jatimnow.com – Menggeliatnya tren konser musisi internasional di Indonesia memicu antusiasme luar biasa, khususnya di kalangan Generasi Z (Gen Z). Namun, euforia ini menyimpan potensi bahaya finansial jika didorong oleh rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (Fomo), yang kerap berujung pada jebakan utang Pinjol dan Paylater.
Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Gancar Candra Premananto, menilai besarnya pasar konser di Indonesia sangat dipengaruhi oleh tingginya penetrasi media sosial. Promotor memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi dengan cepat dan biaya murah.
Namun di sisi lain, media sosial pulalah yang memicu tekanan psikologis bagi Gen Z. Menurutnya, terdapat tiga motif utama yang mendorong seseorang rela merogoh kocek dalam-dalam demi selembar tiket konser.
Baca juga: SID hingga The Jansen Bakal Ramaikan Festik 2026 UNP Kediri, Catat Tanggalnya
Pertama, hasrat memberikan apresiasi pada diri sendiri setelah bekerja atau belajar keras. Kemudian, dorongan untuk mencari kesenangan semata. Motif terakhir, keinginan untuk meraih pengakuan sosial dan validasi dari lingkungan.
"Di era media sosial saat ini, motif simbolik menjadi semakin kuat. Banyak orang yang pada akhirnya ingin memvalidasi status sosialnya melalui pamer pengalaman menghadiri konser-konser tertentu," urai Prof. Gancar, Sabtu (25/7/2026).
Baca juga: Yuni Shara Rayakan 35 Tahun Berkarya Lewat 3553 Concert di Surabaya
Lebih lanjut, Prof. Gancar memperingatkan bahwa motif simbolik ini rentan berubah menjadi tekanan sosial. Demi mendapat pengakuan dan mengikuti tren, tidak sedikit Gen Z yang mengambil keputusan konsumsi secara impulsif tanpa melihat realitas isi dompet.
Mereka kerap memaksakan diri membeli tiket di luar batas kemampuan finansial dengan mengandalkan fasilitas utang instan seperti Paylater atau Pinjol.
“Keputusan menjadi sangat tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi seperti ini bahkan dapat memicu kebiasaan buruk 'gali lubang tutup lubang', atau menutup utang lama dengan pinjaman baru,” tegasnya.
Baca juga: 49 Handphone Penonton Konser di Tulungagung Hilang, 47 Buah Ditemukan Polisi
Agar tetap dapat menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan finansial, Prof Gancar menyarankan Generasi Z menyusun anggaran bulanan secara disiplin. Ia merekomendasikan alokasi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan maupun investasi.
“Dengan manajemen dan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga tiket konser tidak dibeli dari hasil keputusan konsumsi yang impulsif dan merugikan," pungkasnya.