengembangan AutoDry Boost masih menghadapi sejumlah tantangan. Adaptasi petani terhadap teknologi baru, kebutuhan modal investasi awal, serta penggunaan energi fosil menjadi beberapa persoalan yang perlu diatasi.
Aulia menyiapkan skema pelatihan dan pendampingan teknis secara berkala agar petani dapat mengoperasikan perangkat secara mandiri. Ia juga mengusulkan pembiayaan kolaboratif bersama pemerintah desa untuk membantu mengatasi kebutuhan investasi awal.
Pengembangan teknologi juga diarahkan agar semakin ramah lingkungan. Aulia telah menyusun peta jalan pengembangan AutoDry Boost secara bertahap hingga 2028.
Baca juga: Inovasi Cerobong Surya ITS Tawarkan Solusi Murah Transisi Energi Bersih
Pada 2026, pengembangan difokuskan pada substitusi energi fosil dengan energi terbarukan serta penambahan sensor load cell pada setiap tray. Setahun berikutnya, teknologi diarahkan untuk menyesuaikan standar kadar air bagi komoditas pertanian lain.
Adapun pada 2028, AutoDry Boost ditargetkan dapat direplikasi secara terstruktur di berbagai wilayah sentra pascapanen.
Aulia mengembangkan inovasi pengering tembakau tersebut di bawah bimbingan dosen ITS Ir Safira Firdaus Mujiyanti. Selain menjadi Mawapres Fakultas Vokasi ITS, Aulia juga merupakan perwakilan Mawapres Jawa Timur tingkat Diploma dan finalis Duta ITS 2025.
Inovasi AutoDry Boost sekaligus diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.