Pixel Code jatimnow.com

Cegah Depresi Pelajar, Psikolog Desak Sekolah Rombak Total Sistem Well-being

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Dadang Kurnia
Kesehatan mental (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Kesehatan mental (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Masalah kesehatan mental di kalangan remaja kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Di kawasan Asia Tenggara, tantangan ini semakin rumit akibat tingginya stigma, terbatasnya akses layanan, hingga maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan.

Merespons fenomena krisis mental yang kian mengkhawatirkan tersebut, psikolog Universitas Airlangga (Unair), Dr. Wiwin Hendriani, menyoroti akar permasalahan gagalnya program kesejahteraan (well-being) di lingkungan sekolah yang justru berdampak buruk dalam jangka panjang.

“Kesejahteraan dalam pendidikan bukanlah isu sampingan, ini adalah isu sentral. Di Asia Tenggara, kita menghadapi tantangan besar bukan hanya soal prevalensi, tetapi juga soal visibilitas dan akses. Masih banyak stigma yang membuat perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) sangat rendah,” ungkap Wiwin, Rabu (13/5/2026).

Dalam paparannya, Wiwin membeberkan data global yang sangat mengkhawatirkan. Saat ini, tercatat 1 dari 7 remaja di seluruh dunia mengalami gangguan mental. Ironisnya, kawasan Asia Pasifik menjadi episentrum masalah dengan menampung 60 persen dari total populasi remaja dunia yang terdampak.

Bahkan, pada skala global, bunuh diri kini telah bertengger di peringkat tiga hingga lima besar sebagai penyebab utama kematian pada kelompok usia remaja. Angka ini menjadi alarm keras bagi institusi pendidikan untuk segera membenahi sistem perlindungan mental siswanya.

Lebih lanjut, Wiwin mengkritik tajam implementasi program kesehatan mental di institusi pendidikan. Menurutnya, akar masalah di banyak sekolah sejatinya bukanlah ketiadaan program, melainkan kesalahan fatal dalam desain dan eksekusinya.

Baca juga:
Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying

Sering kali, program well-being hanya diperlakukan sebagai program tambahan (add-on) yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Pelaksanaannya pun kerap hanya bergantung pada figur tertentu, seperti satu orang guru bimbingan konseling (BK) atau penggerak tertentu, tanpa tertanam kuat dalam rutinitas harian sekolah.

Kondisi inilah yang menciptakan celah kritis antara tingginya kesadaran teoretis tentang kesehatan mental dengan praktik nyata di lapangan.

"Kita harus berhenti berpikir dalam kerangka intervensi yang terisolasi dan mulai berpikir dalam kerangka ekosistem. Jika kita ingin inisiatif kesejahteraan ini bertahan lama, pendekatannya harus terintegrasi di semua level, mulai dari ruang kelas hingga kebijakan sekolah," tegas Kaprodi Magister Psikologi Unair tersebut.

Baca juga:
Umsura Kukuhkan Guru Besar Keperawatan, Usung Konsep Holistik

Sebagai jalan keluar, ia mendorong pihak sekolah dan para pemangku kebijakan pendidikan untuk merombak total pendekatan mereka. Sekolah harus mulai membangun pendekatan yang terukur, dapat beradaptasi secara dinamis, dan responsif terhadap konteks budaya lokal.

Kesuksesan program well-being yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui sinergi antara kualitas program, etika, dan konsistensi penerapannya dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.

Ke depan, sekolah diharapkan tidak hanya berlomba-lomba mengejar keunggulan dan prestasi akademik semata, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi ruang aman yang secara utuh mendukung tumbuh kembang mental anak didiknya.