jatimnow.com - Mahasiswa Magister Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menelusuri jejak perjuangan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sumodiningrat di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Kunjungan akademik tersebut dilakukan untuk menggali sejarah Kesultanan Yogyakarta sekaligus mempelajari nilai-nilai perjuangan yang diwariskan KRT Sumodiningrat, salah satu tokoh penting pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II.
Rombongan mengunjungi Kawedanan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan mendapat paparan langsung dari Abdi Dalem Kawedanan Widya Budaya, KRT H Rintaiswara.
Dalam paparannya, Rintaiswara menjelaskan dinamika sejarah Kesultanan Yogyakarta serta peran KRT Sumodiningrat. Ia menyebut sejarah masa lalu dapat menjadi cermin untuk memahami nilai-nilai kehidupan dan perjuangan.
"Dari sosok KRT Sumodiningrat kita bisa belajar tentang pentingnya memegang semangat anti penjajahan, sekaligus meneguhkan nilai-nilai luhur Jawa sebagai citra diri," ujarnya
Pembahasan kemudian mengarah pada peristiwa Geger Sepehi yang terjadi pada 1812. Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode penting dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta ketika pasukan kolonial Inggris yang dibantu pasukan Sepoy menyerang keraton.
Rintaiswara menjelaskan, dalam peristiwa tersebut terdapat dinamika internal di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Sejumlah orang dekat kesultanan disebut memiliki kepentingan berbeda, termasuk pihak yang memberikan informasi mengenai kondisi internal kesultanan kepada pihak lawan.
Sementara KRT Sumodiningrat memilih tetap bertahan menghadapi serangan. Panglima perang pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II itu akhirnya gugur di medan pertempuran.
Baca juga:
Forum Komunikasi Perubahan UINSA Adukan Rektor Muzakki ke DPR RI, Soroti Empat Hal
"Keteguhan Sumodiningrat dalam memegang prinsip, untuk tetap bertahan walau diserang, mengantarkannya gugur di medan laga," jelasnya.
Usai mengikuti paparan, rombongan melihat sejumlah koleksi manuskrip yang tersimpan di Kawedanan Widya Budaya. Berbagai manuskrip dengan beragam aksara diperlihatkan sebagai bagian dari koleksi yang menjadi pengingat perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Masjid Mi'rajul Muttaqinallah di Dusun Jejeran, Kelurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Bantul.
Di sekitar masjid tersebut terdapat kompleks pemakaman sejumlah leluhur dan keturunan Kiai Kriyan atau Kiai Ageng Wonokriyo. Di kawasan itu pula terdapat makam KRT Sumodiningrat.
Baca juga:
Profil Rektor UINSA Akh Muzakki yang Didemo Mahasiswa, Lulusan Australia
Selama kunjungan, mahasiswa juga aktif berdiskusi. Sejumlah pertanyaan diajukan mengenai filosofi lambang Kesultanan Yogyakarta, penyebab gugurnya KRT Sumodiningrat hingga latar belakang kekalahan Kesultanan Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sepehi.
Rombongan mengakhiri kunjungan sekitar pukul 12.30 WIB. Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama.
Ketua rombongan sekaligus Ketua Program Studi Magister SPI UINSA, Najib Khairi, mengatakan kunjungan tersebut memberikan pengalaman akademik sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat sejarah secara langsung.
"Semua merasakan sangat puas bisa mendatangi Kawedanan Widya Budaya sebab banyak pelajaran yang didapat. Kami berharap ada kunjungan lagi yang lebih serius kaitannya dengan penelusuran sejarah," pungkasnya.