Pilwali Surabaya 2020

Machfud Arifin Sebut Belanda Bisa Jadi Tempat Belajar Tangani Banjir

jatimnow.com - Beberapa waktu lalu Panitia Khusus (Pansus) Banjir DPRD DKI Jakarta meminta saran kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) untuk menangani permasalahan banjir.

Studi DPRD DKI Jakarka ke Kota Pahlawan itu mendapat tanggapan dari Calon Wali Kota Surabaya, Machfud Arifin. Dia menilai bahwa kedatangan pansus ke Surabaya itu kurang tepat lantaran di Surabaya masih terjadi banjir di beberapa kawasan.

"Kalau belajar itu ya harusnya pada daerah yang tidak banjir," ujar Machfud Arifin setelah bersilaturahmi dengan Gerakan Perempuan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (GPMKGR) Jawa Timur di Hotel Mercure Surabaya, Senin (26/10/2020).

Menurutnya, DPRD DKI bisa belajar ke Belanda yang tata kelolanya mengenai banjir cukup hebat. Karena apabila belajar dari Surabaya, sama saja lantaran juga masih mengalami banjir.

"Belanda misalnya. Kan belajar dari sana, itu tata kelolanya hebat. Kan yang tahu Surabaya banjir apa enggak, kan orang Surabaya sendiri. Bahkan kadang-kadang pemadam kebakaran buat nyedotin di sana, gak tahunya nyedotin air," ungkap Machfud Arifin.

Mantan Kapolda Jatim ini sudah memiliki sederet langkah untuk menangani masalah banjir di Surabaya, jika nantinya menjadi wali kota. Machfud menyebut penanganan banjir harus disertai dengan teknologi yang memadai.

Selain itu, permasalahan perluasan jalan juga harus ada jaminan bahwa ada lubang khusus untuk masuknya air dan lumpur serta kotoran.

"Endapan-endapan di situ jadi tinggi akhirnya luber. Sendimentasi ini kadang-kadang nggak kekejar, makanya harus tetap terjaga. Sekarang ini baru pakai manual semuanya. Brantas, Monkasel itu baru dikeruki, walaupun itu bukan tanggungjawab pemkot," tambahnya.

Menurut Machfud Arifin, sungai-sungai yang ada di tengah kota masih banyak yang belum tersentuh dalam penanganan pencegahan banjir. Terutama dalam menangani sampah-sampah yang menumpuk di sungai.

"Di tengah kota masih banyak yang tidak tersentuh. Misal sungai tertimbun sampah seperti di Wonokusumo. Banyak sungai dan selokan ditutup beton dibuat dagangan dan itu kotor sekali," tandas arek asli Ketintang, Surabaya ini.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top