Dosen STIE Perbanas Beri Tips Kelola Keuangan di Tengah Pandemi Corona

jatimnow.com - Jumlah positif Covid-19 terus meningkat selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung.

Geliat perekonomian tentunya sangat berdampak, terlebih bagi kondisi finansial keluarga.  Tak dipungkiri, PSBB ini menyebabkan kecemasan terhadap kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup akibat pendapatan rumah tangga yang menurun.

Saat penghasilan dalam sebuah keluarga goyah, maka dapat dipastikan rumah tangga mengalami kesulitan keuangan (financial distress).

Minimnya pengetahuan anggota keluarga tentang pengelolaan keuangan dapat memperburuk kondisi rumah tangga dalam menghadapi pandemi.

Dosen Akuntansi STIE Perbanas Surabaya, Riski Aprilia Nita menegaskan rumah tangga merupakan entitas sosial ekonomi yang memiliki hubungan untuk menjalankan nafkah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bersama.

Nafkah sebagai pendapatan dalam rumah tangga sehingga perlu dikelola dengan baik untuk bertahan dalam kondisi luar biasa seperti saat ini. Selaras bidang ilmunya, akuntansi rumah tangga bisa dipraktikkan dalam kondisi pandemi covid-19 ini.

"Akuntansi rumah tangga diperkenalkan sebagai bentuk praktik akuntansi yang terdiri dari aktivitas pencatatan, pengukuran, dan penyajian. Dalam rumah tangga, terdapat beberapa anggota yang memiliki peran masing-masing. Catatlah semua pengeluaran yang terjadi sampai dengan nafkah diterima kembali mulai dari harian, mingguan, atau bulanan," jelasnya dalam siaran pers yang diterima redaksi, Rabu (20/5/2020).

Menurut Riski, pembiasaan melakukan pencatatan pada nafkah dan pengeluaran dapat mencegah rumah tangga dari keterpurukan finansial.

Jangan lupa mencatat alokasi tabungan sebagai modal ekonomi rumah tangga saat mengalami kondisi tak terduga.

Dosen Akuntansi STIE Perbanas Surabaya, Riski Aprilia Nita 

Lanjutnya, pengukuran dilakukan dengan membandingkan pengeluaran rumah tangga dengan nafkah yang diterima, baik nafkah tunggal (kompensasi kerja yang berasal dari 1 sumber) atau nafkah pola ganda (kompensasi kerja yang berasal dari 2 sumber atau lebih).

Pengukuran juga dapat dipraktikkan untuk membuat skala prioritas atas kebutuhan rumah tangga.

Lebih lanjut, Riski menyarankan untuk menunda penggunaan nafkah rumah tangga untuk kebutuhan yang tidak penting.

Selama stay at home, berbagai aplikasi marketplace hadir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan beragam promo, cashback, diskon dengan jumlah tertentu.

"Penawaran ini sering membuat 'keblinger' sehingga kita lalai terhadap kebutuhan yang seharusnya dipenuhi dan tidak," sarannya.

Terakhir, praktik akuntansi dalam pengelolaan nafkah rumah tangga adalah penyajian. Riski menekankan, saat pengelola keuangan rumah tangga perlu dikomunikasikan dengan anggota keluarga.

Apabila terdapat realisasi yang melebihi pencatatan, seperti keputusan pembelian barang, pembayaran tagihan yang rutin dilakukan, dan aktivitas yang muncul di luar kebutuhan yang diprioritaskan.

"Pembiasaan menyajikan transparansi keuangan kepada anggota keluarga dapat mencegah terjadinya utang konsumtif yang secara terus-menerus karena besar pasak daripada tiang," tegasnya.

Riski pun mengakui diperlukan tenaga ekstra untuk mengubah pengelolaan nafkah, namun bukan berarti tidak bisa dipraktikkan.

Mental akuntansi memang dibutuhkan untuk menyikapi situasi pandemi seperti ini agar terhindar dari aktivitas finansial yang irasional atau percaya diri berlebihan terhadap kemampuan finansial rumah tangga.

"Semua kalangan masyarakat memiliki konsekuensi yang berat atas musibah ini. Dalam akuntansi rumah tangga, tanggung jawab terhadap kebermanfaatan nafkah menjadi nilai penting untuk mencapai tujuan di masa depan. Tetap semnagat, berpikir positif dan yakinlah bahwa kondisi ini segera berlalu," pungkasnya.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top