Mendikti Saintek Brian Minta Riset UNIDA Gontor Jadi Solusi Masalah Bangsa

Minggu, 12 Jul 2026 18:00 WIB
Reporter :
Ahmad Fauzani
Mendikti Saintek Minta Riset UNIDA Gontor Tak Berhenti di Kampus, Harus Jadi Solusi Masalah Bangsa. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto menitipkan pesan penting kepada Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Menurutnya, hasil riset, skripsi, tesis, hingga disertasi yang lahir dari kampus pesantren itu harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi dokumen akademik.

Pesan tersebut disampaikan Brian saat menghadiri Reuni Akbar dalam rangka Milad ke-63 UNIDA Gontor yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Aula Pondok Gontor, Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Minggu (12/7/2026).

Di hadapan ribuan alumni, dosen, dan civitas akademika, Brian berharap seluruh aktivitas akademik di UNIDA diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Baca juga: Kunjungi Umsura, Kepala BRIN Dorong Riset Jadi Produk

“Kami menitipkan agar penelitian, riset, skripsi, tesis maupun disertasi di UNIDA bisa dihubungkan dengan persoalan-persoalan bangsa, baik di Ponorogo, Jawa Timur maupun Indonesia,” kata Brian.

Menurutnya, karya-karya akademik yang lahir dari UNIDA Gontor semestinya dapat diterapkan secara langsung sehingga manfaatnya dirasakan masyarakat luas. Bahkan, kawasan sekitar kampus diharapkan dapat menjadi etalase penerapan hasil riset yang dikembangkan para akademisi.

“Sehingga sumbangsih Pondok Modern Gontor benar-benar bisa diaplikasikan dan menjadi contoh penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat,” ujarnya.

Selain menyoroti penguatan riset, Brian juga mengapresiasi kontribusi Pondok Modern Darussalam Gontor selama satu abad mencetak sumber daya manusia bagi Indonesia.

Ia menilai kekuatan utama Gontor terletak pada pembentukan akhlakul karimah, integritas, serta penguasaan bahasa yang telah menjadi karakter para alumninya.

Baca juga: Algoritma vs Suroboyoan, Alasan Gen Z Surabaya Tak Bisa Lepas dari Radio

“Kami berharap kader-kader Gontor semakin banyak berada di lembaga-lembaga strategis sehingga nilai integritas yang dibangun di pondok bisa mewarnai kebijakan dan program di berbagai institusi negara,” tuturnya.

\

Sementara itu, Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan, sistem pendidikan di kampusnya merupakan kelanjutan dari sistem Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah berjalan selama satu abad.

Seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama agar proses pembinaan berlangsung selama 24 jam bersama para dosen dan pimpinan kampus.

“Kami mempertahankan sistem pondok. Mahasiswa tidak boleh tinggal di luar karena pembinaan dilakukan secara intensif,” jelasnya.

Baca juga: ITS Tancap Gas di QS WUR 2026, Tiga Bidang Baru Masuk

Hamid menambahkan, UNIDA Gontor menerapkan sistem penilaian yang tidak hanya mengukur prestasi akademik melalui ujian, tetapi juga aktivitas nonakademik dan pembentukan karakter mahasiswa.

Berbagai kegiatan seperti seminar, hafalan Al-Qur’an, puasa Senin-Kamis hingga keaktifan dalam organisasi kemahasiswaan turut menjadi bagian dari penilaian yang disebut Indeks Prestasi Kumulatif Syakhsiyah (IPKS).

“Keteladanan intelektual saja tidak cukup. Mahasiswa juga harus memiliki keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat, kepemimpinan, organisasi, dan kolaborasi. Kampus menjadi media untuk membentuk karakter itu,” pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Ponorogo

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler