19 Orang Berenang Seberangi Selat Madura Demi Misi Kemanusiaan

Minggu, 01 Nov 2026 15:15 WIB
Reporter :
Sujianto
Sebanyak 19 perenang amatir dari berbagai latar belakang menaklukkan luasnya perairan Selat Madura dalam Xtreme Impact 2026. (Foto: Sujianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sebanyak 19 perenang amatir dari berbagai latar belakang menaklukkan luasnya perairan Selat Madura. Mereka juga membawa misi kemanusiaan dalam tantangan renang lintas laut bertajuk Xtreme Impact 2026, Minggu (1/11/2026).

Mereka menempuh perjalanan dari Madura menuju Pangkalan TNI Angkatan Laut Koarmada II Surabaya. Di balik setiap kayuhan tangan dan tenaga yang dikerahkan, tersimpan tujuan lebih besar, yakni menggalang donasi hingga capai Rp1 miliar demi membantu warga Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang terus berjuang menghadapi ancaman abrasi dan banjir rob.

Desa Timbulsloko menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan iklim. Genangan air laut yang terus meningkat membuat rumah-rumah warga terendam, akses jalan darat terputus, hingga mengancam mata pencaharian masyarakat pesisir.

Baca juga: Kronologis Penemuan Mortir hingga Meledak di Bangkalan, Dihargai Rp500 Ribu

Di tengah kondisi tersebut, kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari berusaha mempertahankan perekonomian keluarga melalui pengolahan hasil laut secara sederhana.

Penyelenggara Xtreme Impact 2026, Arto Biantoro, mengatakan kegiatan ini bukan semata-mata tentang olahraga maupun upaya memecahkan rekor pribadi. Renang lintas Selat Madura tersebut menjadi sarana untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kehidupan warga yang terdampak perubahan iklim.

"Kami tidak berenang untuk memecahkan rekor personal. Kami berenang untuk mengubah kehidupan. Berenang menyeberangi Selat Madura hanyalah medium; tujuan sebenarnya adalah membangun jembatan harapan bagi saudara-saudara kita yang kehilangan daratan di Timbulsloko," ujar Arto.

Menurutnya, keberanian setiap peserta diharapkan bisa memberikan dampak sosial yang nyata ketika dilakukan secara bersama-sama.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, penyelenggara juga telah melihat langsung kondisi masyarakat Timbulsloko. Mereka mendapati kehidupan warga yang tidak mudah karena air laut hampir setiap hari masuk ke rumah.

Bahkan, warga berharap ada tempat yang lebih tinggi sebagai lokasi berkumpul ketika banjir rob kembali melanda.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan para peserta bersemangat mengikuti tantangan renang ini. Mereka ingin tenaga dan kemampuan yang dimiliki bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Di antara 19 peserta, terdapat Wisnu Wardana, perenang disabilitas asal Jakarta. Baginya, keikutsertaan dalam Xtreme Impact 2026 berawal dari kegemaran berenang sekaligus kesempatan untuk berkontribusi membantu masyarakat Desa Timbulsloko.

Wisnu mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan yang menggabungkan olahraga dan aksi sosial tersebut.

"Saya sangat beruntung bisa ikut acara ini. Harapannya, teman-teman terutama di Desa Timbulsloko tetap semangat menjalani kehidupan dan berjuang menghadapi kondisi banjir rob," ungkap Wisnu.

Dia juga berharap keikutsertaannya bisa menjadi penyemangat bagi sesama penyandang disabilitas agar tidak menyerah dengan keterbatasan yang dimiliki.

Menurut Wisnu, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Untuk menghadapi tantangan menyeberangi Selat Madura, Wisnu mengaku telah menjalani persiapan selama kurang lebih dua bulan. Latihan dilakukan secara rutin setiap pekan, baik di kolam renang maupun perairan laut.

Baca juga: Nelayan Surabaya yang Dilaporkan Hilang Ditemukan Selamat di Perairan Madura

Dia juga berkonsultasi dan berlatih bersama peserta lainnya untuk mempersiapkan diri menghadapi karakteristik perairan terbuka.

\

Meski baru sekitar satu tahun belajar berenang, Wisnu mengaku menikmati pengalaman tersebut. Bahkan, dia mulai tertarik mencoba tantangan renang dengan jarak lebih jauh, sekitar 10 kilometer.

Kisah menarik lainnya datang dari Jimmy Sukrisno. Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, pria tersebut turut ambil bagian dalam tantangan menyeberangi Selat Madura.

Alumni Canisius College angkatan 1974 itu mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa. Meski demikian, dia tidak menampik adanya tantangan tersendiri ketika harus berenang di perairan terbuka.

Salah satu hal yang perlu dihadapi adalah beradaptasi dengan air laut. Apalagi, pengalaman berenang menempuh jarak sejauh itu menjadi pengalaman pertamanya.

"Pengalamannya luar biasa. Kita juga sangat terbantu dengan dukungan dan pengawalan yang diberikan," kata Jimmy.

Dia mengungkapkan, menjaga kebugaran menjadi salah satu kunci agar tetap mampu beraktivitas dan berolahraga di usia senja.

Jimmy mengaku terbiasa berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, tidak merokok, serta rutin berjalan kaki pada pagi hari dan berenang.

Baca juga: Pesawat Latih TNI AL Jatuh di Selat Madura, Pilot-Co Pilot Belum Ditemukan

Meski demikian, dia mengakui bahwa berenang dengan jarak sejauh ini menjadi pengalaman berbeda dibandingkan rutinitas berenang yang biasa dijalaninya.

Bagi Jimmy, keikutsertaannya bukan tentang seberapa jauh jarak yang berhasil ditempuh atau seberapa cepat waktu yang dicatatkan. Lebih dari itu, dia ingin ikut mengambil bagian dalam upaya membantu warga yang terdampak banjir rob.

"Kami berharap masyarakat di Timbulsloko bisa terbantu. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengumpulkan dana untuk membantu mereka," tuturnya.

Pengalaman melihat langsung kondisi warga Timbulsloko juga meninggalkan kesan mendalam bagi Jimmy. Dia mengaku prihatin melihat rumah-rumah warga yang setiap hari kemasukan air laut.

Lantai rumah harus terus dibersihkan, sementara perabotan rumah tangga banyak yang rusak akibat terus-menerus terendam.

Kondisi itu membuatnya semakin menyadari bahwa persoalan banjir rob bukan sekadar genangan air, melainkan ancaman terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Melalui Xtreme Impact 2026, para peserta berharap kepedulian yang mereka bangun tidak berhenti setelah menyeberangi Selat Madura. Sebab, bagi warga Timbulsloko, perjuangan menghadapi naiknya air laut masih berlangsung setiap hari.

Sebanyak 19 perenang itu mungkin memiliki kemampuan, usia, dan latar belakang berbeda. Namun, mereka disatukan oleh satu tujuan: menjadikan keberanian menaklukkan laut sebagai jembatan harapan bagi masyarakat yang perlahan kehilangan daratan.

Tags :
Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler