Pixel Code jatimnow.com

Tren Kimpul Viral di TikTok, Pakar Gizi Ungkap Potensinya Jadi Alternatif Pengganti Nasi

Editor : Dadang Kurnia  
Olahan talas (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Olahan talas (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Belakangan ini, linimasa media sosial TikTok diramaikan oleh tren mengolah umbi lokal tradisional, kimpul. Tren yang mencuat sepanjang Agustus ini berawal dari akun @black.sheep8208 yang membagikan konten memasak kimpul menjadi aneka hidangan kekinian, seperti mashed potato hingga seblak.

Menanggapi fenomena viral tersebut, pakar gizi Universitas Airlangga (Unair) Lailatul Muniroh, angkat bicara. Ia menilai bahwa kimpul yang masuk dalam keluarga talas-talasan menyimpan potensi gizi yang sangat besar sebagai alternatif sumber karbohidrat bagi masyarakat.

Meski kaya akan serat dan karakteristik pati yang bagus, Lailatul menyebut kimpul belum bisa sepenuhnya menggeser posisi beras.

"Bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi secara penuh," urai Lailatul.

Dari segi kepraktisan, kimpul memang masih kalah dari nasi. Namun, jika diolah dengan tepat, umbi ini memiliki nilai guna yang sangat luas. Selain dikukus atau direbus, kimpul paling potensial jika diolah menjadi tepung.

“Tepung inilah yang menjadi olahan paling potensial karena dapat mensubstitusi terigu. Bahan ini bisa dikreasikan menjadi cookies, biskuit, brownies, cake, pancake, keripik, hingga stik kimpul,” tuturnya.

Lebih jauh, Lailatul menambahkan bahwa jika tepung kimpul dikombinasikan dengan sumber protein yang tepat, bahan ini bisa menjadi bubur bergizi tinggi, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), hingga biskuit fortifikasi.

Fenomena viralnya kimpul di media sosial dinilai sebagai alarm positif sekaligus entry point yang sangat baik untuk mengenalkan diversifikasi pangan lokal. Namun, Lailatul mengingatkan agar momentum ini tidak sekadar numpang lewat menjadi konten sesaat.

Jika dikonsumsi secara berulang, kimpul berpotensi membentuk kebiasaan pola makan baru di tengah masyarakat. Meski demikian, ada sejumlah tantangan yang harus dilewati, terutama terkait cara mengolahnya agar tidak memicu rasa gatal di mulut.

Dari sisi penerimaan pasar, diperlukan strategi agar olahan kimpul bisa diterima oleh lidah lintas generasi, mulai dari Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha. Lailatul menegaskan bahwa keberhasilan diversifikasi pangan ini membutuhkan kolaborasi konkret dari semua pihak.

“Kuncinya adalah mengubah viralitas menjadi kebiasaan. Pemerintah harus hadir menjamin ketersediaan produksi, distribusi, dan harga. Akademisi juga perlu terus meneliti keamanan gizinya. Sementara pelaku usaha, bisa mengambil peran dengan mengolah kimpul menjadi produk kemasan yang familier dan praktis dikonsumsi masyarakat,” pungkas Lailatul.