Waspada Child Grooming! Ini Alur Manipulasi Korban Menurut Psikolog Ubaya

Rabu, 14 Jan 2026 13:49 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Sikap manis dan perhatian berlebihan digunakan untuk mendapatkan akses yang lebih leluasa oleh pelaku child grooming. (Foto: Ilustrasi/Alodokter)

jatimnow.com - Kasus child grooming dan manipulasi yang mencuat di media sosial memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bagaimana pelaku menjalankan aksinya.

Yuan menguraikan alur manipulasi pelaku menggunakan Sexual Grooming Mode (SGM) yang dicetuskan oleh peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. Pelaku, kata Yuan, akan memilih korban dengan karakteristik tertentu.

Baca juga: Mahasiswa Ubaya Garap Ilustrasi Natal Pakai Logaritma, Dedikasi untuk Sang Ayah

"Pelaku mencari individu yang rentan dan lemah secara psikologis," ujar Yuan. "Misalnya, penurut, kurang pengawasan orang tua, butuh kasih sayang, punya masalah perilaku, atau merasa kesepian," lanjutnya.

Setelah memilih korban, pelaku akan membangun kepercayaan dan mengisolasi korban dari lingkungannya melalui interaksi intens. Sikap manis dan perhatian berlebihan digunakan untuk mendapatkan akses yang lebih leluasa.

"Pelaku membuat korban merasa nyaman dan aman," jelas Yuan. "Padahal, ini adalah bagian dari strategi manipulasi," tambahnya.

Selanjutnya, pelaku melakukan pembiasaan terhadap konten seksual dan kontak fisik. Korban dibuat berpikir bahwa paparan dan kekerasan seksual adalah hal yang normal.

"Ini adalah tahap yang sangat berbahaya. Korban mulai kehilangan batasan dan merasa tidak berdaya," kata Yuan.

Baca juga: Mahasiswa Ubaya Sulap Kantong Teh Jadi Dekorasi Rumah Estetik & Berkelanjutan

Terakhir, pelaku melakukan pemeliharaan hubungan setelah terjadinya kekerasan seksual melalui pembungkaman, baik dengan pemberian kompensasi maupun ancaman.

\

"Korban menjadi sangat bergantung pada pelaku," ujar Yuan. Mereka takut untuk berbicara karena merasa bersalah atau terancam.

Yuan menambahkan, korban child grooming seringkali mengalami kebingungan, keraguan, dan merasa tidak berhak untuk mempertanyakan atau mengkritisi pengalaman buruk yang mereka alami.

Child grooming sendiri merupakan pendekatan manipulatif yang dilakukan individu dengan tujuan melakukan kejahatan seksual kepada anak atau remaja di bawah umur untuk kepuasan pribadi.

Baca juga: Ubaya dan Puspresnas Resmi Buka OPSI 2025, Jaring Bibit Unggul Riset Nasional

Meskipun indikasi child grooming sulit diidentifikasi secara kasat mata, Yuan menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan dalam melakukan tindakan pencegahan.

"Orang tua perlu mengajarkan batasan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain," kata Yuan. "Bangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak," tuturnya.

Yuan juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap anak atau remaja di sekitar. "Jika ada tindakan mencurigakan dari interaksi anak dengan orang dewasa, jangan ragu untuk menelisik lebih dalam," pungkas Yuan.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler