Pixel Code jatimnow.com

PENS Terapkan AIoT untuk Tingkatkan Budidaya Melon di Sampang

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berdialog dengan warga. (Foto: PENS for jatimnow.com)
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berdialog dengan warga. (Foto: PENS for jatimnow.com)

jatimnow.com - Petani melon di Desa Tanggumong, Kabupaten Sampang, Madura, mulai memanfaatkan Artificial Intelligence of Things (AIoT) untuk mengelola budidaya secara lebih terukur. Teknologi yang diterapkan tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) memungkinkan petani memantau kondisi tanah dan air sekaligus memperluas pemasaran melalui platform digital.

Program bertajuk Penerapan Teknologi AIoT untuk Manajemen Kualitas Media Tumbuh dan Transformasi Pemasaran Digital Berdampak pada Budidaya Melon di Desa Tanggumong, Madura itu melibatkan dosen, mahasiswa, serta Kelompok Tani Banyu Urip sebagai mitra.

Ketua kegiatan pengabdian, Norma Ningsih, mengatakan teknologi AIoT diterapkan untuk membantu petani memperoleh informasi mengenai kondisi media tumbuh secara lebih terukur.

“AIoT yang diterapkan mengintegrasikan sensor, mikrokontroler, server, dan analisis berbasis machine learning. Data hasil pengukuran dapat digunakan petani sebagai pertimbangan dalam mengelola air, nutrisi, dan kondisi lahan,” kata Norma.

Kelompok Tani Banyu Urip memiliki 25 anggota aktif dengan lahan budidaya sekitar 1 hektare. Petani di kawasan tersebut mengembangkan sejumlah varietas melon, antara lain melon premium, sweet honey, golden apollo, dan golden melon.

Dalam satu siklus tanam, lahan itu dapat menampung sekitar 1.200 tanaman dengan potensi hasil mencapai 1.000 buah melon.

Namun, pengelolaan budidaya selama ini masih menghadapi kendala. Petani relatif banyak mengandalkan pengalaman dan pengamatan visual dalam menentukan kondisi media tumbuh.

Pengukuran pH tanah, kelembapan, kandungan unsur hara, serta kualitas air irigasi juga belum dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Akibatnya, petani memiliki keterbatasan informasi saat menentukan perlakuan yang sesuai dengan kondisi aktual lahan.

Melalui sistem AIoT, kondisi tanah dipantau berdasarkan parameter pH, kelembapan, dan NPK. Sementara kualitas air irigasi diukur melalui pH, Electrical Conductivity (EC), dan Total Dissolved Solids (TDS).

Data dari sensor dikirim ke sistem untuk disimpan dan dianalisis. Hasilnya kemudian ditampilkan melalui aplikasi monitoring sehingga petani dapat memperoleh gambaran kondisi media tumbuh dengan lebih mudah.

Ketua Kelompok Tani Banyu Urip sekaligus pemilik kebun melon, Maulidi Riyanto, menilai informasi yang lebih terukur dapat membantu petani dalam menentukan perlakuan terhadap tanaman.

“Selama ini pengelolaan budidaya masih banyak berdasarkan pengalaman dan pengamatan di lapangan. Dengan adanya monitoring kondisi tanah dan air, petani bisa memiliki informasi tambahan sebagai bahan pertimbangan dalam mengelola tanaman,” ujar Maulidi.

Sistem yang dikembangkan PENS tidak mengambil alih keputusan petani. Teknologi berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan, sedangkan tindakan budidaya tetap ditentukan petani berdasarkan kondisi dan kebutuhan tanaman di lapangan.

Baca juga:
Ribuan Massa dari 20 Desa di Sampang Gelar Unjuk Rasa, Tuntut Pilkades Diadakan

PENS juga menyasar persoalan pemasaran yang selama ini masih didominasi pola konvensional. Jangkauan pasar yang terbatas membuat informasi mengenai kualitas produk, harga, ketersediaan, dan waktu panen belum sepenuhnya menjangkau konsumen melalui kanal digital.

Untuk menjawab persoalan itu, tim mengembangkan platform pemasaran berbasis website. Platform tersebut memuat informasi produk melon, harga, kualitas, serta ketersediaan produk.

Website juga diarahkan untuk mendukung promosi, pemesanan, dan komunikasi antara petani dengan konsumen.

“Penguatan tidak hanya dilakukan pada sisi produksi, tetapi juga pemasaran. Digitalisasi informasi produk diharapkan dapat membuka kanal pemasaran baru sehingga produk petani bisa dikenal oleh konsumen yang lebih luas,” kata Norma.

Penerapan teknologi dilakukan secara bertahap, mulai dari observasi lapangan, pengukuran awal, identifikasi permasalahan, Focus Group Discussion (FGD), perancangan sistem, implementasi, hingga sosialisasi dan transfer teknologi.

Petani diperkenalkan dengan fungsi sensor, cara membaca data monitoring, interpretasi hasil analisis, serta penggunaan website untuk memasarkan produk.

Menurut Maulidi, pendampingan teknologi juga penting agar perangkat yang telah diterapkan tidak berhenti pada tahap penggunaan awal.

“Petani perlu memahami cara membaca hasil monitoring dan memanfaatkan informasi yang tersedia. Pendampingan dan transfer teknologi menjadi bagian penting agar sistem bisa digunakan dalam kegiatan budidaya sehari-hari,” ujarnya.

Baca juga:
Warga Sampang Temukan Bayi Perempuan Dibuang di Lahan Persawahan

Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengubah pola pengelolaan budidaya yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada pengalaman menjadi pertanian berbasis data. Data hasil monitoring juga dapat disimpan sebagai catatan historis untuk mengevaluasi dan merencanakan siklus tanam berikutnya.

Program PENS itu sekaligus menjadi bagian dari hilirisasi hasil penelitian dan pembelajaran berbasis proyek terkait sistem klasifikasi kesuburan tanah berbasis IoT dengan machine learning. Teknologi tersebut dikembangkan lebih lanjut dan disesuaikan dengan kebutuhan budidaya melon di Desa Tanggumong.

Tahap berikutnya akan difokuskan pada pengoperasian dan pemeliharaan sistem AIoT, pemanfaatan data untuk mendukung budidaya, serta pengelolaan website dan kanal pemasaran digital.

Kolaborasi perguruan tinggi, mahasiswa, dan kelompok tani diharapkan dapat memperkuat kapasitas petani, meningkatkan produktivitas usaha, memperluas pasar, serta menjaga keberlanjutan budidaya melon di Tanggumong.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program juga diarahkan untuk mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-2 tentang tanpa kelaparan, tujuan ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta tujuan ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.