Konflik AS–Israel vs Iran, Bagaimana Sikap Indonesia?

Selasa, 10 Mar 2026 01:01 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Indonesia mengambil posisi diplomasi aktif dalam konflik Iran, AS, dan Israel. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Ketika konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas, pertanyaan yang juga penting bagi publik Indonesia adalah: di mana posisi Indonesia?

Indonesia bukan negara kecil dalam diplomasi global. Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, anggota G20, sekaligus salah satu negara yang selama ini aktif dalam berbagai forum internasional. Karena itu sikap Indonesia terhadap konflik global selalu diperhatikan.

Namun seperti banyak isu geopolitik lainnya, posisi Indonesia tidak pernah ditempatkan dalam kerangka keberpihakan militer. Indonesia memilih jalan yang berbeda, yaitu: diplomasi dan prinsip hukum internasional.

Baca juga: Eskalasi Konflik AS-Israel vs Iran, Dampak Geopolitik dan Ekonomi bagi Indonesia

Sikap Indonesia relatif konsisten. Pemerintah Indonesia menekankan dua hal utama, yaitu: penghormatan terhadap kedaulatan negara dan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Dalam berbagai pernyataan resmi, Indonesia menegaskan bahwa tindakan militer sepihak yang berpotensi memperluas konflik harus dihindari. Indonesia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri dan kembali ke jalur perundingan.

Sikap ini sejalan dengan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia yang dikenal dengan istilah “bebas dan aktif.”

“Bebas” berarti Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan tertentu. “Aktif” berarti Indonesia tidak bersikap pasif terhadap persoalan internasional, tetapi berusaha berkontribusi dalam menciptakan perdamaian. Prinsip ini telah menjadi fondasi diplomasi Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.

Jika ditelusuri lebih jauh, posisi Indonesia sebenarnya juga berakar pada konstitusi. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Artinya, sejak awal Indonesia menempatkan dirinya sebagai negara yang mendukung penyelesaian damai dalam konflik internasional.

Karena itu dalam banyak konflik global, baik di Timur Tengah, Ukraina, maupun kawasan lain, Indonesia hampir selalu mengambil posisi yang sama, yaitu: mendorong dialog dan menolak eskalasi perang.

Namun di balik sikap diplomatik tersebut, ada juga dimensi strategis yang tidak bisa diabaikan.

Indonesia memiliki kepentingan yang besar terhadap stabilitas global. Konflik besar di Timur Tengah dapat berdampak langsung terhadap ekonomi dunia, terutama melalui harga energi dan stabilitas perdagangan internasional.

Baca juga: Konflik Iran-AS Memanas, Alumni Lemhannas Ungkap Strategi Ketahanan Nasional

Sebagai negara berkembang dengan ekonomi yang semakin terintegrasi dengan pasar global, Indonesia tentu berkepentingan agar konflik tersebut tidak meluas.

\

Selain itu, Timur Tengah juga memiliki kedekatan emosional dan religius dengan masyarakat Indonesia. Banyak warga Indonesia bekerja di kawasan tersebut, dan jutaan umat Islam Indonesia setiap tahun melakukan perjalanan ibadah umrah dan haji ke wilayah Arab Saudi.

Karena itu stabilitas kawasan Timur Tengah bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, kemanusiaan dan keagamaan bagi Indonesia.

Yang menarik, dalam beberapa forum internasional Indonesia sering mengambil peran sebagai “bridge builder”, jembatan dialog antara negara-negara yang berkonflik.

Peran ini pernah terlihat ketika Indonesia menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional yang mencoba mempertemukan kepentingan negara-negara besar dengan negara berkembang.

Dalam konteks konflik Iran, peran seperti ini sebenarnya masih sangat relevan. Indonesia memiliki kredibilitas moral sebagai negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik, tetapi memiliki kepedulian terhadap perdamaian dunia.

Baca juga: Harga Emas Selasa 17 Juni 2025: Melonjak Ditengah Konflik Iran dan Israel

Namun pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan hanya tentang sikap resmi pemerintah. Pertanyaan yang juga penting adalah: bagaimana masyarakat Indonesia memandang konflik ini?

Di berbagai ruang publik, kita melihat bahwa opini masyarakat sering kali beragam. Ada yang melihat konflik ini sebagai bagian dari rivalitas geopolitik global. Ada pula yang memandangnya dari perspektif solidaritas dunia Islam.

Keragaman pandangan ini menunjukkan bahwa isu Timur Tengah selalu memiliki resonansi emosional yang cukup kuat di Indonesia.

Dari analisis tersebut, posisi Indonesia dapat disimpulkan: mendukung perdamaian tanpa terjebak dalam politik blok kekuatan. Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk memperpanjang konflik. Sebaliknya, Indonesia memiliki kepentingan besar agar stabilitas global tetap terjaga.

Karena dalam dunia yang semakin terhubung seperti sekarang, konflik di satu kawasan hampir selalu berdampak pada kawasan lain. Dan bagi Indonesia, menjaga perdamaian dunia bukan hanya pilihan politik luar negeri. Tetapi amanat konstitusi.

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler