jatimnow alexametrics

Dituduh Dukun Santet, Pria Banyuwangi ini Minta Sumpah Al Quran

Editor : Sandhi Nurhartanto
Asbollah tunjukkan surat hasil pertemuan
Asbollah tunjukkan surat hasil pertemuan

jatimnow.com - Asbollah (55), asal Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi itu menahan ketakutan karena dituduh mempunyai ilmu santet oleh saudaranya sendiri.

Asbollah dituduh menjadi dukun santet dan dianggap membuat sakit keponakannya sendiri oleh istri adik kandungnya yang bernama Nur Hayati (43).

Tuduhan itu berawal dari keponakan Asbollah mengalami bengkak di bagian kaki. Selama keponakannya yang berumur 10 tahun itu sakit, mereka sempat membawanya ke dokter tapi tidak kunjung sembuh.

Keluarganya kemudian membawa anak tersebut ke pengobatan alternatif ke orang tua atau dukun. Setelah pulang dari pengobatan alternatif, Nur Hayati menuduh jika sakit yang diderita anaknya karena disantet oleh Asbollah.

Ironisnya tuduhan yang dilayangkan oleh Nur Hayati itu bersumber dari dukun pengobatan alternatif. Dukun itu menyuarakan 'Sego Mambu Jangan Mambu' (nasi basi sayur basi) yang diartikan oleh masyarakat Suku Osing jika yang membikin sakit itu bukan orang lain tetapi masih kerabat.

"Saya dituduh membikin sakit keponakan. Oleh istri adik saya sendiri," kata Asbollah saat ditemui dirumahnya, Senin (22/9/2020) malam.

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/gempur-rokok-ilegal-portrait-1.jpg

Mendengar tuduhan itu, Asbollah kemudian melapor ke perangkat desa dan diadakan mediasi di rumah Pak RT yang lokasinya bersebelahan dengan rumahnya.

Saat mediasi, suasana sempat memanas karena keluarga Nur Hayati ngotot menuduh Asbollah adalah tukang santet. Asbollah kemudian meminta agar dirinya disumpah di atas Kitab Suci Al Quran.

"Jika saya memiliki ilmu santet dan sekarang saya dituduh membuat sakit keponakan saya. Ayo saya berani disumpah di atas Al-Quran," tegas Asbollah.

Kepala Desa (Kades) Watu Kebo, H Sri Bunik menyebut permasalahan itu hanya permasalahan keluarga sehingga diadakan mediasi sederhana dengan didatangkan kepala dusun dan RT serta keluarga berdua.

"Kita mediasi secara sederhana lalu kita buatkan surat perjanjian agar tidak terulang lagi perkataan menuduh tukang santet," kata Kades H Sri Bunik.

Saat hendak pulang dari kediaman Asbollah, pukul 22.00 Wib, wartawan jatimnow.com disapa oleh seorang kakek kakek yang rumahnya bersebelahan dengan Asbollah yang saat itu membakar kemenyan.

 

Reporter: Rony Subhan

 

 

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/player-manggis-potrait.jpg