Cara SMAKer Surabaya Bantu Siswa Belajar di Tengah Pandemi Covid-19

jatimnow.com - Sejak awal Agustus 2020, SMA Kertajaya (SMAKer) Surabaya telah menerapkan pembelajaran tatap muka. Selain pembatasan jumlah peserta didik, protokol kesehatan yang ketat juga diterapkan.

Kepala Sekolah SMAKer, Samini mengatakan bahwa ada beberapa upaya yang dilakukannya agar para siswanya tetap bisa belajar meskipun dalam kondisi sulit di tengah Pandemi Covid-19 ini.

"Selama Pandemi Covid-19, proses belajar mengajar kan menggunakan daring atau online. Untuk mengatasi itu, kita membantu dalam bentuk kuota atau paket data. Para siswa di sini kita bantu itu. Per siswa kita bantu 3GB untuk satu bulan. Dan itu kita berikan selama 6 bulan," terang Samini kepada jatimnow.com, Senin (31/8/2020).

Samini menambahkan, pembelajaran tatap muka hanya diperuntukkan bagi siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah atau yang kurang mampu, seperti halnya tidak mempunyai ponsel.

"Untuk kegiatan proses belajar mengajar tatap muka memang kita peruntukan untuk itu. Tapi tetap dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti pakai masker, pengecekan suhu tubuh, cuci tangan dan jaga jarak," jelasnya.

"Tapi tetap, tentunya kita batasi hanya 20 persen saja. Itu pun siswa yang rumahnya dekat-dekat dengan sekolahan. Itu mulai hari Senin sampai Jumat dan hanya tiga jam saja. Untuk di sini siswanya ada 100," tambah Min-sapaan Samini.

Protokol kesehatan ketat di SMA Kertajaya (SMAKer) SurabayaProtokol kesehatan ketat di SMA Kertajaya (SMAKer) Surabaya

Untuk materi belajar, lanjut Min, lebih menekankan materi ngaji dan keterampilan. Itu pun hanya semacam konsultasi.

"Jadi gini. Durasinya itu lebih banyak di ngaji dan keterampilan. Materi tetap kita kasih tapi hanya sebentar. Kemudian dilanjutkan di rumah, belajar daring atau online," paparnya.

Dia menyebut bahwa kegiatan belajar mengajar tatap muka di SMAKer selalu dipantau dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Karena sebelumnya telah dilakukan simulasi.

Setelah melakukan uji coba pembelajaran tatap muka pada Juli, SMAKer kemudian menerapkannya sejak awal Agustus 2020.

"Kita antara guru dan dinas itu selalu komunikasi. Memang kalau peraturan dari dinas itu tidak boleh tatap muka. Tetapi ada beberapa sekolah yang melakukan tatap muka seperti kita, tapi tetap dibatasi. Hanya 20 persen atau 20 anak. Dan tentunya tetap dengan menerapkan protokol kesehatan," tambah Min.

Di SMAKer juga tak kalah dengan SMA-SMA lainnya di Surabaya. SMAKer memiliki banyak ekstrakulikuler untuk menambah keterampilan siswa yang mempunyai bakat tersendiri. Di antaranya banjari, badminton, tata boga, kecantikan, multimedia dan panahan.

"Banyak dari siswa di sini yang sudah selesei ekstrakulikuler kemudian dapat sertifikat kemudian kerja. Buka usaha sendiri, seperti tata rias, buka salon, buka catering juga," ujarnya.

"Di sini itu, seperti ngaji bisa sampai sertifikasi. Jadi lulus punya sertifikat bisa mengajar di sekolah formal maupun nonformal. Bukan hanya ngaji saja. Ekstrakulikuler lainnya juga," imbuh Min.

Ia juga mengatakan, pada Tahun 2019 lalu, ada salah satu siswanya yang dipanggil untuk mewakili olahraga bulutangkis tingkat nasional, mewakili Jawa Timur. Dan saat itu mendapat peringkat dua.

"Alhamdulillah waktu itu dapat juara dua setelah kalah dari Jawah Tengah," pungkasnya.

 

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top