Pixel Code jatimnow.com

Retorika Kabur Saja dan Krisis Etika Kepemimpinan

Editor : Ali Masduki  
Retorika “kabur saja” dinilai mencerminkan krisis etika kepemimpinan dan berpotensi memicu brain drain di Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Retorika “kabur saja” dinilai mencerminkan krisis etika kepemimpinan dan berpotensi memicu brain drain di Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pernyataan Prabowo Subianto yang mempersilakan “orang pintar” untuk “kabur saja, mungkin ke Yaman” bukan sekadar seloroh politik. Ucapan tersebut mencerminkan retorika kekuasaan yang mengalami distorsi: dari merangkul menjadi menyindir, dari memotivasi menjadi mengusir secara simbolik.

Dalam politik, kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan penentu arah. Arah yang tersirat dari pernyataan itu terasa problematik.

Pertama, pernyataan tersebut menunjukkan kegagalan memahami psikologi generasi produktif. Fenomena “kabur aja dulu” bukan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa, melainkan ekspresi kegelisahan atas stagnasi struktural ditandai lapangan kerja yang tidak sebanding dengan kualitas pendidikan, meritokrasi yang tersendat, serta ketidakpastian masa depan.

Alih-alih dibaca sebagai kritik sosial, fenomena tersebut justru dipelintir menjadi sikap tidak nasionalis.

Kedua, retorika “silakan kabur” memperlihatkan pergeseran etika kepemimpinan. Seorang presiden semestinya menjadi pusat harapan, bukan produsen sinisme.

Kepemimpinan modern dituntut membangun sense of belonging, bukan menciptakan jarak psikologis antara negara dan warga, terutama kelompok terdidik yang menjadi modal utama pembangunan.

Ketiga, dalam perspektif kebijakan publik, pernyataan tersebut berpotensi memperkuat fenomena brain drain. Ketika negara tidak memberi rasa dihargai, talenta terbaik akan mencari ekosistem yang lebih apresiatif.

Sejarah global menunjukkan migrasi intelektual kerap dipicu bukan semata faktor ekonomi, tetapi juga minimnya pengakuan dan ruang untuk berkembang.

Negara seperti India dan Tiongkok belajar dari pengalaman tersebut. Indonesia justru berisiko mengulang kesalahan yang sama jika abai.

Baca juga:
Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Keempat, penyebutan negara tujuan seperti “Yaman” sebagai simbol ironi juga menimbulkan persoalan. Cara itu mereduksi kompleksitas geopolitik menjadi bahan retorika.

Dalam komunikasi publik, simplifikasi semacam ini tidak sensitif dan berpotensi menurunkan kualitas diskursus kebangsaan.

Pada titik ini, perlu ditegaskan: kritik terhadap pesimisme publik memang penting. Namun kritik yang baik tidak menafikan kegelisahan, melainkan mengolahnya menjadi energi perubahan. Retorika yang meremehkan justru memperlebar jurang ketidakpercayaan.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang belum tersedia adalah ekosistem yang membuat mereka ingin tinggal, berkarya, dan berkontribusi. Persoalannya bukan pada mereka yang ingin “kabur”, melainkan pada kondisi yang membuat pilihan tersebut terasa lebih rasional daripada bertahan.

Baca juga:
Sapi Gemoy Hewan Kurban Presiden Prabowo di Tulungagung Bernama Fajar

Kepemimpinan sejati tidak mengatakan “silakan pergi”, tetapi bertanya: mengapa mereka ingin pergi, dan apa yang harus diperbaiki agar mereka tetap tinggal?

Jika pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius, suatu saat kita tidak perlu lagi mempersilakan siapa pun untuk pergi. Mereka akan melangkah dengan sendirinya.

Dan ketika hal itu terjadi, penyesalan tak lagi berguna. Bayangkan talenta terbaik memilih pergi ke luar negeri, sementara yang tersisa adalah mereka yang, meski cerdas, kehilangan arah dan jati diri.

Penulis: Ulul Albab
Akademisi Unitomo Surabaya

Dolar AS Tembus Rp18.038, Rupiah Kian Tertekan
Ekonomi

Dolar AS Tembus Rp18.038, Rupiah Kian Tertekan

Dari grafik pergerakan kurs, nilai tukar USD terhadap rupiah mengalami kenaikan bertahap sejak awal Mei 2026 dari kisaran Rp17.300 hingga akhirnya menembus level Rp18.000 pada awal Juni.