jatimnow.com - Kekayaan pengetahuan lokal kembali mendapat perhatian dunia akademik. Tim dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) melakukan studi etnomedisin di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihatu, Maluku Tengah, untuk meneliti pemanfaatan bahan alam dalam perawatan ibu pasca melahirkan serta pelancar ASI (air susu ibu).
Penelitian ini dipimpin Guru Besar Fakultas Farmasi Unair, Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si, bersama Dr. apt. Neny Purwitasari, S.Farm., MSc, serta melibatkan mahasiswa S1 dan S3.
Studi tersebut didanai melalui Program Equity skema IRN Universitas Airlangga tahun 2025 No : 5396/B/UN3.LPPM/PT.01.03/3025 dengan fokus eksplorasi etnomedisin dari tiga suku di Indonesia.
Baca juga: Obesitas Remaja, Salahkah Begadang dan Makan Tengah Malam?
“Pengetahuan masyarakat tentang perawatan ibu nifas menggunakan bahan alam diwariskan secara turun-temurun. Jika tidak didokumentasikan, pengetahuan ini berisiko hilang,” ujar Prof. Wiwied Ekasari di sela kegiatan lapangan di Leihatu, Maluku Tengah.
Sebagaimana diketahui, Provinsi Maluku dikenal memiliki keragaman hayati tinggi yang sejak lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Dalam riset lapangan yang berlangsung pada 11–25 Januari 2026, tim Unair menelusuri praktik pengobatan tradisional di Negeri Kaitetu, Seith, dan Kalauli.
Ramuan tersebut digunakan baik untuk konsumsi langsung, pemakaian luar seperti mandi herbal dan balur daun, hingga pangan fungsional harian bagi ibu pasca persalinan.
Menurut Prof. Wiwied, studi ini tidak berhenti pada pendataan. Seluruh bahan yang teridentifikasi akan melalui tahapan uji laboratorium guna memastikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah.
“Validasi ilmiah penting agar pemanfaatan tanaman obat tidak hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” katanya.
Baca juga: Mengenal Superflu H3N2, Varian Baru Influenza yang Kini Masuk Indonesia
Upaya ini juga sejalan dengan perlindungan sumber daya hayati dan pengetahuan masyarakat lokal. Pemerintah mendorong penelitian etnomedisin berbasis komunitas agar tidak terjadi eksploitasi tanpa izin dan manfaatnya dapat kembali ke masyarakat.
Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, tim Unair menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada 13 Januari 2026 di Balai Dusun Kalauli.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah kecamatan, raja negeri, tokoh adat, tenaga pendidik, kader PKK, serta mendapat dukungan dari Pelaksana Tugas Dinas Kesehatan dan Pangan Seram Bagian Barat.
Sekretaris Camat Leihatu, St. N. Sialana, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai penelitian tersebut dapat menjadi jembatan antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern.
Baca juga: Jangan Asal Jajan, Simak Tips Sehat Libur Natal & Tahun Baru dari Pakar UNAIR
“Kami berharap hasil riset ini bisa memberi manfaat nyata bagi kesehatan ibu dan anak, sekaligus melestarikan budaya pengobatan tradisional,” ujarnya.
Dalam FGD tersebut, Prof. Wiwied juga memberikan penyuluhan mengenai cara pengolahan obat tradisional atau simplisia yang benar, mulai dari pemilihan bahan, proses pengeringan, hingga penyimpanan.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan terkait tanaman lokal yang berkhasiat dan teknik pengolahannya.
Penelitian ini menjadi langkah awal kerja sama berkelanjutan antara Fakultas Farmasi Unair dan Pemerintah Kecamatan Leihatu.
Ke depan, dokumentasi etnomedisin Maluku Tengah diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi produk herbal nasional berbasis kearifan lokal, sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat Indonesia.