Pixel Code jatimnow.com

Empat Kali Lebih Menular dari HIV, Pakar Ingatkan Bahaya Hepatitis B Tanpa Gejala

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Dadang Kurnia
Anak terserang Hepatitis B (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Anak terserang Hepatitis B (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com - Pakar kesehatan ibu dan anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Dewi Setyowati menegaskan bahwa bayi yang lahir dari ibu berstatus positif hepatitis B wajib mendapatkan perlindungan ganda sesaat setelah proses persalinan.

Langkah ini bersifat mutlak karena infeksi hepatitis B hingga detik ini belum memiliki obat yang mampu menyembuhkan secara total, melainkan hanya sebatas menekan replikasi virus di dalam tubuh.

"Selain imunisasi wajib dasar Hepatitis 0 (HB0) yang diberikan pada usia 0-7 hari, bayi juga langsung memperoleh suntikan tambahan berupa Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG). Penambahan imunoglobulin bertujuan agar imun bayi semakin cepat mengenali virus. Perlindungan ganda ini menjadi langkah krusial agar generasi berikutnya memiliki kualitas hidup yang optimal," urai Dewi, Minggu (2/8/2026).

Vaksinasi HB0 pada minggu pertama kehidupan bayi tersebut dinilai sangat efektif, dengan tingkat perlindungan dari virus mencapai 90 persen.

Guna mengantisipasi penularan sebelum persalinan, pemerintah sebenarnya telah menyediakan program deteksi dini secara gratis di seluruh puskesmas melalui triple eliminasi. Program ini diwajibkan bagi calon pengantin dan ibu hamil.

Melalui skrining triple eliminasi, tenaga medis dapat mendeteksi dini tiga infeksi sekaligus: hepatitis B, HIV, dan Sifilis.

"Jika calon ibu terdeteksi positif, puskesmas akan langsung berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk menyiapkan langkah perlindungan lanjutan bagi sang bayi saat lahir nanti," terangnya.

Baca juga:
Cara Optimalkan Sistem Imun Anak untuk Mengurangi Risiko Terjangkit Hepatitis

Tantangan terberat di lapangan saat ini adalah rendahnya literasi masyarakat terkait ancaman hepatitis B. Dewi membeberkan fakta medis bahwa pada fase awal, infeksi virus ini kerap tidak memunculkan gejala (asimptomatis), namun sifatnya empat kali lebih menular dibandingkan virus HIV.

Banyak pasien yang baru menyadari dirinya terinfeksi ketika kondisi hati sudah parah dan memunculkan gejala penyakit kuning.

Minimnya literasi ini melahirkan persoalan baru berupa stigma sosial yang masif. Ketidaktahuan mengenai cara penularan membuat penyandang hepatitis B kerap dikucilkan. Di sisi lain, intervensi dan penolakan dari keluarga besar sering kali memicu keengganan seorang ibu untuk memvaksinasi bayinya.

Baca juga:
Moms, Yuk Kenali Ciri-ciri dan Gejala Hepatitis Akut Misterius

"Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang didengar oleh warga sekitar," tegas dosen Prodi Kebidanan FK Unair tersebut.

Menutup penjelasannya, Dewi mengimbau agar fasilitas skrining gratis dari pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa bayang-bayang ketakutan.

"Masyarakat tidak perlu takut untuk skrining dan vaksinasi. Semakin cepat status kesehatan diketahui, semakin cepat pula penanganannya. Kesadaran dan dukungan keluarga adalah garda terdepan menuju target Zero Hepatitis 2030," pungkasnya.