Eri Cahyadi Cek Lagi RSUD Soewandhie, IGD hingga Farmasi Mulai Berbenah

Minggu, 09 Agu 2026 12:20 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat meninjau RSUD Dr. Mohamad Soewandhie. (Foto: Pemkot Surabaya/jatimnow.com)

jatimnow.com - RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Surabaya mulai berbenah setelah sebelumnya mendapat sorotan dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Perubahan terlihat di sejumlah titik, salah satunya layanan farmasi yang kini menambah jumlah petugas dari sembilan menjadi 18 orang sehingga antrean pengambilan obat lebih terkendali.

Perubahan tersebut terlihat saat Eri kembali mengecek pelayanan rumah sakit, Sabtu (8/8/2026). Pengecekan dilakukan sebagai tindak lanjut atas inspeksi mendadak (sidak) sebelumnya serta sejumlah keluhan warga yang masuk melalui kanal pengaduan.

Eri meninjau sejumlah titik pelayanan, mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang tunggu hingga farmasi. Ia memastikan evaluasi yang sebelumnya disampaikan kepada manajemen benar-benar ditindaklanjuti.

Baca juga: DPRD Fasilitasi Mediasi Warga Buntut Perluasan RS Soewandhi

“Saya sudah mengecek lagi pelayanan di RS Soewandhie. Alhamdulillah, beberapa evaluasi yang dulu saya temukan saat sidak, sekarang sudah dijalankan manajemen,” ujar Eri.

Di layanan farmasi, Eri melihat antrean pengambilan obat sudah jauh lebih terkendali. Kondisi itu salah satunya didukung penambahan jumlah petugas, dari sebelumnya sembilan menjadi 18 orang.

Menurut Eri, penambahan tenaga tersebut menunjukkan kehadiran pemerintah dalam memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat. Ia menegaskan, pelayanan publik tidak bisa hanya dihitung berdasarkan untung dan rugi.

“Untuk pelayanan publik, pemerintah harus hadir. Tidak bisa di hitung untung-rugi. Farmasi yang dulu petugasnya sembilan, sekarang menjadi 18 petugas. Sehingga sekarang tidak ada pasien yang mengantre,” tegasnya.

Pembenahan juga menjadi perhatian di IGD. Eri meminta manajemen memiliki sistem yang bisa menunjukkan ketersediaan tempat tidur secara cepat dan jelas.

Dengan begitu, petugas dapat segera mengetahui ruang yang masih tersedia maupun yang sudah penuh. Jika kapasitas IGD telah terpenuhi, pasien harus segera diarahkan ke fasilitas kesehatan lain agar tidak terjadi penumpukan.

“Di ruang IGD harus ada monitor, kamar mana yang kosong, kamar yang penuh mana. Kalau kamar penuh, ya harus di rujuk. Tidak boleh pasien menumpuk di IGD. Pelayanan harus maksimal,” ujarnya.

Selain IGD dan farmasi, pengaturan antrean di ruang tunggu juga menjadi bagian dari evaluasi. Pasien yang telah mendaftar melalui layanan e-health diminta mengikuti jadwal yang telah ditentukan untuk mencegah penumpukan.

Sedangkan pasien yang datang langsung tanpa mendaftar melalui e-health akan mengikuti mekanisme pelayanan tersendiri dan dilayani setelah antrean pasien terjadwal selesai.

Baca juga: Komitmen Berkelanjutan, Pemkot Surabaya Wujudkan Pemerataan Layanan Kesehatan

Menurut Eri, pola tersebut bukan untuk membatasi akses masyarakat, melainkan menata antrean agar lebih tertib. Pasien yang telah memiliki jadwal juga tidak terserobot oleh pasien yang datang tanpa pendaftaran sebelumnya.

\

Sebelumnya, Pemkot Surabaya memang telah melakukan penataan sistem antrean di RSUD Soewandhie untuk mengurangi kepadatan di ruang tunggu.

Bagi Eri, pengecekan langsung ke lapangan bukan untuk mencari kesalahan. Keluhan warga yang masuk melalui kanal pengaduan justru dijadikan dasar untuk menemukan persoalan dan mencari solusinya.

“Saya selalu percaya kalau nakes (tenaga kesehatan) Soewandhie terus berusaha maksimal memberi pelayanan yang terbaik. Saya juga berusaha mendengarkan keluhan pasien yang masuk lewat hotline,” ungkapnya.

Eri mengapresiasi manajemen RSUD Soewandhie dan seluruh tenaga kesehatan yang telah menindaklanjuti evaluasi tersebut. Menurutnya, kritik yang disampaikan saat sidak merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperbaiki kualitas pelayanan.

Ia juga meminta manajemen terus menyesuaikan jumlah tenaga kesehatan dengan perkembangan jumlah pasien. Jika jumlah kunjungan meningkat, tenaga medis dan perawat harus ikut diperkuat agar kecepatan pelayanan tetap terjaga.

Baca juga: Eri - Armuji Periksa Kesehatan di RS dr Soewandhie Surabaya

“Mulai sekarang, kalau jumlah pasien bertambah, nakesnya juga di tambah. Sehingga bisa mempercepat pelayanan kepada warga Surabaya yang sakit,” tegasnya.

Eri menambahkan, kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan fasilitas, tetapi juga hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien. Karena itu, ia meminta keduanya membangun komunikasi dan interaksi yang positif.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada solusinya, pelayanan menjadi cepat. Sekarang nakes dan warga Surabaya harus bergandengan agar pelayanannya bagus,” imbuhnya.

Ia menegaskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus tetap cepat dan tertib, termasuk bagi pasien yang menggunakan BPJS.

“Layanan kesehatan melalui BPJS harus tetap cepat dan rapi. Kemudahan yang diberikan kepada masyarakat harus diiringi dengan pelayanan yang berkualitas,” pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler