jatimnow.com - Hari Raya Idulfitri sering kali terjebak dalam euforia pakaian baru dan hidangan mewah.
Padahal, sejarah mencatat bahwa penetapan Idulfitri oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah revolusi budaya untuk mengganti tradisi pesta pora zaman jahiliyah menjadi momentum syukur yang terukur.
Umat Islam pertama kali merayakan Idulfitri pada tahun 2 Hijriyah atau 624 Masehi. Perayaan perdana ini bertepatan dengan usainya Perang Badar.
Alhasil, kaum muslimin saat itu merasakan dua kemenangan sekaligus, yaitu menaklukkan hawa nafsu selama sebulan penuh dan memenangkan pertempuran fisik demi kejayaan Islam.
Dalam kitab Risalah fil Aqaid, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengisahkan bahwa sebelum Islam datang ke Madinah, masyarakat setempat rutin merayakan dua hari besar asal Persia kuno, yaitu Nairuz dan Marjaan. Dua hari tersebut identik dengan hura-hura, tarian, hingga mabuk-mabukan.
Rasulullah SAW kemudian hadir membawa perubahan. Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i, Nabi menegaskan bahwa Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan sesuatu yang jauh lebih baik, yakni Idulfitri dan Iduladha.
Langkah itu bertujuan agar umat memiliki tradisi yang sejalan dengan syariat, bukan sekadar mengikuti kebiasaan kaum ajam (non-Arab) yang tidak berlandaskan tauhid.
Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomi dalam Hasiyah al-Bujairami alal Khatib memberikan catatan tajam mengenai fenomena baju baru saat lebaran.
Baca juga:
Trafik Data Indosat Naik 20 Persen Saat Mudik Lebaran 2026
Menurutnya, Idulfitri sejatinya bukan milik mereka yang tampil dengan pakaian dan kendaraan serba baru.
"Idulfitri hanyalah bagi orang yang ketaatannya bertambah dan dosa-dosanya diampuni," tulis Syekh Sulaiman dalam kitabnya, sebagaimana dilansir dari historia, dalam artikel yang berjudul sejarah Hari Raya Idulfitri.
Meski demikian, Islam tidak melarang penggunaan pakaian terbaik sebagai bentuk syiar dan simbol hati yang bersih.
Kehadiran hidangan khas lebaran pun dipandang positif karena menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Namun, esensi utama tetap berada pada janji ampunan Allah.
Baca juga:
Rektor UIN KHAS Jember Ajak Jadikan Idul Fitri Momentum Menata Kepatuhan
Sebagaimana pesan Rasulullah dalam riwayat Ibnu Mas’ud, Allah menjanjikan upah bagi mereka yang tulus berpuasa dan mendatangi salat Id.
Pada hari itu, Allah berseru kepada para malaikat bahwa hambanya telah menunaikan kewajiban dan layak pulang ke rumah dengan keadaan dosa yang telah terhapus.
Idulfitri, dengan demikian, adalah titik balik. Ia merupakan perayaan atas kembalinya manusia pada fitrahnya, di mana ketaatan meningkat dan hubungan sosial menguat melalui perputaran ekonomi yang bermanfaat bagi sesama.
URL : https://jatimnow.com/baca-83238-ternyata-begini-asalusul-idulfitri-pertama-di-dunia