Siswa SD di NTT Akhiri Hidup demi Buku, William Yani Wea: Ini Tragedi Pilu

Sabtu, 07 Feb 2026 10:43 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI sekaligus tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. (Foto: Dok Pribadi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Selembar surat berisi pesan perpisahan menjadi saksi bisu kepergian Yohannes Bastian Soga (YBS). Bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu memilih mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026.

Alasan di balik tindakan nekat siswa kelas IV SD ini mengiris hati, ia tak ingin menjadi beban bagi ibunya yang berjuang di tengah himpitan ekonomi.

Tragedi ini memicu reaksi keras dari tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. Ia menyebut kematian Yohannes bukan sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi wajah kemanusiaan Indonesia.

Baca juga: Anak SD di NTT Nekat Akhiri Hidup, Pakar UNAIR Desak Evaluasi Sosial

"Ini jelas sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Anak sekecil itu hanya ingin punya buku dan pena untuk sekolah. Namun, kemiskinan merampas impiannya hingga ia merasa mati adalah jalan keluar agar tidak menyusahkan ibunya," ujar pria yang akrab disapa Willy ini dengan nada getir, Sabtu (7/2/2026).

Putra dari mendiang tokoh nasional Jacob Nua Wea ini mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan evaluasi total.

Willy menyoroti adanya kontradiksi besar antara ambisi pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan realitas biaya pendidikan di lapangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Yohannes merasa tertekan setelah pihak sekolah menagih biaya sebesar Rp1,2 juta. Padahal, ia bersekolah di sekolah negeri yang seharusnya bebas dari pungutan biaya.

"Pemerintah punya kewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas. Jangan sampai program mulia seperti Makan Bergizi Gratis tercoreng oleh praktik pungutan liar di sekolah yang justru mematikan harapan anak-anak kita," tegas Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (Serikat Pekerja IMPPI) tersebut.

Baca juga: Menengok Proses Panjang Produksi Kecambah Ale di Jombang, Laris tapi Sulit Bahan

Keseharian Yohannes memang jauh dari kata cukup. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.

\

Ia tinggal bersama neneknya yang sudah berusia 80 tahun di sebuah pondokan sederhana. Sementara ibunya harus banting tulang menafkahi lima orang anak di desa tetangga.

Beberapa saat sebelum kejadian, para tetangga sempat melihat Yohannes duduk termenung sendirian di bale-bale. Kemurungan itu rupanya menjadi tanda perpisahan terakhir.

Ia meninggalkan surat pendek untuk sang ibu yang berbunyi, "Mama, aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama."

Baca juga: Dukungan dari Tiga Perusahaan untuk Pemberdayaan Desa Generasi Maju di NTT

Bagi Willy, kasus Yohannes harus menjadi titik balik bagi pengelola pendidikan di NTT dan Indonesia secara umum.

Ia berharap tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena urusan buku, pena, atau iuran sekolah yang tak terbeli.

"Kematian Yohannes adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan kemiskinan terus-menerus menelan masa depan anak-anak kita," pungkas tokoh asal Nagekeo tersebut.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler