jatimnow.com - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Burhanuddin Muhtadi, Ph.D., menyabet penghargaan APSIPOL Distinguished Political Scientist Award 2026 di Gedung ASEEC Tower Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (2/11/2026).
Apresiasi bergengsi dari Asosiasi Program Studi Ilmu Politik se-Indonesia itu mengganjar kiprahnya menulis puluhan artikel jurnal internasional dengan indeks Scopus 14.
Alih-alih sekadar bersyukur, Founder Indikator Politik Indonesia ini langsung melontarkan kritik pedas terhadap arah kajian politik dunia yang dinilai makin hampa gagasan.
Menurut Burhanuddin, jurnal-jurnal bereputasi global belakangan terlalu memuja angka dan pemodelan matematis ketimbang menggali akar masalah bangsa.
"Kajian politik tampak sangat canggih di atas kertas, tetapi pluralisme metode makin tergerus karena peneliti cuma berkutat pada eksperimen angka," ujarnya.
Ia khawatir, dominasi pendekatan serba kuantitatif bakal melucuti hakikat ilmu sosial yang semestinya kaya perspektif kualitatif dan sejarah.
Baca juga:
Gandeng Unair dan PMI, Yayasan Amway Edukasi Pentingnya Gut Health
Bagi Burhanuddin, fenomena kemasyarakatan tidak bisa dipotret sekejap mata layaknya laporan harian, melainkan butuh pembacaan panjang atas struktur sosial yang terus bergerak.
Ia juga menyoroti kerancuan pemakaian istilah, seperti konsep populisme dan politik uang yang kerap diobral tanpa kejelasan batasan ilmiah.
"Bagi-bagi uang tunai, bantuan sosial, sampai alokasi anggaran parlemen disatukan begitu saja. Akibatnya, konsep kehilangan ketajaman analisis," tuturnya.
Baca juga:
Bidik Pasar Luar Papua, UMKM Prafi Dibekali Izin Usaha dan Foto Dagangan
Di hadapan ratusan akademisi, mantan peneliti Cornell University ini turut membongkar trik produktif menembus jurnal internasional tanpa perlu mengemis dana hibah riset negara.
Caranya, menyisipkan instrumen pertanyaan ilmiah ke dalam kuesioner survei elektoral tatap muka milik pemodal swasta yang sedang berjalan.
"Kebutuhan klien elektoral terpenuhi, sedangkan dosen mendapat pasokan data lapangan bernilai tinggi untuk publikasi global secara mandiri," pungkasnya.