jatimnow.com – Upaya membangun kesadaran lingkungan dari tingkat rumah tangga mulai membuahkan hasil manis di Kampung MOZAIK RW 13, Kelurahan Simokerto, Kota Surabaya. Setelah melalui masa pemantauan ketat selama empat pekan sejak Juli hingga Agustus 2026, warga yang konsisten memilah dan mengelola sampah akhirnya mendapatkan penghargaan berupa telur dan minyak goreng pada Kamis (13/8/2026).
Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar pengelolaan sampah dari sumbernya dapat menjadi gaya hidup permanen, bukan sekadar kewajiban saat ada pemantauan.
Penilaian kepatuhan warga ini dicatat secara rutin oleh Kader Surabaya Hebat (KSH) berkolaborasi dengan Satgas Kali Tebu Lestari. Mereka turun langsung memantau praktik pengelolaan sampah di setiap rumah tangga yang diwajibkan memilah sampah menjadi tiga kategori.
Untuk sampah organik, langsung dimasukkan ke fasilitas pengomposan lingkungan seperti sumur kompos, tong komposter, dan Lahsamor. Kemudian, material bernilai ekonomi seperti botol plastik, kardus, dan kertas dikumpulkan untuk disetorkan ke bank sampah. Selanjutnya, sampah residu ditempatkan di tong sampah khusus untuk nantinya diangkut oleh petugas ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Wati, salah satu warga RW 13 Simokerto yang menerima penghargaan, mengaku bahwa program pemilahan sampah ini telah mengubah rutinitas harian di rumahnya.
"Awalnya memang perlu membiasakan diri untuk memisahkan sampah, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekarang kalau ada sampah organik langsung kami pisahkan ke komposter, sementara yang bernilai dikumpulkan untuk bank sampah. Adanya reward ini membuat kami merasa usaha kecil yang dilakukan setiap hari ternyata dihargai,” ungkap Wati.
Baca juga:
Tekan Timbulan Sampah TPA Benowo, Eri Instruksikan ASN Surabaya Pilah Sampah dari Rumah
Sementara itu, Gianik selaku Kader Surabaya Hebat (KSH) RW 13 Simokerto menjelaskan bahwa esensi pemantauan ini bukan sekadar melihat warga memilah sampah, tetapi memastikan alur pengelolaan sampah tersebut berjalan tepat sasaran.
“Selama empat minggu kami rutin memantau dan mencatat. Hasilnya, sudah banyak warga yang mulai tertib memilah. Harapannya kebiasaan ini terus berjalan meski masa pemantauan dan pemberian reward sudah selesai, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPS semakin sedikit,” jelas Gianik.
Praktik baik yang mulai membudaya di RW 13 Simokerto ini membuktikan bahwa masyarakat memiliki peran paling vital dalam menekan timbulan sampah yang bermuara di TPS hingga Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Baca juga:
BPJS Ketenagakerjaan Karimunjawa Perluas Perlindungan Pekerja BPU
Dengan sistem pengelolaan yang mandiri di tingkat rumah tangga, hanya sampah residu yang benar-benar perlu diangkut oleh petugas kebersihan kota.
Lebih jauh, sinergi antara warga, KSH, dan Satgas Kali Tebu Lestari ini diharapkan mampu menjadi benteng utama dalam mencegah sampah terbuang sembarangan ke saluran air, sehingga mendukung terciptanya lingkungan permukiman yang bersih dan sungai yang lestari di Surabaya.