jatimnow.com - Setelah sekitar sebulan dilanda krisis air bersih akibat kemarau panjang, warga Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, Lamongan, akhirnya menerima bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Lamongan, Selasa (28/7/2026).
Sebanyak 25 ribu liter air bersih didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga yang selama beberapa pekan terakhir kesulitan mendapatkan pasokan air karena tidak adanya hujan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, penyaluran air bersih merupakan langkah darurat untuk mengatasi dampak kekeringan yang mulai meluas di sejumlah wilayah. Pemkab akan terus melakukan dropping air bersih hingga Oktober 2026 atau selama masih dibutuhkan masyarakat.
“Ini merupakan hari pertama BPBD mengirimkan bantuan air bersih yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kita siapkan armada tangki air dan akan terus bersiaga hingga Oktober,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes.
Selain penanganan darurat, Pemkab Lamongan juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui rencana perluasan jaringan perpipaan PAM Mojolagres menuju wilayah Sarirejo. Namun, rencana tersebut masih menunggu hasil kajian, termasuk kebutuhan investasi.
“Sementara ini kita terus memenuhi kebutuhan masyarakat melalui dropping air bersih. Untuk jaringan perpipaan menuju Sarirejo masih kita hitung nilai investasinya,” jelasnya.
Baca juga:
Pemkab Lamongan Bentengi Pemuda dari Bahaya Narkoba
Dalam kunjungan tersebut, Pak Yes juga menawarkan solusi jangka menengah berupa pengerukan Waduk Walongkopo. Gagasan itu muncul setelah berdialog dengan pemerintah desa dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tampungan air saat musim hujan.
Menurutnya, program pengerukan sebenarnya telah direncanakan sejak tahun lalu, tetapi tertunda karena volume air waduk masih tinggi.
“Besok akan segera kita survei. Waduk ini menjadi satu-satunya sumber air yang diharapkan masyarakat saat musim kemarau,” katanya.
Baca juga:
Alami Pendangkalan, Pemkab Lamongan Keruk Waduk Gondong untuk Pertanian
Salah seorang warga, Zaimah, mengaku krisis air bersih telah berlangsung sekitar satu bulan. Selama ini warga masih mengandalkan air telaga yang debitnya terus menyusut sehingga penggunaannya harus dihemat.
Jika telaga mengering, kata dia, warga terpaksa membeli air bersih dari tangki swasta dengan harga Rp200.000 per tangki. Satu tangki hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama satu hingga dua pekan, tergantung jumlah anggota keluarga.
“Sudah satu bulan hampir tidak ada hujan, Mas. Sumber air telaga masih ada tapi tidak cukup, harus dihemat supaya tidak habis. Kalau air telaga benar-benar kering, warga biasanya harus beli air tangki seharga Rp200.000 per tangki. Itu cuma bertahan 1 sampai 2 minggu saja tergantung jumlah anggota keluarga,” keluhnya.