Pixel Code jatimnow.com

Digitalisasi Pelabuhan, Memutus Sumbatan Logistik Nonpetikemas

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Ali Masduki
Pelabuhan nonpetikemas merupakan pintu masuk utama untuk komoditas dasar penopang hajat hidup orang banyak. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Pelabuhan nonpetikemas merupakan pintu masuk utama untuk komoditas dasar penopang hajat hidup orang banyak. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Urusan logistik maritim di Indonesia selama ini kerap menjadi beban tersembunyi bagi isi dompet masyarakat. Di negara kepulauan ini, cerita lama soal lambatnya bongkar muat, antrean kapal berminggu-minggu, hingga carut-marut birokrasi manual di pelabuhan ujung-ujungnya dibayar mahal oleh konsumen. Harga kebutuhan pokok di daerah melonjak dan rantai pasok industri sering tersendat.

Kondisi paling menantang biasanya terjadi di pelabuhan nonpetikemas, pintu masuk utama untuk komoditas dasar penopang hajat hidup orang banyak seperti pangan, pupuk, semen, batubara, hingga garam.

Namun, laporan lapangan sepanjang triwulan pertama 2026 menunjukkan adanya dinamika baru. PTP Nonpetikemas mulai merombak pola kerja lama di sejumlah pelabuhan strategis nasional melalui digitalisasi pelabuhan dan modernisasi terminal fisik. Langkah ini mulai memangkas sumbatan distribusi yang selama ini membebani ongkos logistik domestik.

Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menyebutkan bahwa kunci utama memutus mata rancu masalah ini adalah konektivitas sistem.

"Integrasi sistem yang kuat antarwilayah menjadi kunci utama untuk menghilangkan hambatan distribusi dan keterlambatan pasokan kargo di Indonesia," tuturnya.

Transparansi di Balik Layar Monitor

Uji coba perubahan pola kerja ini salah satunya terlihat di Pelabuhan Ciwandan, Banten. Terminal multipurpose yang sibuk dengan bongkar muat curah kering dan general cargo ini berhasil menggenjot produktivitasnya melampaui target korporasi di awal tahun ini.

Menariknya, lonjakan performa ini bukan karena penambahan tenaga fisik di lapangan, melainkan berkat standardisasi prosedur lewat sistem Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M). Platform digital ini menggeser koordinasi manual ke sistem satu data berbasis real-time.

Di ruang kontrol, petugas kini memantau pergerakan truk dan kapal lewat layar monitor yang memperbarui data setiap detik, menggantikan tumpukan berkas kertas dan papan tulis kapur. Efeknya langsung dirasakan para pengguna jasa pelabuhan.

Kegiatan bongkar muat komoditas gandum dari kapal MV SSI Daring II milik PT Cerestar Flour Mills yang membawa muatan sebanyak 30.354 MT saat ini berlangsung lancar di PTP Nonpetikemas Cabang Banten. (Foto: PTP Nonpetikemas for jatimnow.com)Kegiatan bongkar muat komoditas gandum dari kapal MV SSI Daring II milik PT Cerestar Flour Mills yang membawa muatan sebanyak 30.354 MT saat ini berlangsung lancar di PTP Nonpetikemas Cabang Banten. (Foto: PTP Nonpetikemas for jatimnow.com)

Dulu, mereka harus saling telepon atau kasak-kusuk di lapangan untuk memastikan posisi kapal atau progres bongkar muat. Sekarang, semua informasi tersaji transparan di dasbor digital.

“Kehadiran PTOS-M mengintegrasikan proses administrasi dan operasional lapangan dalam satu sistem yang transparan sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan terukur,” jelas Andi Purwantoro, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Banten.

Selain sistem digital, Ciwandan kini menerapkan spesialisasi dermaga. Dermaga tidak lagi dicampur aduk. Ada titik yang dikhususkan untuk curah cair, dan ada yang khusus curah kering.

Kepastian itulah yang membantu pelaku industri di darat memantau bahan baku mereka secara akurat, mengurangi risiko mandeknya produksi, sekaligus menekan biaya tumpukan inventaris gudang.

Siasat Kedalaman Laut dan Antrean Truk

Bergeser ke Kalimantan Barat, Terminal Kijing mulai mengubah peta logistik lokal sejak pengelolaannya diserahkan ke PTP Nonpetikemas pada 2022.

Sebelumnya, Kalimantan Barat menghadapi anomali. Komoditas unggulan seperti produk turunan kelapa sawit dan hasil tambang tidak bisa langsung diekspor dari sana. Karena fasilitas pelabuhan lama terbatas, barang harus dikirim dulu ke pelabuhan transit di luar pulau, baru kemudian berlayar ke pasar global. Rantai yang panjang ini otomatis menggerus daya saing produk lokal.

Terminal Kijing memutus inefisiensi itu lewat layanan direct call (pelayaran langsung). Mengandalkan kedalaman kolam pelabuhan yang mencapai -15 meter LWS, pelabuhan ini bisa membiarkan kapal raksasa berbobot hingga 100.000 DWT bersandar langsung tanpa terhambat oleh pasang surut air laut.

"Melalui layanan direct call, komoditas unggulan daerah tidak lagi bergantung pada pelabuhan transit sehingga biaya logistik dapat ditekan dan daya saing produk lokal meningkat," kata Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani. Keberadaan terminal dalam ini sekarang mulai memicu tumbuhnya kawasan industri baru di pesisir Kalbar.

Di wilayah pesisir barat Sumatra, tepatnya di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, tantangan datang dari lambatnya bongkar muat komoditas cair turunan kelapa sawit (CPO).

Dulu, truk-truk tangki harus mengantre berjam-jam di dermaga, menyisakan deretan panjang kendaraan yang mesinnya tetap menyala, karena proses pemompaan dilakukan langsung dari truk ke kapal satu per satu.

Baca juga:
Green Port PTP Nonpetikemas Prioritaskan Kesehatan Pekerja

PTP Nonpetikemas operasikan layanan drop tank perdana di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. (Foto: PTP Nonpetikemas)PTP Nonpetikemas operasikan layanan drop tank perdana di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. (Foto: PTP Nonpetikemas)

Solusinya adalah menerapkan metode Drop Tank. Muatan dari truk tangki ditampung terlebih dahulu di fasilitas transit sementara di darat, baru kemudian dipompa secara simultan ke palka kapal dengan volume besar. Truk bisa langsung pulang, dan waktu sandar (dwelling time) kapal terpangkas signifikan.

Meski mengejar kecepatan, aspek keselamatan tetap jadi taruhan. Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Bengkulu, Mochammad Choiron Yusuf, menegaskan bahwa efisiensi operasional harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan keselamatan kerja untuk mencegah risiko kebocoran minyak di perairan.

Saling Pindah Muatan di Tengah Laut

Di Jalur Pantura, Pelabuhan Cirebon menghadapi masalah berbeda: keterbatasan kedalaman alami pelabuhan. Saat harus melayani impor garam curah asal Australia untuk industri pengolahan, petugas di lapangan menggunakan metode Ship to Ship (STS).

Bongkar muat dilakukan di tengah laut yang tenang, sekitar beberapa mil dari pantai. Muatan dari kapal induk dipindahkan ke tongkang-tongkang kecil di bawah deru angin laut, sebelum dibawa menuju dermaga.

"Langkah ini kami pilih untuk memastikan distribusi komoditas curah tetap berjalan aman, lincah, dan efisien," ungkap Hari Priyatna, Branch Manager Cabang Cirebon. Selain garam, pelabuhan ini juga melayani arus batubara, semen, hingga biosolar untuk kawasan Jawa Barat.

PTP Nonpetikemas berhasil melayani bongkar impor garam curah sebanyak 14.983 ton asal Australia menggunakan metode ship to ship (STS), sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan distribusi logistik berjalan efisien, andal, dan berkelanjutan.  (Foto: PTP Nonpetikemas)PTP Nonpetikemas berhasil melayani bongkar impor garam curah sebanyak 14.983 ton asal Australia menggunakan metode ship to ship (STS), sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan distribusi logistik berjalan efisien, andal, dan berkelanjutan. (Foto: PTP Nonpetikemas)

Sementara di Kepulauan Bangka Belitung, prioritasnya adalah menjaga distribusi tambang dan ketahanan pangan. PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Pandan mengunci kerja sama dengan PT Timah Tbk untuk mempercepat rantai distribusi bijih timah di tengah fluktuasi harga global.

Tak hanya timah, pelabuhan ini juga memberlakukan jalur prioritas bagi kapal pengangkut bahan baku pupuk. Menurut Branch Manager Tanjung Pandan, Asep Mardiyana, percepatan ini krusial agar pasokan pupuk sampai di tangan para petani tepat waktu sebelum masa tanam tiba.

Jaring Debu dan Penguatan Organisasi

Baca juga:
Produktivitas Pelabuhan Ciwandan Lampaui Target Triwulan I 2026

Di sisi lain, modernisasi ini menyisakan tantangan lingkungan di sekitar pelabuhan yang bersentuhan langsung dengan pemukiman.

Di Pelabuhan Cirebon, misalnya, masalah serpihan debu batubara dan garam diakali dengan memasang jaring pelindung (dust net) yang tinggi di sepanjang area penumpukan guna meminimalkan pencemaran udara bagi warga sekitar.

Perubahan di internal organisasi juga menyasar kesiapan sumber daya manusianya. Lewat program Talenta HiPo (High Potential), para pekerja muda di pelabuhan kini mulai digembleng untuk menguasai analisis data digital, manajemen risiko, hingga konsep pelabuhan hijau (green port).

Secara tata kelola, langkah pembenahan administrasi ini mendapat apresiasi internasional. Laporan tahunan perusahaan bertajuk Driving Growth Through Service Excellent meraih Gold Award dan masuk daftar “Top 100 Worldwide” dalam ajang Vision Awards oleh League of American Communications Professionals (LACP).

Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, melihat penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan atas transparansi bisnis mereka.

“Transformasi bisnis harus berjalan seimbang dengan transparansi dan prinsip keberlanjutan,” cetusnya.

Catatan dari Dermaga

Perbaikan di pelabuhan rakyat atau nonpetikemas memang jarang mendapat panggung megah atau menjadi perhatian utama di ruang publik jika dibandingkan dengan proyek-proyek infrastruktur transportasi penumpang berskala masif.

Di banyak pelabuhan nonpetikemas, perubahan itu mungkin belum terlihat mewah. Tidak ada gedung futuristik atau seremoni besar setiap hari. Namun di dermaga tempat pupuk, semen, garam, dan pangan dibongkar di bawah terik matahari, ritme distribusi mulai bergerak lebih teratur.

Bagi industri, itu berarti kepastian pasokan bahan baku. Bagi masyarakat luas, hal ini bisa berarti harga kebutuhan pokok yang tidak lagi melonjak tinggi hanya karena kapal terlambat merapat.