jatimnow alexametrics

Foto: Melihat Dari Dekat Proses Normalisasi Kali Lamong

Editor : Arina Pramudita Reporter : Sahlul Fahmi
Sebuah excavator saat proses normalisasi Kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)
Sebuah excavator saat proses normalisasi Kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Gresik - Pemerintah Kabupaten Gresik tengah fokus melakukan normalisasi Kali Lamong. Hal ini dilakukan untuk menangani banjir tahunan setiap kali musim hujan datang.

Dari data yang ada, Kali Lamong melintasi wilayah Lamongan, Mojokerto, Gresik, dan Surabaya dengan panjang kurang lebih 103 kilometer. Dari panjang tersebut Kabupaten Gresik merupakan wilayah yang paling panjang dilalui Kali Lamong, yakni mencapai 58,1 kilometer.

Adapun Wilayah Kabupaten Gresik yang dilintasi Kali Lamong yakni sebagian wilayah Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Kedamean, Menganti, dan Kebomas.

 Sebuah excavator saat proses normalisasi Kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com) Sebuah excavator saat proses normalisasi Kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Dari kajian di lapangan, masalah banjir Kali Lamong timbul karena kondisi sungai yang relatif dangkal, dan secara kontur beda tinggi permukaannya tidak terlalu jauh.

Sementara kapasitas tampung air kali lamong saat ini sebesar 250 m³/detik sedangkan debit air hujan bisa mencapai 700 m³.

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/gempur-rokok-ilegal-portrait-1.jpg

Setiap tahunnya, Kali Lamong membanjiri area dengan rincian 20 Desa terdampak berat dan 28 Desa terdampak ringan di Kabupaten Gresik.

Karena menjadi bencana tahunan, banjir Kali Lamong seakan menjadi momok bagi warga Gresik, khususnya kawasan Gresik Selatan yang dilintasi Kali Lamong. Banjir tersebut terus menerus mengganggu baik kualitas hidup maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Tercatat kerugian ekonomi yang ditaksir tiap tahun kurang lebih 80 Miliar, hingga menimbulkan korban jiwa dari masyarakat yang terdampak.

Operator saat mengoperasikan excavator. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)Operator saat mengoperasikan excavator. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Menanggapi permasalahan ini, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang bekerja sama dengan BBWS, tahun ini telah melakukan langkah-langkah progressif terkait banjir Kali Lamong, diantaranya, merampungkan normalisasi Kali lamong sepanjang kurang lebih 6 km di Kecamatan Benjeng pada 6 desa. Di antaranya Desa Sedapurklagen, Desa Lundo, Desa Bulangkulon, Desa Deliksumber, Desa Munggugianti, dan Desa Bengkelolor.

Selain itu, Normalisasi anak Kali Lamong juga dilakukan di 19 lokasi. Pembebasan Tanah di Desa Tambak Beras, Desa Jono, Desa Morowudi, Desa Putat Lor, dan Desa Sukoanyar, serta membangun Parapet di Desa Jono dan Tambak Beras sepanjang 1,5 km. Bupati Yani juga telah menambah alat berat sebanyak 3 Unit.

Wilayah Kecamatan Benjeng sendiri dijadikan prioritas utama pengerjaan tahun ini karena wilayah tersebut merupakan wilayah yang paling parah terdampak banjir Kali Lamong. Temuan tim di lapangan juga menemukan bahwa kondisi Kali Lamong di daerah tersebut mengalami penyempitan dan sedimentasi paling parah.

Penanganan Kali Lamong merupakan salah satu prioritas era Gresik Baru di bawah kepemimpinan Bupati yang akrab dipanggil Gus Yani itu.

"Banjir ini sudah menelan kerugian masyarakat puluhan Milyar, dan terus berulang dari tahun ke tahun," kata Gus Yani, Rabu (27/10/2021).

Bupati Gresik Fandhi Akmad Yani saat meninjau normalisasi kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)Bupati Gresik Fandhi Akmad Yani saat meninjau normalisasi kali Lamong. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Tidak tanggung-tanggung, 12 alat berat dikerahkan untuk melakukan normalisasi Kali Lamong. Untuk penanganan Kali Lamong tahun ini Kabupaten Gresik mengucurkan APBD sebesar 1,1 miliar. Untuk tahun depan Gus Yani akan menambah anggaran penanganan Kali Lamong sebesar 5 miliar.

Bupati Yani menargetkan kegiatan normalisasi Kali Lamong Sepanjang kurang lebih 6 km bisa rampung 30 November 2021. Hal ini, sambung Bupati Yani dalam keterangannya, merupakan usaha dari Pemerintah Kabupaten Gresik agar bencana banjir kali lamong bisa diminimalisir dampaknya bagi masyatakat.

"Terkait sosialisasi kepada masyarakat, tanah yang dikeruk bisa diletakkan di wilayah masyarakat yang kebetulan letaknya berdampingan dengan Kali Lamong. Tanah tersebut juga bisa dijadikan sebagai tanggul sungai," ujar Gus Yani.

Seorang operator saat hendak mengoperasikan excavator. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)Seorang operator saat hendak mengoperasikan excavator. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Penanganan Kali Lamong sendiri merupakan kewenangan BBWS, karena itu Pemerintah Kabupaten Gresik berupaya intens melakukan percepatan dengan berkoordinasi dan mengirimkan rekomendasi teknis kepada BBWS agar Pemerintah Kabupaten Gresik bisa mendapatkan izin untuk turut mengerjakan normalisasi Kali Lamong.

Gus Yani berharap masyarakat Gresik sudah bisa terbebas dari banjir tahunan. Karena itu pembenahan Kali Lamong harus menjadi konsentrasi prioritas pusat. Hal ini berdasarkan Perpres No 80 tahun 2019 mengenai Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional di mana wilayah Kali Lamong masuk di dalamnya.

"Kawasan Kali Lamong sudah masuk Pemulihan Ekonomi Nasional dan ini tercantum dalam perpres no 80 tahun 2019. Maka masalah Kali lamong sudah seharusnya menjadi konsentrasi prioritas pusat. Karena dibalik peristiwa tahunan ini ada kerugian dari masyarakat sebesar 80 Miliar," pungkas Gus Yani.

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE