Pixel Code jatimnow.com

80 Persen Anak Indonesia Masih Defisit Protein Hewani

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Ali Masduki
Pakar gizi masyarakat FKM UI, Profesor Sandra Fikawati, dalam acara Media Gathering 18 Tahun JAPFA for Kids di Surabaya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Pakar gizi masyarakat FKM UI, Profesor Sandra Fikawati, dalam acara Media Gathering 18 Tahun JAPFA for Kids di Surabaya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Lebih dari 80 persen anak dan remaja di Indonesia masih mengalami defisit protein hewani. Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya persoalan malnutrisi pada anak, mulai dari stunting hingga gangguan perkembangan otak.

Pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Profesor Sandra Fikawati, mengatakan konsumsi masyarakat Indonesia masih didominasi protein nabati dibanding protein hewani.

“Data konsumsi pangan menunjukkan masyarakat Indonesia mengonsumsi protein nabati sekitar 65,7 persen, sedangkan protein hewani hanya 34,3 persen,” kata Sandra dalam acara Media Gathering 18 Tahun JAPFA for Kids di Surabaya, Selasa (19/5/2026).

Prof. Sandra menjelaskan malnutrisi pada anak tidak hanya berupa kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi seperti obesitas. Pada kasus kekurangan gizi, masalah yang paling banyak ditemukan meliputi stunting, wasting atau tubuh kurus akibat kekurangan gizi akut, dan underweight.

Selain itu, banyak anak mengalami kekurangan zat gizi mikro seperti anemia defisiensi besi, kekurangan vitamin A, yodium, hingga zinc.

Menurut dia, stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia meski prevalensinya mulai menurun. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia, angka stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Namun sejumlah daerah masih mencatat angka tinggi, seperti Nusa Tenggara Timur sebesar 37 persen, Sulawesi Barat 35,4 persen, dan Papua Barat Daya 30,5 persen.

Sandra mengatakan stunting tidak selalu disebabkan anak kekurangan makanan, melainkan kualitas gizi yang tidak seimbang.

“Banyak anak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat seperti nasi atau mi, tetapi minim protein berkualitas dan mikronutrien penting,” tuturnya.

Kondisi itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, harga protein hewani yang dianggap mahal, kurangnya edukasi gizi, hingga distribusi pangan bergizi yang belum merata.

Baca juga:
Cargill Perkuat Gizi dan Ekonomi Warga di Jawa Timur

Padahal protein hewani memiliki kandungan asam amino esensial yang lebih lengkap dibanding sebagian besar protein nabati. Kandungan tersebut penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Kekurangan protein hewani dapat memicu gangguan pertumbuhan, daya tahan tubuh lemah, hingga penurunan kemampuan belajar dan konsentrasi.

“Protein hewani mengandung zat penting seperti zat besi, vitamin B12, zinc, dan omega-3 yang mendukung perkembangan saraf dan kecerdasan anak,” kata Prof. Sandra.

Ia menambahkan dampak malnutrisi tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Saat dewasa, anak dengan riwayat kekurangan gizi berisiko memiliki produktivitas kerja rendah, pendapatan lebih kecil, serta lebih rentan terkena penyakit metabolik.

Meski Indonesia memiliki sumber protein hewani yang beragam seperti ikan, telur, ayam, dan susu, konsumsi masyarakat masih tergolong rendah.

Baca juga:
Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA 2026

Rata-rata konsumsi protein hewani nasional pada 2020 hanya sekitar 21,29 gram per kapita per hari. Konsumsi susu juga masih rendah, yakni sekitar 16 liter per kapita per tahun, jauh di bawah negara maju yang mencapai lebih dari 200 liter per tahun.

Sandra mengatakan perbaikan pola konsumsi protein hewani perlu dilakukan sejak usia dini melalui edukasi dan intervensi berkelanjutan.

Beberapa program yang didorong pemerintah dan organisasi kesehatan antara lain peningkatan konsumsi telur dan ikan, pemberian makanan tambahan bergizi, edukasi MPASI, hingga kampanye makan protein hewani setiap hari.

“Dengan pemenuhan protein hewani yang cukup sejak dini, pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak dapat berlangsung lebih optimal,” tandasnya.