jatimnow.com - Perupa muda dari Sanggar Daun Surabaya, Malya Sasmaya, menggelar pameran tunggal bertajuk "Dialog Batik Madura" di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, pada 26 September hingga 1 Oktober 2026. Pemeran dibuka sejarawan asal Bangkalan Madura Hidrochin Sabaruddin.
Dalam pameran tunggalnya ini, Malya lebih dahulu melakukan observasi selama satu tahun di sentra Batik Tulis Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura.
Hasilnya, tak kurang dari 20 karya baru tercipta dengan medium yang sangat khas, cat akrilik, kolase batik tulis Madura asli terutama motif Tanjung Bumi di atas kanvas. Namun, karena keterbatasan ruang galeri, maka kali ini Malya hanya bisa menampilkan 8 karya dengan beragam ukuran.
Gadis berusia 17 tahun ini menjelaskan bahwa ada 3 karya yang menjadi kunci dalam pameran tunggal perdananya ini. Pertama ada karya berjudul "Dialog Tanjung Bumi ukuran 200 x 180 cm. Karya yang dipajang di pintu masuk galeri ini menyajikan bingkai batik utuh dengan biru laut yang luas. Malya lalu mengintervensi dengan satu goresan merah menyala sebagai tanda kehadirannya.
Kedua ada karya "The Beauty of Batik Madura" (100 x 100 cm) dan Merahnya Merah" (180 x 145 cm). Dua karya yang mengeksplorasi kehadiran dan esensi. Satu membiarkan batik mengerut dan mengalir seperti baru diangkat dari bak celup, satu lagi meleburkan motif menjadi bilahan-bilahan merah yang membara yang menjadi simbol keberanian.
Dan yang ketiga adalah karya berjudul "Fragmen" berukuran 20 x 20 cm sebanyak 12 panel. Karya ini adalah seri tanpa kolase kain sama sekali. Seakan menjadi ruang jeda untuk merasakan jiwa batik tanpa tubuhnya.
"Awalnya aku cuma suka warnanya. Merah Madura itu berani banget, beda dari batik lain. Tapi setelah aku ke Tanjung Bumi dan bertemu secara langsung dengan ibu-ibu pembatiknya, aku jadi lebih memahami Batik Madura," kata Malya.
Malya mengaku dalam pameran ini ia tidak ingin batik hanya menjadi kain cantik yang ditempel. Lebih dari itu ia ingin berdialog dengan karya-karyanya. Dan pada karya "Dialog Tanjung Bumi" menjadi cara Malya melihat, menghormati dan melestarikan Batik Madura.
Baca juga:
Annisa Nismara Gelar Pameran Lukis “Catatan Visual” di Galeri Merah Putih Surabaya
"Kadang aku biarkan batiknya yang mendominasi, tapi kadang aku lawan dengan cat akrilikku yang abstrak dan kasar" ujarnya.
Sementara kurator pameran Arik S. Wartono menyebut jika "Dialog Batik Mudura" ini merupakan dialog antara dua tangan dan dua zaman. Tangan Malya perupa muda Surabaya yang abstrak dengan tangan pembatik perempuan Madura yang sabar.
"Malya tidak menjadikan batik sebagai artefak mati di museum. Namun ia mencoba menghidupkannya kembali di atas kanvas masa kini," ucap Arik.
Pendiri Sanggar Daun itu menambahkan jika pameran "Dialog Batik Madura" juga menjadi sebuah ajakan untuk menjaga kebudayaan tidak cukup hanya dengan mewarisinya.
Baca juga:
Samurai Jalu Gelar Pameran Tunggal Kedua Bertajuk "Mulai Dari Rumah"
"Kita harus memilih untuk menjaganya, setiap hari. Jika tidak, seperti tulis Malya di karya videonya, And someday when it fades, will we even notice what we've lost?," ujarnya.
Sementara kurator ARTSUBS, Nirwan Dewanto, juga terlihat hadir dalam pembukaan pameran tunggal Malya Sasmaya "Dialog Batik Madura".
"Biarkan Malya berkembang sesuai bakatnya. Dia tahu bagaimana mempergunakan warna, terutama warna monokrom pada bidang lebar," ucap Nirwan.