jatimnow.com - Risiko mengonsumsi air minum yang tercemar kini bisa ditekan berkat inovasi terbaru dari kampus Merah Putih. Aditya Vahresi Ramadhan, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berhasil merakit sistem deteksi kualitas air minum kemasan dan isi ulang yang akurat dan praktis.
Teknologi ini lahir dari kegelisahan Aditya saat melakukan pendakian gunung. Ia kerap menjumpai sesama pendaki yang meminum air langsung dari sumber alam tanpa mengetahui kandungan di dalamnya.
Berangkat dari hobi tersebut, ia mengembangkan perangkat yang mampu mengubah asumsi menjadi data ilmiah mengenai kelayakan air.
Baca juga: Ni Kadek Ayu Wardani Dobrak Mitos Aktivis Sulit Lulus Kuliah
"Selama ini kita hanya percaya saja kalau air itu bersih karena terlihat jernih. Padahal bisa saja ada cemaran tanah atau zat lain yang kasat mata. Saya ingin ada alat yang memberi kepastian lewat angka," ujar Aditya saat ditemui di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026).
Di bawah bimbingan Ir. Kukuh Setyajid, M.T., Aditya merancang alat dengan otak utama mikrokontroler ESP32. Perangkat ini mengintegrasikan dua sensor utama, yakni sensor pH untuk mengukur tingkat keasaman dan sensor turbidity untuk mengecek kadar kekeruhan.
Secara teknis, sensor pH bekerja memindai skala keasaman air. Air yang layak konsumsi berada pada rentang netral, yakni 6,5 hingga 8,5. Sementara sensor kekeruhan berfungsi melacak partikel padat yang mengendap dalam air.
Baca juga: Foto: Wisuda Untag Surabaya
"Seluruh hasil pemindaian langsung muncul di layar LCD. Pengguna bisa melihat nilai pH, tingkat keruh, dan status akhir apakah air tersebut layak minum atau tidak," jelas Aditya.
Meski terlihat sederhana, proses perakitan ini menemui kendala pada tahap akurasi. Aditya harus melakukan kalibrasi berulang kali untuk menyamakan tegangan listrik sensor dengan nilai pH yang sebenarnya agar hasil pengukuran tidak meleset.
Karya ini tidak hanya berguna bagi pendaki, tetapi punya potensi besar untuk diterapkan pada depot air minum isi ulang.
Baca juga: Solusi PHK, Strategi Untag Surabaya Cetak Lulusan Jadi Bos Muda & Berdaya Global
Dengan alat ini, pelaku usaha bisa memberikan jaminan mutu kepada pelanggan melalui pengujian real-time, bukan sekadar prediksi visual.
Aditya berharap temuannya menjadi titik awal bagi inovasi yang lebih masif di lingkungan kampus.
"Saya ingin alat ini terus dikembangkan agar sesuai standar industri yang lebih ketat, sehingga kesadaran masyarakat akan air bersih semakin meningkat," pungkasnya.