jatimnow.com - Jika mengupas satu kilogram bawang benar-benar dibayar Rp700 ribu, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR RI, niscaya ratusan warga Kabupaten Jember akan berbondong-bondong beralih profesi menjadi buruh pengupas bawang.
Namun, realitas ekonomi bawang di Jember menyimpan cerita yang jauh berbeda. Jejaknya dapat ditelusuri dari aktivitas perdagangan di bangunan inti Pasar Tanjung.
Sekitar sepuluh tahun lalu, ketika bangunan utama pasar masih ramai, satu kios pedagang bawang mampu mempekerjakan hingga 40 orang buruh pengupas kulit bawang. Volume penjualannya pun mencapai sekitar dua ton per hari.
Dua ton bawang bukan sekadar angka di atas kertas. Jumlah itu setara dengan sekitar 50 hingga 58 karung berukuran besar yang harus dinaikkan dan diturunkan oleh kuli panggul dari atas truk.
Dari keringat puluhan kuli panggul tersebut, rezeki kemudian mengalir ke jemari puluhan ibu yang bekerja sebagai buruh pengupas bawang di sudut kios. Belum lagi tukang becak yang mengangkut barang dan para penjual warung kopi yang ikut merasakan perputaran ekonomi.
Satu kios pedagang lokal pada masa itu bekerja layaknya sebuah manufaktur kecil. Ia bukan hanya menjadi tempat transaksi, melainkan juga menjadi sumber penghidupan bagi puluhan kepala keluarga, yang pada akhirnya menopang kehidupan ratusan anggota keluarga mereka.
Namun, riuh rendah aktivitas di bangunan inti Pasar Tanjung Jember perlahan meredup seiring pembiaran terhadap disfungsi jalan-jalan utama di sekitar pasar. Perubahan fungsi Jl. Samanhudi, Jl. Untung Suropati, hingga Jl. Dr. Wahidin menjadi lapak pedagang pelataran dan deretan mobil pikap telah mengubah pola pergerakan ekonomi pasar.
Pembeli tak lagi perlu masuk ke bangunan utama karena transaksi dapat dilakukan di pinggir jalan, dalam semacam budaya drive-thru pasar tradisional.
Terputusnya alur pembeli tersebut memukul telak para pedagang di bangunan inti. Lantai atas yang dahulu dipenuhi aktivitas perdagangan kini semakin lengang.
Baca juga:
Dosen UNAIR Dampingi Peternak Jember Olah Limbah Kopi Jadi Pakan
Lebih dari 70 persen kios akhirnya memilih tutup. Sementara pedagang yang masih bertahan harus mengurut dada. Jangankan menjual dua ton bawang, menjual satu kuintal dalam sehari saja kini terasa seperti sebuah keajaiban.
Volume perdagangan yang anjlok puluhan kali lipat bukan hanya berdampak pada pedagang. Puluhan buruh pengupas bawang yang dahulu bekerja di setiap kios ikut kehilangan sumber penghidupannya.
Kuli panggul kehilangan bongkaran, tukang becak kehilangan penumpang, warung kehilangan pembeli. Ratusan piring nasi yang dahulu terhidang dari denyut ekonomi pasar perlahan ikut menghilang.
Ini bukan semata-mata soal rakyat yang tidak mau bekerja. Persoalannya adalah hilangnya ruang ekonomi yang memungkinkan mereka bekerja dan memperoleh penghidupan yang layak.
Karena itu, angka Rp700 ribu per kilogram tidak boleh berhenti sebagai retorika dalam pidato kenegaraan. Bagi para pedagang, buruh, dan kuli di Pasar Tanjung, yang dibutuhkan hari ini adalah kehadiran negara dalam bentuk kebijakan yang konkret.
Baca juga:
Gegara Cemburu 'Cinta Monyet' di TikTok, Siswi SD di Jember Jadi Korban Bullying
Pemerintah Kabupaten Jember perlu segera membenahi sirkulasi perdagangan di Pasar Tanjung secara adil dan terukur. Jalan dan ruang pasar harus dikembalikan pada fungsi yang mampu menghidupkan seluruh ekosistem perdagangan, bukan hanya memindahkan titik transaksi dari dalam gedung ke pinggir jalan.
Sebab, ketika pasar kembali hidup, yang tumbuh bukan hanya omzet pedagang. Jemari para buruh kembali sibuk mengupas bawang, kuli panggul kembali mengangkat beban dengan senyum, tukang becak kembali mendapatkan penumpang, dan warung-warung kembali dipenuhi pembeli.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat bukan mimpi tentang upah Rp700 ribu per kilogram. Mereka membutuhkan kesempatan nyata untuk bekerja, ruang ekonomi yang sehat, dan negara yang hadir memastikan roda perekonomian benar-benar berputar.
Ditulis oleh: Mochammad Faizin
Wakabid Politik DPC GMNI Jember
URL : https://jatimnow.com/baca-86776-mimpi-rp700-ribu-buruh-pengupas-bawang-di-pasar-tanjung-jember