jatimnow.com - Pumpkin Pistachio tersusun rapi di balik etalase kaca. Warna hijaunya yang lembut mencuri perhatian, berdampingan dengan cromboloni dan deretan pastry lain yang tampak baru keluar dari oven. Pemandangan itu menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk ke Anita Family di Jalan Wijaya Kusuma, Ketabang, Surabaya.
Sulit membayangkan bakery berkonsep modern ini berawal dari sebuah dapur sederhana di Kalianget, Sumenep, Madura.
Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu bakery legendaris di Surabaya, pasangan suami istri Ani dan Taufik lebih dulu mencari nafkah dengan berjualan gule kambing. Namun, di balik kesibukan itu, Ani memiliki keahlian lain yang kelak mengubah perjalanan hidup keluarganya, membuat roti. Kini Anita tumbuh menjadi merek yang bertahan lebih dari empat dekade.
Semuanya bermula dari keberanian menerima satu pesanan roti. Dari satu pesanan itu datang pesanan berikutnya, lalu puluhan, hingga akhirnya ratusan. Melihat peluang tersebut, pasangan ini terus mengembangkan usahanya.
Kala itu, Taufik turun langsung mengedarkan roti buatannya ke toko-toko. Dari satu toko ke toko lainnya, ia memperkenalkan produk yang dibuat di rumah dengan harapan bisa diterima pasar. Langkah sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Jaringan pelanggan semakin luas, dan usaha rumahan tersebut berkembang menjadi bakery yang dikenal masyarakat.
Nama Istana Anita kemudian melekat selama bertahun-tahun sebelum akhirnya pada 2020 resmi bertransformasi menjadi Anita Family Bakery, menandai babak baru perjalanan bisnis keluarga tersebut.
Kini, di usia 43 tahun, Anita Family Bakery justru tampil semakin muda. Logo baru dengan tipografi yang hangat, dominasi warna merah bata dan krem, hingga konsep gerai yang lebih modern menjadi bagian dari upaya mereka menjangkau generasi baru tanpa meninggalkan akar yang telah dibangun sejak awal.
Area duduk yang nyaman di Artisan Bakery menjadi ruang bagi pelanggan menikmati roti sambil berbincang atau sekadar bersantai. Namun, perubahan tampilan hanyalah kulit luar. Di balik itu, Anita Family Bakery tetap mempertahankan satu prinsip yang tak pernah berubah: rasa.
CEO Anita Family Bakery, Nizar Yahya, menyebut konsistensi menjadi alasan utama perusahaan mampu bertahan hingga sekarang.
“Yang menyebabkan kita bisa bertahan 43 tahun adalah konsistensi di taste. Rasa yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Kami menggunakan bahan baku pilihan. Kalaupun ada perubahan, kami pastikan berubah ke level yang lebih baik,” ujar Nizar, dikutip dari akun Instagram resmi Anita Family Bakery.
Baginya, kualitas premium tidak selalu harus dibarengi harga yang mahal. Karena itu, Anita Family Bakery mengusung konsep affordable luxury.
“Kami mengusung konsep affordable luxury. Jadi secara harga kami under, tetapi secara kualitas kami luxury,” katanya.
Di atas semua itu, ada satu nilai yang menurut Nizar menjadi fondasi bisnis keluarga tersebut.
“Kejujuran adalah nilai yang harus kita bangun. Dari back office sampai ke konsumen, kita harus jujur,” tegasnya.
Filosofi itu tampaknya dirasakan pelanggan. Salah satunya Rina (29), yang mengaku sudah menjadi langganan lama, terlebih sejak gerai baru tersebut dibuka.
“Saya suka karena rotinya lembut dan rasanya enak. Harganya juga masih cukup terjangkau dibanding kualitasnya. Jadi kalau kebetulan lewat sini, hampir selalu mampir,” akunya.
Pengunjung lain, Dimas (34), juga menilai Anita Family Bakery berhasil mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khasnya.
“Sekarang bakery baru banyak sekali. Tapi menurut saya Anita tetap punya rasa yang konsisten. Tempatnya juga sekarang lebih nyaman, jadi bukan cuma beli roti, tapi sekalian bisa duduk santai,” ujarnya.
Di tengah menjamurnya bakery dengan konsep kekinian, Anita Family Bakery memilih tidak sekadar menjual nostalgia. Mereka terus berinovasi lewat produk, tampilan toko, hingga identitas merek. Namun, resep yang diwariskan sejak sepotong roti pertama dibuat di Kalianget tetap dijaga.
Mungkin itulah yang membuat Anita Family Bakery tidak sekadar bertahan selama 43 tahun. Dari dapur sederhana milik pasangan penjual gule di Madura, bisnis keluarga itu tumbuh menjadi nama besar yang terus relevan, membuktikan bahwa perubahan bisa berjalan beriringan dengan konsistensi.