jatimnow.com – Siapa sangka, bulu bebek yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah peternakan bernilai rendah ternyata menjadi ladang cuan bernilai tinggi di pasar internasional.
Berdasarkan data Karantina Jawa Timur, sepanjang Januari hingga Juni 2026, Jawa Timur sukses mengekspor 916,2 ton bulu bebek dengan nilai transaksi mencapai Rp60,24 miliar. Komoditas ini laris manis di pasar Asia, dengan negara tujuan utama meliputi China, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.
Angka ini melanjutkan tren positif tahun 2025, di mana total volume ekspor bulu bebek Jatim mencapai 2.580 ton dengan nilai yang fantastis, yakni Rp241,09 miliar dari 83 kali pengiriman.
Baca juga: Penyelundupan 200 Burung Liar dari Bali Digagalkan di Pelabuhan Ketapang
Melihat potensi raksasa tersebut, Badan Karantina Indonesia (Barantin) bergerak cepat mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa menembus rantai ekspor global.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menegaskan bahwa institusinya tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator pendamping UMKM.
"Setiap komoditas ekspor, termasuk bulu bebek, wajib melalui pemeriksaan fisik dan dokumen. Langkah ini untuk memastikan produk Indonesia bersih, sehat, aman, dan memenuhi standar internasional. Barantin hadir mendampingi pelaku usaha agar produk daerah mampu bersaing di pasar global," ujar Sriyanto.
Baca juga: Penyelundupan 50 Kambing Kurban ke Bali Digagalkan di Pelabuhan Ketapang
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Karantina Jawa Timur, Hudiyansyah Is Nursal, menambahkan bahwa Jawa Timur memiliki ekosistem industri bulu bebek yang sangat lengkap. Mulai dari tingkat peternak, pengepul, hingga industri pengolahan berorientasi ekspor sudah tersedia.
"Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan layanan karantina adalah kunci agar komoditas ini memberikan nilai tambah yang besar bagi masyarakat, khususnya sektor UMKM," jelas Hudiyansyah.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Karantina, Wisnu Wasisa Putra, menyoroti masih banyaknya komoditas bernilai ekonomi tinggi di daerah yang mandek karena pelaku usaha minim literasi tata cara ekspor.
Baca juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang
Oleh karena itu, kegiatan edukasi seperti Web Series Go Ekspor ini dirancang khusus untuk membedah tuntas persyaratan negara tujuan. Acara tersebut turut menghadirkan Atase Perdagangan Republik Indonesia di Taipei, Wara Agustina Rukmini, dan perwakilan pelaku usaha PT Daya Setia Abadi, Widha Krisna Sugihartono, untuk membagikan strategi penetrasi pasar.
"Bulu bebek bukan lagi sekadar limbah, melainkan komoditas bernilai ekspor. Melalui sistem karantina yang andal, kami ingin memastikan produk Indonesia semakin dipercaya dunia sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas," pungkas Sriyanto.