jatimnow.com - Digitalisasi semakin melekat pada bisnis makanan dan minuman (F&B) di Surabaya. Data ESB Data Center per Agustus 2026 menunjukkan 78% transaksi F&B Surabaya kini dilakukan secara non-tunai, menandai perubahan pola pembayaran sekaligus kematangan digital pelaku usaha kuliner di Kota Pahlawan.
PT Esensi Solusi Buana (ESB) juga mencatat jumlah merchant F&B di Surabaya tumbuh 32% dalam setahun terakhir. Pada periode yang sama, transaksi dari merchant yang sudah beroperasi atau same-store meningkat hampir 10%.
Pertumbuhan itu berlangsung ketika pelaku usaha kuliner menghadapi persaingan yang semakin padat. Bertambahnya pemain baru beriringan dengan tekanan biaya bahan baku, sewa tempat, listrik, hingga kenaikan Upah Minimum Kota (UMK).
Kondisi operasional juga kian kompleks karena tingginya turnover karyawan berpotensi memengaruhi konsistensi rasa dan kualitas pelayanan. Di sisi lain, sebagian bisnis baru masih mengandalkan momentum viral tanpa ditopang sistem operasional yang kuat.
F&B Educator & Management Consultant Agung Haryadi menilai persaingan yang semakin ketat merupakan konsekuensi dari pertumbuhan Surabaya sebagai kota metropolitan.
“Pasar F&B Surabaya sekarang keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu,” kata Agung.
Menurut dia, bisnis kuliner membutuhkan diferensiasi yang jelas sekaligus efisiensi operasional agar mampu bertahan dalam persaingan. Pengambilan keputusan berbasis data juga semakin penting ketika margin usaha tertekan.
“Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat. Justru di situasi seperti ini, pelaku usaha butuh alat bantu yang dapat memberikan rekomendasi konkret berbasis data, bukan hanya insting,” ujarnya.
Selain biaya operasional, ongkos distribusi melalui platform pengiriman daring menjadi perhatian pelaku F&B. ESB menilai perbedaan tingkat komisi dapat memengaruhi margin, terutama ketika harga bahan baku dan biaya operasional lainnya meningkat.
ESB menyebut ESB Order mengenakan komisi 5% dengan pilihan layanan dine in, takeaway, dan delivery. Perusahaan menilai struktur biaya itu dapat menjadi salah satu alternatif bagi merchant untuk menjaga profitabilitas transaksi.
CEO & Co-Founder ESB Gunawan mengatakan pertumbuhan transaksi yang tercatat perusahaan berjalan beriringan dengan tekanan yang dirasakan pelaku usaha di lapangan.
“Ketika harga bahan baku naik dan margin semakin tipis, setiap persen biaya yang bisa dihemat jadi keputusan strategis,” kata Gunawan.
Menurut dia, ESB Order tidak hanya diarahkan sebagai kanal pemesanan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan nilai belanja konsumen. Data transaksi yang dihasilkan kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan strategi bisnis.
ESB juga terus mengembangkan OLIN agar mampu memberikan rekomendasi terkait peningkatan penjualan dan efisiensi operasional berdasarkan data merchant.
Berbagai persoalan operasional itu menjadi salah satu pembahasan dalam Kopdar Racik Bisnis F&B yang digelar ESB di Surabaya. Forum tersebut mempertemukan pemilik dan pengelola bisnis kuliner dengan praktisi untuk membahas strategi pertumbuhan serta pemanfaatan teknologi.
Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah OLIN by ESB. Teknologi berbasis kecerdasan buatan itu menggunakan data transaksi masing-masing merchant untuk menghasilkan custom data insights, termasuk membantu menentukan menu yang berpotensi didorong melalui program promosi.
ESB juga memperkenalkan ESB Order sebagai solusi pemesanan daring yang menghubungkan proses pencarian restoran dengan transaksi. Konsumen yang menemukan restoran melalui pencarian online dapat diarahkan langsung ke proses pemesanan.
Baca juga:
Tekan Kebocoran, Pemkab Kediri Sosialisasikan Program Digitalisasi Pasar Rakyat
Co-Founder & CEO Mr Suprek Teofilus Hartono mengatakan teknologi dan sistem operasional menjadi fondasi penting ketika bisnis kuliner berkembang dan jumlah gerai bertambah.
“Viral itu penting untuk membangkitkan curiosity. Namun, yang membuat pelanggan kembali dan bisnis bertahan adalah sistem yang kuat di belakangnya,” ujar Teofilus.
Ia mengatakan sistem yang terdokumentasi membantu menjaga standar operasional ketika bisnis menghadapi persoalan pergantian karyawan.
“Ketika turnover karyawan tinggi, SOP tetap berjalan karena semua tercatat rapi di sistem ESB. Inilah kunci pertumbuhan kami,” katanya.
Pengalaman serupa disampaikan Owner Guri Ramen Surabaya & Malang Andre Setiawan. Sebelum menggunakan ESB, ia harus menggabungkan data kasir, stok, dan laporan penjualan dari sejumlah sistem secara manual.
Menurut Andre, integrasi dalam satu ekosistem mengurangi pekerjaan administratif sekaligus risiko kesalahan pencatatan. Data transaksi kasir dapat terhubung dengan stok, sementara laporan tersedia secara real-time.
Bagi bisnis yang memiliki outlet di lebih dari satu kota, kata Andre, integrasi sistem memberikan kontrol yang lebih baik terhadap operasional.
Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan bagian dari program edukasi ESB yang menyasar pemilik, pendiri, dan pengambil keputusan bisnis kuliner. Surabaya menjadi salah satu dari 10 kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan program.
Selain forum diskusi dan mentoring, kegiatan itu membuka peluang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, serta asosiasi kuliner di berbagai daerah.
Baca juga:
Telkom Dorong Transformasi Digital Pendidikan Melalui Program Pijar Sekolah
Program tersebut juga didukung BCA sebagai Official Payment Partner. Melalui OCEAN by BCA, integrasi EDC BCA dan QRIS dengan ESB POS memungkinkan transaksi tercatat dalam sistem kasir untuk mendukung proses rekonsiliasi keuangan.
Sementara itu, IWARE menyediakan perangkat keras yang dirancang untuk mendukung operasional ekosistem ESB, termasuk penerapan konsep Lean Operations dari area kasir hingga dapur.
Gunawan mengatakan pertumbuhan ekonomi Surabaya perlu diikuti dengan penguatan fondasi bisnis para pelaku F&B.
“Surabaya membuktikan bahwa kota yang ekonominya tumbuh cepat butuh pelaku bisnis kuliner yang tumbuh secara sehat juga, bukan sekadar ramai, tetapi rapi,” ujarnya.
ESB, lanjut dia, ingin menempatkan teknologi bukan hanya sebagai perangkat transaksi, tetapi sebagai sumber data yang membantu pelaku usaha menentukan keputusan bisnis berikutnya.
“Kami tidak ingin sekadar jadi penyedia alat kasir. Kami ingin jadi partner yang memastikan setiap transaksi hari ini menjadi data yang berguna untuk keputusan bisnis esok hari,” kata Gunawan.
ESB merupakan perusahaan teknologi yang berfokus pada sistem operasional terintegrasi untuk bisnis kuliner. Berdiri sejak 2018, perusahaan mengembangkan berbagai solusi, mulai dari ESB POS, ESB Core, ESB Order, OLIN AI, kitchen display, queue display, kiosk, program loyalitas pelanggan, Business Intelligence, hingga sistem pembayaran terintegrasi.
Hingga 2026, ESB menyatakan telah melayani lebih dari 30.000 merchant aktif di Indonesia dengan total nilai transaksi melampaui Rp65 triliun.
URL : https://jatimnow.com/baca-86908-esb-catat-transaksi-nontunai-fb-surabaya-tembus-78-persen