Pelajaran dari Howard Marks dan relevansinya bagi ekonomi Indonesia

Membaca Siklus, Menjaga Nalar Negara

Rabu, 25 Mar 2026 22:28 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Ekonomi berayun kadang perlahan, kadang mendadak, sering tanpa peringatan yang gamblang. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Di tengah riuh politik dan derasnya arus informasi, satu hal justru kian jarang: kesediaan mengakui bahwa ekonomi bergerak dalam siklus.

Banyak orang ingin percaya pertumbuhan bisa terus berlanjut, optimisme bisa dijaga tanpa jeda, dan stabilitas cukup ditopang kehendak politik.

Sejarah menunjukkan sebaliknya. Ekonomi berayun kadang perlahan, kadang mendadak, sering tanpa peringatan yang gamblang.

Baca juga: BI Kediri Optimis Ekonomi Jawa Timur Lebih Baik di Tahun 2026

Gagasan itu menjadi inti buku Mastering the Market Cycle karya Howard Marks. Ia tidak menjanjikan kemampuan meramal masa depan.

Marks justru memulai dari kesadaran sederhana: masa depan tak pernah pasti. Yang mungkin dilakukan adalah membaca kecenderungan, menangkap perubahan suasana, dan menilai posisi dalam satu ayunan besar yang tak pernah berhenti.

Dari sana, ia mengajukan prinsip mendasar: yang dibutuhkan bukan ramalan, melainkan kepekaan. Bukan keyakinan bahwa semua terkendali, melainkan kemampuan mengenali kapan sebuah sistem terlalu percaya diri, kapan ketakutan berlebihan, dan kapan kewaspadaan perlu diperketat.

Siklus: Bukan Gangguan, Melainkan Keniscayaan

Marks melihat siklus sebagai bagian alami ekonomi. Tidak ada fase naik yang berlangsung tanpa jeda, juga tidak ada penurunan yang terus terjadi tanpa pemulihan. Ekspansi dan kontraksi, optimisme dan pesimisme, selalu datang bergantian.

Perbedaan pendekatannya terletak pada penekanan pada perilaku manusia. Siklus tidak hanya digerakkan angka, tetapi juga persepsi, emosi, dan keputusan kolektif.

Cara orang menilai risiko, merespons kabar baik, atau bereaksi terhadap ketakutan, sering menjadi pemicu utama perubahan arah.

Di Indonesia, pendekatan semacam ini terasa relevan. Penilaian ekonomi kerap bertumpu pada indikator formal pertumbuhan, inflasi, defisit. Semua penting, tetapi tidak selalu cukup.

Perubahan sering lebih dulu terasa dalam keputusan pelaku usaha, investor, atau rumah tangga sebelum tercermin dalam data resmi.

Krisis jarang datang dengan pengumuman. Ia tumbuh pelan, lewat perubahan psikologi yang tidak langsung terlihat di tabel statistik.

Psikologi: Mesin Sunyi yang Menggerakkan Ekonomi

Marks menempatkan psikologi sebagai faktor utama. Pasar bergerak seperti bandul jarang berhenti di tengah. Ia berayun dari euforia ke ketakutan, dari keyakinan mutlak ke kepanikan.

Dalam konteks kebijakan publik, pelajaran ini penting. Negara tidak bisa sekadar mengikuti sentimen pasar, tetapi juga tidak boleh mengabaikannya.

Pernyataan yang menenangkan memang dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan. Namun ada batas tipis antara menenangkan dan meninabobokan.

Di titik ini, pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai ekonomi Indonesia tetap stabil layak dibaca secara hati-hati. Sikap optimistis bisa menjadi bagian dari kepemimpinan.

Namun dalam kerangka Marks, optimisme hanya sehat jika bertumpu pada pembacaan siklus yang disiplin.

Sejarah menunjukkan, masa sebelum koreksi besar sering justru dipenuhi pernyataan paling menenangkan.

Menjaga Nada Tanpa Kehilangan Kewaspadaan

Peran Menteri Keuangan bukan sekadar mengelola angka. Ia menjaga kepercayaan kepada pasar, pelaku usaha, dan publik. Dalam sistem ekonomi modern, satu kalimat resmi bisa memengaruhi ekspektasi secara luas.

Karena itu, nada optimistis dapat dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas psikologis. Namun kepercayaan tidak cukup dibangun lewat retorika.

Ia bertumpu pada konsistensi kebijakan, ketelitian membaca risiko, dan kesiapan mengambil langkah korektif lebih awal.

Baca juga: Survei Konsumen BI Kediri: Keyakinan Terhadap Kondisi Ekonomi Menguat

Dalam pandangan Marks, pejabat yang efektif bukan yang selalu terdengar yakin, melainkan yang mampu membedakan optimisme produktif dari rasa aman palsu.

\

Yang pertama mendorong aktivitas ekonomi sambil memperkuat bantalan. Yang kedua membuat sistem lalai memperbaiki diri.

Kredit, Fiskal, dan Disiplin Keputusan

Marks juga memberi perhatian besar pada siklus kredit. Krisis sering muncul ketika uang terlalu mudah, kepercayaan terlalu murah, dan kehati-hatian mengendur.

Logika serupa berlaku dalam kebijakan fiskal. Ruang anggaran tidak otomatis berarti semua program layak dibiayai. Kemampuan berutang tidak selalu berarti ekspansi harus diperbesar.

Indonesia menjaga defisit dalam batas tertentu, sebuah fondasi penting. Namun disiplin sejati tidak berhenti pada angka. Ia tercermin dalam kualitas belanja, ketepatan prioritas, dan keberanian mengevaluasi program.

Negara bisa terlihat rapi di atas kertas, tetapi tetap menyimpan beban jangka panjang yang berat. Di sinilah pentingnya melihat lebih jauh dari indikator formal.

Bahaya Rasa Aman

Negara dengan pertumbuhan yang masih berjalan dan pasar domestik besar mudah merasa semuanya terkendali. Rasa percaya diri bisa membantu, tetapi juga berisiko menjadi jebakan.

Marks menyebutnya sebagai complacency kepuasan diri yang muncul saat keadaan tampak baik-baik saja. Dalam kondisi seperti itu, risiko sering justru menumpuk tanpa disadari.

Indonesia memiliki kekuatan domestik yang signifikan. Namun keunggulan itu tidak membuat kebal terhadap perubahan global. Stabilitas hari ini tidak menjamin kepercayaan akan selalu tersedia.

Karena itu, pernyataan optimistis seharusnya diiringi pertanyaan yang lebih penting: apakah bantalan ekonomi diperkuat? Apakah belanja makin selektif? Apakah keputusan fiskal diambil dengan horizon jangka panjang?

Baca juga: Menapaki Usia 30, SPS Corporate Optimis Mampu Perluas Diplomasi Ekonomi Global

Kerendahan Hati sebagai Fondasi

Pelajaran paling penting dari Marks bukan sekadar soal pasar, tetapi cara berpikir. Ia menekankan kerendahan hati intelektual kesadaran bahwa kompleksitas ekonomi tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.

Pengelolaan ekonomi sering terjebak antara dua ekstrem: ketakutan berlebihan dan rasa percaya diri yang terlalu besar. Yang dibutuhkan justru kewaspadaan yang tenang.

Kewaspadaan semacam ini berarti menjaga optimisme tanpa menutup mata terhadap risiko. Menjaga kepercayaan tanpa mengabaikan kebutuhan pembenahan. Mengakui kekuatan, tetapi tetap membaca tanda-tanda perubahan arah.

Menjaga Nalar di Tengah Ayunan

Pada akhirnya, pelajaran Marks sederhana tetapi sulit dijalankan: jangan larut dalam masa baik, dan jangan lumpuh dalam masa buruk.

Bagi Indonesia, itu berarti membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Yang dibutuhkan adalah nalar yang jernih, kemampuan melihat bahwa stabilitas harus dijaga, bukan diasumsikan. Bahwa disiplin fiskal bukan sekadar angka, melainkan sikap dalam mengambil keputusan.

Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa bisa dibaca sebagai upaya menjaga kepercayaan. Namun kepercayaan yang sehat selalu berjalan bersama kewaspadaan terhadap siklus.

Sejarah ekonomi berulang kali memberi pelajaran: yang menjatuhkan sistem sering bukan badai besar, melainkan kebiasaan mengabaikan tanda-tanda kecil.

Negara yang ingin bertahan perlu lebih dari keyakinan. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk membaca arah zaman sebelum ayunan berubah menjadi guncangan.

Oleh: Tri Prakoso
WKU Bidang Migas Kadin Jatim

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler