Jambuluwuk Bromo Resmi Hadir, Ini Konsep dan Daya Tariknya

Jumat, 30 Jan 2026 15:34 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel siap beroperasi, membawa konsep wisata alam, staycation, dan pemberdayaan warga Tosari. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel bersiap membuka babak baru pariwisata Bromo. Berlokasi di Tosari, Pasuruan, properti ini tak sekadar menambah jumlah kamar, tetapi menawarkan cara baru menikmati Bromo lebih lama, lebih dekat dengan alam, dan lebih berdampak bagi warga sekitar.

VP Marketing Jambuluwuk Hotels Group, Marchella Purwanaika, mengatakan proyek ini ditargetkan mulai beroperasi akhir Februari hingga Maret setelah menyelesaikan tahap akhir pembangunan.

Kehadiran Jambuluwuk di Bromo, menurutnya, lahir dari keyakinan bahwa kawasan ini telah menjadi destinasi kelas dunia.

Baca juga: Jadwal Ritual Yadnya Kasada 2025, Wisata Bromo Ditutup Sementara

“Setiap ke Bromo, kita bertemu wisatawan dari berbagai negara. Jambuluwuk ingin ikut ambil bagian menggerakkan pariwisata di sini, bukan hanya menghadirkan hotel,” ujar Marchella, Jumat (30/1/2026).

Berbeda dari hotel lain di kawasan Bromo, Jambuluwuk mengusung dua konsep sekaligus.

Gedung pertama diisi Poshtel, akomodasi bergaya hostel modern yang dirancang khusus untuk solo traveler dan wisatawan muda.

Kamar dibuat ringkas namun privat, lengkap dengan kamar mandi dalam, serta ruang komunal sebagai pusat interaksi.

“Ini hostel next level. Anak-anak muda bisa menginap sendiri, tapi tetap punya ruang kumpul. Ada biliar, pingpong, karaoke, pantry, sampai vending machine. Suasananya hidup,” kata Marchella.

Sementara itu, area resort menawarkan pengalaman menginap yang menyatu dengan lanskap Tosari. Bukan sekadar tempat tidur dan sarapan, tamu diajak tinggal lebih lama melalui rangkaian aktivitas alam, yakni trekking ringan di jalur pinus, program bertani bersama warga, hingga aktivitas edukatif untuk anak-anak kota yang jarang bersentuhan dengan alam.

Salah satu daya tariknya adalah Aviary terbuka bertingkat, ruang hijau berisi berbagai pohon langka seperti baobab, bodhi, moringa, hingga kamboja fosil. Area ini dirancang fleksibel, mulai dari lokasi sarapan hingga makan malam romantis dengan panorama pegunungan.

Jambuluwuk juga membaca perubahan perilaku wisatawan Bromo. Tren bergeser ke value added tourism, di mana tamu ingin lebih dari sekadar melihat matahari terbit lalu pulang.

“Banyak yang belum tahu daerah sekitar Tosari itu indah. Ada Bukit Premium, jalur-jalur trekking, dan spot foto yang belum ramai. Ini yang ingin kami perkenalkan,” ujarnya.

Baca juga: Eiger Adventure Hadir Eksklusif di BTS100 Ultra Jatim, Diikuti 26 Negara

\

Dari sisi fasilitas, Jambuluwuk Bromo menyiapkan konsep staycation penuh. Tersedia kolam renang indoor berpemanas, gym, sauna, spa, lapangan padel dengan latar hutan pinus, bowling mini, hingga amfiteater terbuka.

Anak-anak mendapat area bermain indoor dan outdoor, sementara kebutuhan MICE dilayani ruang pertemuan berkapasitas hingga 150 orang.

Untuk urusan kuliner, Jambuluwuk membuka dua restoran, termasuk Frestro Hillsides, serta menyiapkan menu yang mengangkat rasa lokal seperti ayam bawang dan nasi goreng khas Bromo.

Selama masa pre-opening, harga kamar resort ditawarkan mulai Rp1 juta per malam, dengan harga normal sekitar Rp1,7 juta. Poshtel dibuka dengan tarif promosi mulai Rp600 ribu per malam.

Lebih jauh, proyek ini membawa dampak langsung bagi masyarakat Tosari. Jambuluwuk berkomitmen menyerap tenaga kerja lokal, menargetkan lebih dari 50 persen karyawan berasal dari sekitar kawasan, disertai pelatihan dasar hingga lanjutan di bidang perhotelan.

Baca juga: Elf Wisatawan asal Surabaya Alami Rem Blong di Jalur Bromo, 2 Orang Tewas

“Kami ingin tetangga ikut tumbuh. Dari petani, UMKM, sampai paguyuban jip. Tamu bisa ikut program warga, beli produk lokal, bahkan pasar dadakan,” kata Marchella.

Kerja sama dengan Paguyuban Jip Tosari juga memungkinkan tamu memesan paket sunrise, sunset, atau sekadar eksplorasi tanpa harus membawa kendaraan sendiri.

Dengan total hampir dua hektare lahan, hotel di Bromo ini menyedikan 80 kamar resort, dan 48 kamar Poshtel, Jambuluwuk Bromo tak hanya membidik keluarga dan korporasi, tetapi juga wisatawan asing.

Target pasar dipatok seimbang antara domestik dan mancanegara, seiring ramainya agenda budaya dan olahraga seperti Yadnya Kasada, Bromo Marathon, hingga Bromo KOM.

“Bromo bukan cuma tempat datang sebentar lalu pergi. Di sini orang bisa tinggal, bernapas, dan pulang dengan cerita,” tutup Marchella.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Pasuruan

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler