jatimnow.com - Sisi kemanusiaan acapkali menjadi pembeda utama dalam profesi kesehatan. Prinsip inilah yang dipegang erat oleh apt. Drs. Djembor Sugeng Walujo, M.Kes., alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) yang mendedikasikan lebih dari tiga dekade kariernya untuk pengabdian masyarakat.
Bagi Djembor, menjadi farmasis bukan sebatas keahlian meracik resep medis, melainkan memastikan akses kesehatan hadir di tengah krisis.
Kiprahnya di medan kemanusiaan makin menguat sejak memimpin Apoteker Tanggap Bencana (ATB) Jawa Timur pada 2022.
Baca juga: 172 Peserta PPDS Unair Diduga Keracunan Makanan saat Pradik di RSUD Dr Soetomo
Djembor terjun langsung mengelola logistik obat secara aman dan rasional di berbagai lokasi bencana, seperti Gempa Lombok, Tsunami Palu, Erupsi Gunung Semeru, hingga Banjir Kalimantan Selatan.
Di titik pengungsian, ia juga memanfaatkan keahlian akupunktur untuk memulihkan kondisi fisik para penyintas dan relawan secara gratis.
Daftar panjang pengabdian pria asal Kediri ini membentang sejak ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi UNAIR pada 1986 dan Profesi Apoteker pada 1992. Djembor kemudian menyempurnakan keilmuannya lewat jenjang S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UNAIR pada 2004.
Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Pakar UNAIR Ingatkan Risiko Influenza A pada Anak
"Fakultas Farmasi UNAIR membentuk saya tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga memegang integritas dan kepedulian sosial. Semangat Excellent with Morality itu nyata," ujar mantan apoteker RS Kusta Kediri dan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang tersebut.
Konsistensi Djembor di dunia kesehatan berlanjut ke ruang kelas. Sejak 2006, ia aktif mengajar sebagai dosen di IIK Bhakti Wiyata Kediri sembari menulis berbagai buku ajar kefarmasian.
Atas dedikasinya, Dinas Kesehatan Kota Kediri menganugerahi Djembor penghargaan Tenaga Kesehatan Berdedikasi Tinggi pada 2023.
Baca juga: Punya 25 Persen Paten ASEAN, Indonesia Baru Raup 0,08 Persen Nilai Ekonomi
Menutup perbincangan, Djembor menitipkan pesan bagi para calon apoteker muda agar tidak sekadar mengejar angka indeks prestasi.
"Kejar juga kompetensi dan soft skill. Jadilah apoteker yang tidak hanya pintar meracik obat, tetapi pandai berkomunikasi dan betul-betul peduli pada pasien," pungkasnya.