Alasan Harga Emas Antam Melejit 60 Persen dalam Setahun Terakhir

Rabu, 04 Feb 2026 17:44 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Harga emas Antam meroket hingga Rp3,1 juta per gram. Pakar ekonomi UK Petra menyebut fenomena ini sebagai sinyal merah ancaman resesi global 2026. (Foto: Ilustrasi/GeminiGeneratedImage)

jatimnow.com - Grafik harga emas Antam mencetak rekor bombastis dengan menembus angka di atas Rp3.100.000 per gram pada akhir Januari 2026.

Dalam kurun setahun, nilai logam mulia ini terbang hingga 60 persen, sebuah lonjakan yang dianggap sebagai alarm keras atas rapuhnya stabilitas ekonomi dunia.

Pakar Ekonomi dari Universitas Kristen atau UK Petra Surabaya, Dr. Nanik Linawati, menilai tren ini bukan sekadar dinamika pasar musiman.

Baca juga: Sempat Turbulensi Harga, Antam Kembali Meroket di Angka 3 Juta

Menurutnya, kenaikan ekstrem tersebut merepresentasikan ketakutan kolektif investor terhadap situasi global yang semakin tidak menentu.

"Dunia sedang berada dalam fase ekonomi tidak normal. Lonjakan harga yang tidak wajar ini menjadi indikator kuat bahwa kita sedang bergerak ke ambang resesi," ujar Nanik saat memberikan analisisnya di Surabaya, Rabu (04/2/2026).

Nanik membedakan pergerakan harga ini dalam dua dimensi waktu. Secara jangka pendek, harga memang berpotensi mengalami koreksi atau sedikit menurun.

Hal ini dipicu oleh aksi profit taking atau langkah investor menjual simpanan emas mereka demi meraup keuntungan saat inflasi mulai terlihat terkendali.

Baca juga: Faktor Melemahnya Harga Emas Hari Ini

Namun, untuk jangka panjang, ia memprediksi harga emas akan terus mencari level tertinggi baru. Kondisi ini dipicu oleh "benang kusut" geopolitik, mulai dari kebijakan tarif tinggi di Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump, hingga pergeseran aliansi antarnegara yang kian memanas.

\

"Emas itu langka dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan saham atau kripto yang suplainya bisa diatur atau diciptakan, emas terikat pada hukum alam dan proses tambang yang memakan waktu bertahun-tahun," tambah dosen Senior School of Business and Management (SBM) UK Petra tersebut.

Fenomena larinya modal ke logam mulia menandakan krisis kepercayaan terhadap aset produktif. Investor kini cenderung meninggalkan instrumen seperti deposito, saham, hingga kripto hanya untuk menyelamatkan nilai kekayaan mereka.

Baca juga: Harga Emas Selasa 13 Januari 2026 dan Catatan untuk Investor

Selama ketegangan geopolitik dan ego kekuasaan para pemimpin dunia tetap tinggi, emas akan tetap menjadi benteng terakhir bagi pemilik modal.

Meski badai ketidakpastian sedang menerjang, Nanik mengingatkan para investor untuk tetap berkepala dingin. Ketenangan menjadi kunci agar pasar tetap wajar dan masyarakat tidak terjebak dalam pengambilan keputusan yang tergesa-gesa.

"Emas memang menjadi sandaran nyata di tengah situasi yang tidak menentu. Namun, investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijaksana tanpa rasa takut berlebihan," tutupnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler