Gus Ipang: Pesantren Harus Jadi Mesin SDM Unggul NU

Selasa, 11 Agu 2026 08:52 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Gus Ipang Wahid mendorong Muktamar ke-35 NU melahirkan blueprint transformasi pesantren dan SDM unggul untuk menghadapi era AI. (Foto: FJN for jatimnow.com)

jatimnow.com - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, dinilai harus menghasilkan agenda strategis untuk menghadapi perubahan zaman, bukan sekadar keputusan organisasi dan pergantian kepemimpinan.

Pakar komunikasi dan konsultan branding, Gus Ipang Wahid, mendorong Muktamar ke-35 NU melahirkan cetak biru nasional pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul berbasis pesantren.

Menurut Gus Ipang, pesantren merupakan fondasi utama NU. Karena itu, transformasi pesantren menjadi salah satu kunci agar NU tetap relevan sekaligus mampu mengambil peran lebih besar dalam percaturan global pada abad kedua.

Baca juga: PCNU Surabaya Minta Kader Pagar Nusa Kawal Kedamaian Kota Pahlawan

“Pesantren adalah DNA-nya NU. Kalau pesantrennya layu, NU ikut layu. Tetapi kalau pesantrennya bertransformasi, NU punya peluang besar untuk memimpin peradaban,” ujar Gus Ipang dalam Workshop Pengasuh Pesantren Nasional seluruh kawasan Indonesia Tengah dan Timur di Joglo Agung Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia, Cirebon, akhir pekan lalu.

Ia menilai pemilihan Jombang sebagai lokasi Muktamar ke-35 memiliki makna historis. Jombang merupakan salah satu tanah kelahiran NU sekaligus wilayah yang lekat dengan jejak perjuangan para pendiri organisasi.

Namun, kembali ke Jombang tidak seharusnya berhenti pada nostalgia sejarah. “Ini bukan sekadar kembali ke akar untuk bernostalgia. Kembali ke Jombang harus menjadi momentum untuk melompat lebih jauh. Seratus tahun lalu para kiai berkumpul merespons tantangan zamannya. Hari ini tantangannya berbeda, tetapi sama-sama menentukan masa depan umat,” katanya.

Gus Ipang melihat tantangan NU pada abad kedua semakin kompleks. Jika generasi awal NU menghadapi kolonialisme dan gejolak politik dunia, generasi saat ini berhadapan dengan perubahan yang bergerak cepat dan sebagian berlangsung tanpa terlihat secara langsung.

Algoritma digital, kecerdasan buatan (AI), kapitalisme global, perubahan lanskap ekonomi, hingga bergesernya otoritas keagamaan dari ruang tradisional ke layar gawai menjadi bagian dari tantangan baru.

“Musuhnya sekarang tidak selalu terlihat. Ada di dalam kantong setiap orang. Algoritma digital, kecerdasan buatan, kapitalisme global, dan pergeseran otoritas keagamaan ke layar gawai,” terangnya.

Untuk itu, ia menilai NU tidak bisa merespons perubahan abad kedua dengan pendekatan yang sama seperti satu abad sebelumnya.

Bagi Gus Ipang, relevansi NU akan sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi tersebut menyiapkan generasi yang memiliki kedalaman keagamaan sekaligus kompetensi untuk menghadapi dunia modern.

Kemampuan membaca kitab kuning, penguasaan nahwu-sharaf, serta kedalaman ilmu agama, kata dia, tetap menjadi fondasi. Namun, santri juga harus dibekali sains, teknologi, ekonomi global, bahasa internasional, dan keterampilan lain yang dibutuhkan dunia.

“Santri harus tetap mutqin dalam ilmu agama. Tetapi itu baru modal dasar. Fardhu kifayah peradaban kita adalah bagaimana santri menguasai sains, teknologi, ekonomi global, bahasa internasional, dan berbagai kompetensi yang dibutuhkan dunia,” tuturnya.

Menurut Gus Ipang, pesantren tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat mereproduksi pengetahuan masa lalu. Pesantren justru harus berkembang menjadi ruang lahirnya inovasi dan pusat pengembangan manusia.

“Pesantren harus menjadi laboratorium kemajuan, bukan museum masa lalu. Kita tidak bisa menghadapi masa depan dengan metodologi masa lalu yang statis,” tegasnya.

Ia mencontohkan praktik pendidikan di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, yang diasuh Kiai Imam Jazuli. Menurut dia, pesantren tersebut menunjukkan bahwa penguatan tradisi keislaman dapat berjalan beriringan dengan orientasi pendidikan global.

Di Bina Insan Mulia, ilmu-ilmu keislaman tetap menjadi fondasi. Pada saat yang sama, santri didorong menguasai bahasa asing, teknologi, serta memiliki orientasi pendidikan hingga universitas-universitas terbaik di dunia.

“Di Bina Insan Mulia, nahwu-sharaf tetap diajarkan. Tetapi santri juga disiapkan untuk menembus universitas-universitas terbaik di dunia, baik di Timur Tengah maupun Eropa. Kurikulumnya fleksibel, berwawasan global, dan adaptif,” ungkap Gus Ipang.

Ia menegaskan transformasi pesantren tidak sebatas pembangunan fisik atau modernisasi fasilitas. “Ini bukan sekadar modernisasi fisik, misalnya mengganti gedung bambu menjadi beton. Yang lebih penting adalah transformasi epistemologis dan mentalitas,” kata dia.

Gus Ipang berharap agenda transformasi pesantren masuk dalam pembahasan strategis Muktamar NU. Ia mengusulkan adanya cetak biru nasional yang dapat menjadi panduan bersama untuk mencetak SDM unggul berbasis pesantren.

Menurut dia, blueprint tersebut penting agar transformasi tidak berjalan sendiri-sendiri di setiap pesantren, melainkan menjadi gerakan yang terarah dengan target jangka panjang.

“Kita membutuhkan jutaan santri yang fasih membaca kitab, sekaligus lihai coding, memahami geopolitik, menguasai ekonomi makro, memiliki kemampuan bahasa internasional, dan mampu berkompetisi di tingkat global,” katanya.

Gus Ipang juga mengingatkan NU agar tidak berhenti pada kebanggaan terhadap jumlah warga dan jamaah. Besarnya basis sosial NU harus diubah menjadi kekuatan SDM yang kompetitif.

Baca juga: Membaca Ulang Jejak KH. Hasan Gipo dan Resonansi Seabad Gus Gudfan

“Social capital NU yang sangat besar harus dikonversi menjadi human capital yang kompetitif. Kuantitas tanpa kualitas justru bisa menjadi beban sejarah,” ujarnya.

\

Ia berharap Muktamar ke-35 dapat meninggalkan warisan yang lebih substantif daripada sekadar keputusan administratif organisasi.

“Kalau Muktamar Jombang berhasil merumuskan langkah taktis untuk meningkatkan mutu pendidikan pesantren, saya kira itu akan menjadi warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar keputusan-keputusan administratif organisasi,” katanya.

Muktamar Jangan Terjebak Politik Praktis

Selain agenda pendidikan, Gus Ipang mengingatkan agar Muktamar tidak tersandera persaingan politik internal dan kepentingan jangka pendek.

Ia berharap forum lima tahunan tersebut menjadi arena pertukaran gagasan tentang masa depan NU, bukan sekadar perebutan pengaruh.

“Jombang harus menjadi panggung di mana transaksi gagasan peradaban mengalahkan transaksi kekuasaan jangka pendek,” tegasnya.

Menurut dia, energi organisasi harus lebih banyak diarahkan untuk menyiapkan generasi muda NU agar mampu mengisi sektor-sektor strategis, mulai teknologi, ekonomi, pendidikan, diplomasi, sains, hingga industri kreatif.

Transformasi tersebut, kata Gus Ipang, tidak berarti NU harus meninggalkan tradisi. Sebaliknya, kemampuan beradaptasi dengan perubahan merupakan bagian dari upaya menjaga warisan intelektual para ulama.

Prinsip al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, menurut dia, perlu diterjemahkan sesuai tantangan zaman.

“Menjaga tradisi lama yang baik hari ini berarti memperkokoh tauhid, akhlak, dan khazanah keilmuan pesantren. Tetapi pada saat yang sama, kita harus berani mengambil hal baru yang lebih baik melalui penguasaan sains, kecerdasan buatan, teknologi, dan diplomasi internasional,” jelasnya.

Gus Ipang membayangkan pesantren tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga ilmuwan, ahli AI, diplomat, ekonom, inovator teknologi, hingga pemimpin industri global.

Baca juga: Panitia Muktamar NU Mulai Susun Cetak Biru Persiapan di Tambakberas Jombang

Generasi itu, menurut dia, tidak perlu tercerabut dari akar tradisinya. Mereka justru diharapkan mampu menggabungkan kedalaman ilmu keislaman dengan kompetensi global.

“Bayangkan jika satu atau dua dekade dari sekarang para ahli AI terkemuka, diplomat ulung di PBB, inovator teknologi dunia, dan pemimpin ekonomi global lahir dari rahim pesantren. Mereka adalah anak-anak muda yang mutqin membaca kitab turats, tetapi juga fasih menentukan arah kebijakan digital global,” ujarnya.

Gagasan tersebut, kata dia, menjadi bentuk konkret dari konsep Islam rahmatan lil 'alamin. Nilai keislaman tidak berhenti sebagai wacana di mimbar, tetapi diwujudkan melalui kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban.

“Di situlah Islam rahmatan lil 'alamin tidak lagi berhenti sebagai jargon mimbar, tetapi benar-benar hadir dalam aksi nyata,” katanya.

Bagi Gus Ipang, Muktamar ke-35 di Jombang menjadi kesempatan penting untuk menentukan arah NU pada abad keduanya.

Ia mengingatkan agar momentum tersebut tidak berlalu sebagai seremoni tanpa perubahan nyata.

“Lonceng pergantian zaman sudah berbunyi nyaring dari rahim Jombang. Muktamar ke-35 tidak boleh berlalu begitu saja sebagai perayaan seremonial tanpa bekas yang substantif,” ujarnya.

Gus Ipang menyebut Muktamar Jombang sebagai momentum now or never bagi NU untuk menentukan posisi dalam percaturan peradaban global.

“NU harus memilih: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua atau bangkit mengambil peran sebagai sutradara peradaban dunia,” tegasnya.

Ia optimistis pesantren memiliki modal sosial, kultural, spiritual, dan intelektual untuk memainkan peran tersebut. Tantangannya adalah memastikan modal itu diikuti keberanian melakukan transformasi secara terencana dan berkelanjutan.

“Sudah saatnya Jombang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru dunia: NU siap memimpin masa depan dengan iman di dada, sains di kepala, dan dunia di genggaman,” pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler