jatimnow.com - Puluhan jurnalis di Malang melakukan aksi demonstrasi mengecam ucapan 'Londo Ireng' dari Presiden Prabowo Subianto. Aksi ini dilakukan di kawasan depan Bundaran Tugu, Senin (27/7/2026) pagi.
Para jurnalis mengawali aksi berjalan mundur menandakan mundurnya kebebasan pers di Indonesia. Tak hanya berjalan mundur, mereka membawa poster kecaman pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Poster bertuliskan 'Kami Ireng Bukan Londo', 'Kritik adalah Hak Bukan Londo Ireng', hingga gambar pahlawan nasional yang merupakan jurnalis juga dibawa oleh para jurnalis.
Mereka juga melakukan aksi menutup mulut dengan masker hitam yang menyimbolkan hak bersuara yang dibungkam oleh penguasa. Selama aksi berlangsung terlihat penjagaan dari aparat keamanan berpakai non-dinas. Aksi ini tak berjalan lama, sekitar 30 menit mereka langsung membubarkan diri.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang Raya Benni Indo menyatakan, aksi pernyataan ini sebagai kecaman ucapan dari Presiden Prabowo Subianto yang dinilai membuat gaduh, dan melecehkan profesi jurnalis. Ucapan 'Londo Ireng' juga disebutnya bagian dari perundungan atau bullying secara terbuka, yang tak patut diucapkan seorang pemimpin.
"Ucapannya sudah sangat menyinggung dan itu sangat tidak bisa dibiarkan begitu saja. Masyarakat punya hak untuk mendapatkan informasi yang benar. Alih-alih memberikan informasi yang benar, Presiden justru membawa propaganda yang menyudutkan satu atau dua belah pihak. Ini yang kami desak," ujarnya.
Baca juga:
Mobil Dilarang Lewat Bendungan Lahor Malang Mulai 1 Agustus
Menurutnya, sebagian pahlawan nasional seperti WR. Supratman, pencipta lagu kebangsaan 'Indonesia Raya', Adam Malik, hingga Roehanna Koeddoes pejuang perempuan asal Minangkabau, justru berangkat dari seorang jurnalis
"Jadi ucapan Prabowo yang menuduh Londo Ireng itu adalah jurnalis, kami bisa artikan bahwa itu juga dituduhkan kepada WR Supratman. Ini sangat tidak baik dan tidak punya empati, dan kami mendesak Presiden untuk meminta maaf," imbuhnya.
Baca juga:
Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP
Ia pun menyinggung ucapan Presiden Prabowo Subianto yang menuduh jurnalis merupakan salah satu antek asing merupakan suatu hal tak berdasar. Apalagi di beberapa kesempatan pemerintah mengatakan, kesulitan ekonomi Indonesia disebabkan faktor global.
"Di satu sisi, juga mengatakan kita antek-antek asing. Ini kontradiktif gitu loh. Pemerintah selalu mencari hal-hal yang menurut mereka benar tetapi tidak mengedukasi masyarakat. Seharusnya pemerintah bisa menjelaskan secara transparan terhadap kebijakan-kebijakan, alih-alih menuduh salah satu pihak sebagai antek-antek asing," pungkasnya.