Pasca Kejadian Keracunan, 3 SPPG di Tulungagung Berhenti Beroperasi

Selasa, 27 Jan 2026 09:59 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Foto: Ketua Satgas MBG Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro. (Bramanta/jatimnow.com)

jatimnow.com-Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Tulungagung telah menutup sementara operasional tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) usai kasus dugaan keracunan beruntun disejumlah sekolah. Jika kasus semacam ini terulang kembali, kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dapat menurun.

Ketua Satgas MBG Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro mengatakan, saat ini ada tiga SPPG yang ditutup sementara usai dugaan kasus keracunan disejumlah sekolah. Diantaranya, SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan (Moyokten 2), SPPG Pondok Pesantren MIA (Moyoketen 1) dan SPPG Karangrejo (Serut).

"Ketiga SPPG kami tutup sementara operasionalnya. Ketiga SPPG juga belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)," ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Baca juga: Sebanyak 9 SD di Tulungagung Diusulkan Lokasi Pembangunan KDMP

Bagus meminta agar semua SPPG di Tulungagung bisa kooperatif jika ada laporan dugaan keracunan MBG. Sehingga Satgas MBG Tulungagung bisa bergerak cepat untuk mengamankan sampel makana dan melakukan penanganan terhadap pelajar yang mengalami gangguan pencernaan.

"SPPG harus jelas. Kalau ada dugaan keracunan segera lapor Satgas, agar kasus ini dapat segera ditangani," terangnya.

Jika sampel MBG bisa cepat didapatkan, tentu akan sangat membantu dalam mengetahui penyebab keluhan pelajar. Apakah keluhan kesehatan itu akibat konsumsi MBG atau ada faktor lain.

"Jika sampel makanan bisa didapatkan cepat, maka dapat segera diamankan untuk melakukan uji laboratorium," jelasnya.

Satgas MBG Tulungagung meminta agar SPPG lebih berhati-hati dalam mengolah makanan. Sehingga kasus dugaan keracunan MBG tidak terjadi lagi di Tulungagung.

Baca juga: Kasus Keracunan Siswa di Tulungagung Terjadi Lagi, Dinkes Ambil Sampel ke SPPG

"Sebagai evaluasi, kami minta agar setiap SPPG hati-hati sehingga tidak ada kasus dugaan keracunan lagi," paparnya.

\

Jika kasus dugaan keracunan akibat MBG terus muncul, tentu akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat. Bisa jadi pelajar, guru dan wali murid tidak berani makan karena takut keracunan.

"Ini butuh kerja bareng. Jangan menciderai program MBG. Karena jika sudah cidera, otomatis wali murid, pelajar dan guru tidak berani makan karena takut keracunan," ungkapnya.

Permintaan maaf dari pengelola SPPG itu adalah langkah terakhir ketika ada kasus dugaan keracunan MBG. Namun yang terpenting adalah bagaimana SPPG melalukan evaluasi terhadap SOP yang dijalankan.

Baca juga: Tak Alami Efesiensi, Ini Besaran Banpol yang Diterima Parpol di Tulungagung

"Minta maaf itu adalah step terakhir. Sebelum minta maaf, SPPG harus melakukan evaluasi," tandasnya.

Seperti diberikan sebelumnya, sejumlah pelajar di SMKN 3 Boyolangu, SMKN 2 Boyolangu, SMK Sore Tulungagung dan MAN 2 Tulungagung mengalami gangguan kesehatan berupa mual, muntah hingga diare usai menyantap MBG.

Beberapa pelajar harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis. Dinkes Tulungagung dan Tim Inafis Polres Tulungagung telah mengambil sampel makanan untuk memastikan apakah kasus dugaan keracunan disebabkan MBG atau tidak.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Tulungagung

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler