Pixel Code jatimnow.com

Unik! Pohon Pisang di Lamogan ini Berbuah 2 Meter

Editor : Bramanta   Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Foto: Penampakan pohon pisang dengan dengan buah sepanjang 2.2 meter di Desa Karangwungu Lor, Laren, Lamongan. (Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Foto: Penampakan pohon pisang dengan dengan buah sepanjang 2.2 meter di Desa Karangwungu Lor, Laren, Lamongan. (Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sebuah pohon pisang milik Endang, warga Desa Karangwungu Lor, Kecamatan Laren, Lamongan, mendadak menjadi pusat perhatian. Hal itu karena pohon pisang yang tampak biasa tersebut bertandan atau berbuah dengan panjang 2.2 meter.

Pisang jenis "Pisang Seribu" ini memiliki penampakan yang berbeda dari pisang pada umumnya. Jika biasanya satu tandan pisang hanya terdiri dari beberapa sisir, pisang ini  memiliki ratusan sisir yang tersusun rapat hingga hampir menyentuh tanah. Menurut Endang, bibit pisang tersebut tidak dibeli secara khusus, melainkan pemberian dari kerabat.

"Ini dapat dikasih sama Paklek (paman) saya yang ada di Sukolilo," ujarnya saat ditemui di lokasi. Senin (10/1/2026).

Endang mengaku kaget melihat buah pisang yang ditanam kurang lebih satu tahun yang lalu itu. Tidak ada ciri-citi khusus, pohon pisang tumbuh dan dirawat sewajarnya pohon-pohon lainya.

Baca juga:
Siaga Banjir, Gubernur Khofifah Kunjungi Warga Terdampak di Lamongan

"Bisa dimakan kalau sudah matang. Tapi kalau yang bagian bawah ini kan memang belum ada dagingnya (masih sangat kecil)," imbuhnya.

Hingga saat ini, pohon pisang tersebut masih dibiarkan tumbuh dengan penyangga bambu agar tidak roboh karena beban buah yang semakin berat. Keberadaan pisang unik ini pun sering kali menjadi objek foto warga yang kebetulan melintas di area tersebut.

Baca juga:
Ruas Jalan Plembon - Made Lamongan Diresmikan Bupati Yuhronur Efendi

 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam