Beredar Video Jeritan Petugas Puskesmas Surabaya untuk Wali Kota Risma

jatimnow.com - Beredar video dengan 'judul' Puskesmas Menjerit. Dalam video terdengar suara keluh kesah atau jeritan petugas medis di puskesmas kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Dalam video berdurasi 4.38 menit itu hanya terdengar suara seperti seorang pria yang mengaku sebagai tenaga medis puskesmas di Surabaya dan sebuah pohon. Sosok yang bicara dalam video itu tidak tampak.

Suara itu menceritakan detail kondisi yang dialami petugas medis atau tenaga kesehatan di puskesmas dalam melayani masyarakat di tengah pandemi Virus Corona (Covid-19).

Berikut pernyataan seseorang yang hanya terdengar suaranya tanpa memperlihatkan sosoknya:

Assalammualaikum Warohmatullahhi Wabarokahtu. Yang terhormat Ibu Risma, Wali Kota Surabaya.

Bu Video ini sengaja saya buat supaya ibu mendapatkan informasi bukan hanya dari pembantu atau bawah-bawahan ibu. Tapi ibu juga tahu langsung dari teman-teman tenaga medis yang ada di puskesmas.

Ibu, tenaga di puskemas itu setiap hari masuk semuanya. Bahkan hari libur pun juga piket masuk. Jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan puskesmas sehari masuk sehari nggak masuk.

Di puskesmas itu pekerjaan kami berat. Pelayanan pagi, Pelayanan sore, Mengerjalan tugas-tugas program kesehatan, Tugas TGC, Tugas P3K juga, semua itu masih jalan bu.

Dengan adanya Covid ini, juga diberi tugas untuk melakukan pelacakan pasien ODP, PDP dan confirm covid di masyarakat. Belum lagi tugas pembagian (wedang) pokak dan telur.

Dan sekarang kami juga diberi tugas untuk memberikan pelayanan bagi pasien confirm Covid di Asrama Haji (Sukolilo).

Jujur ibu, tambahan tugas ini membuat kami sangat berat dan keberatan. Kenapa ibu tidak memperkerjakan relawan. Kenapa tidak seperti Pemprov (Jatim) atau Jakarta yang mengambil relawan.

Apa Surabaya dengan PAD tertinggi kedua se Indonesia tidak mampu untuk menggaji relawan, sehingga menugaskan tenaga puskesmas.

Sedangkan kami di puskesmas tidak mampu menolak dan wajib menerima tugas ini. Kenapa, ya karena biasanya kami diancam. Kalau PNS dimutasi, kalau kontrak dipecat.

Ibu...kami mengabdi, kami bekerja, kami juga manusia biasa bu. Dan apakah asrama haji itu sudah benar-bena siap sebagai tempat perawatan pasien confirm Covid. Siap dengan kelangkapan APD-nya, prosedur pelayanannya dan prosedur pencegahan infeksinya.

Kami tidak ingin tertular loh Bu, juga menularkan .

Keluarga kami juga tidak ingin tertular. Kami adalah tulang punggung keluarga. Kami juga punya keluarga punya anak istri, suami, orang tua.

Kami juga warga Surabaya Bu. Kami juga rakyatmu Bu.

Tolong perhatikan nasib kami, keluarga kami degan jerit hati kami.

Kami sedih Bu. Makanya saya membuat video ini supaya sampai kepada Ibu.

Saya tidak mau diskusi, curhat ke dinas (Dinas Kesehatan Kota Surabaya), karena Ibu tidak tahu, dinas itu Bu tidak mau diprotes, tidak mau dikasih masukan, karena beberapa teman kami ketika protes tentang kebijakan-kebijakan dinas, langsung dimutasi Bu

Maka saya mohon Ibu tidak mempercayakan semuanya kepada bawahan Ibu.

Saya mohon Ibu terjun langsung ke masyarakat. Terjun langsung ke puskesmas.

Kami juga masyarakat ibu. Kalau perlu ibu membuat layanan Center Bu Risma, tentang keluhan pejabat-pejabat di sekitar Ibu, biar Ibu tahu bagaimana diktatornya pejabat-pejabat ibu.

Terima kasih

Ibu Risma saya mohon maaf, semoga video ini sampai ke Ibu Risma.

Teman-teman yang mendengarkan video ini saya minta tolong diviralkan supaya sampai ke Ibu Risma.

Semoga Ibu Risma senantiasa diberikan kesehatan.

Wassalammualaikum Warrohmatullahi Wabarokahtu.

Sementara Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara belum memberikan respon saat dihubungi jatimnow.com pada pukul 16.36 Wib, Jumat (22/5/2020), yang akan mengonfirmasi terkait video tersebut.

Begitu pula dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita. Ia tidak merespon jatimnow.com yang mencoba mengonfirmasi terkait video itu.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top