Pixel Code jatimnow.com

Founder Moell Tempuh 15 Jam ke Pulau Mamburit Demi Kesehatan Anak

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Ali Masduki
Founder Moell, Uung Victoria Finky, berinteraksi bersama warga dan anak-anak saat kegiatan Moell On Mission di Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, April 2026. (Foto: Moell for jatimnow.com)
Founder Moell, Uung Victoria Finky, berinteraksi bersama warga dan anak-anak saat kegiatan Moell On Mission di Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, April 2026. (Foto: Moell for jatimnow.com)

jatimnow.com - Ketimpangan akses kesehatan bagi anak-anak di wilayah kepulauan masih menjadi persoalan pelik. Kondisi ini yang memicu Uung Victoria Finky, Founder Moell, menempuh perjalanan panjang selama 15 jam dari Surabaya menuju Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura.

Dalam aksi sosial bertajuk Moell On Mission pada 22–26 April 2026, Uung mendapati kenyataan bahwa fasilitas kesehatan bagi masyarakat pesisir di sana sangat jauh dari kata ideal.

Perjalanan yang melibatkan jalur darat hingga penyeberangan antarpulau tersebut membuka mata tim mengenai tantangan harian warga lokal.

“Kehadiran kami bertujuan menyerap langsung kebutuhan dasar warga. Begitu sampai di Mamburit, terlihat jelas bahwa akses medis dan edukasi masih menjadi kendala utama bagi orang tua di sana,” tutur Uung Victoria Finky.

Sejumlah anak di Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, menunjukkan paket yang diterima dalam kegiatan Moell On Mission, April 2026. Program tersebut menghadirkan edukasi kesehatan sekaligus dukungan kebutuhan anak di wilayah dengan akses terbatas. (Foto: Moell for jatimnow.com)Sejumlah anak di Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, menunjukkan paket yang diterima dalam kegiatan Moell On Mission, April 2026. Program tersebut menghadirkan edukasi kesehatan sekaligus dukungan kebutuhan anak di wilayah dengan akses terbatas. (Foto: Moell for jatimnow.com)

Data lapangan hasil kolaborasi Moell bersama CHeNECE Universitas Airlangga (Unair) pada 23-24 April 2026 mengungkap kondisi mengkhawatirkan. Dari populasi anak usia 0-24 bulan, sebanyak 22,73 persen atau 5 anak teridentifikasi stunting, sementara satu anak lainnya (4,55 persen) masuk kategori severely stunting.

Selain masalah tumbuh kembang, gangguan kulit akibat lingkungan pesisir dan paparan matahari ekstrem menjadi keluhan yang paling jamak ditemui. Sayangnya, keterbatasan jarak membuat banyak warga memilih pengobatan mandiri seadanya.

Bidan desa setempat, Syamsiyah, mengonfirmasi bahwa sulitnya menjangkau tenaga medis membuat perawatan anak di rumah seringkali tidak tuntas.

Kondisi fasilitas kesehatan di Pulau Mamburit kian memprihatinkan. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang selama ini menjadi tumpuan warga ternyata berdiri di atas lahan pribadi dan dibangun secara swadaya dari iuran masyarakat.

Baca juga:
Uung Victoria Finky: Perawatan Rambut Anak Tak Harus di Salon Konvensional

Di gedung sederhana tersebut, petugas medis hanya dibekali satu ranjang pemeriksaan dengan stok obat-obatan yang sangat terbatas.

"Pasien yang butuh rujukan harus dilarikan keluar pulau. Keberangkatan kapal pun sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan transportasi," ungkap perawat Poskesdes Mamburit, Hj Asharul Fauli.

Founder Moell, Uung Victoria Finky, menempuh 15 jam perjalanan ke Pulau Mamburit untuk merevitalisasi Poskesdes dan menangani masalah kesehatan anak. (Foto: Moell for jatimnow.com)Founder Moell, Uung Victoria Finky, menempuh 15 jam perjalanan ke Pulau Mamburit untuk merevitalisasi Poskesdes dan menangani masalah kesehatan anak. (Foto: Moell for jatimnow.com)

Melihat urgensi tersebut, Moell memutuskan melakukan revitalisasi total terhadap gedung Poskesdes. Pembenahan mencakup pembaruan struktur bangunan, penyediaan fasilitas pemeriksaan yang lebih layak, hingga bantuan suplai obat-obatan guna memperkuat layanan kesehatan primer.

Baca juga:
Moell On Mission Hadirkan Akses Kesehatan Layak di Kepulauan Kangean

Di sela kunjungan rumah ke rumah (door-to-door), dr. Ikhsanuddin Qothi yang ikut dalam rombongan menyebut bahwa fasilitas fisik saja tidak cukup. Menurutnya, pemahaman orang tua dalam mendeteksi gejala penyakit sejak dini merupakan benteng pertama kesehatan anak.

“Masalah di pelosok bukan cuma soal gedung, melainkan pemahaman masyarakat. Pencegahan penyakit bisa lebih efektif jika orang tua teredukasi dengan benar,” kata dr. Ikhsanuddin.

Bagi Moell, aksi turun ke lapangan ini menjadi penegasan bahwa peran sektor swasta harus melampaui sekadar penjualan produk. Uung menegaskan, kesehatan anak adalah hak mendasar yang seharusnya bisa dinikmati secara merata, tanpa terhalang sekat geografis.

"Perjalanan ini memperkuat komitmen kami. Mamburit bukan sekadar titik bantuan, tapi pengingat bahwa pemerataan akses kesehatan di Indonesia masih butuh kerja keras banyak pihak," tutup Uung.

Tampil Solid, Persid Jember Kalahkan Persemay Maybrat
Olah Raga

Tampil Solid, Persid Jember Kalahkan Persemay Maybrat

Kemenangan di Stadion JSG ini tidak hanya memperpanjang napas Persid Jember di kompetisi kasta keempat sepak bola Indonesia, tetapi juga menjadi modal motivasi berharga bagi seluruh tim untuk menjaga asa lolos ke fase berikutnya.