Pixel Code jatimnow.com

Sumenep Jadi Pusat Bibit Cabe Jamu untuk Pengembangan Herbal Nasional

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Ketua Umum STI SDT, Sumaria Daeng Toba, berfoto bersama petani cabe jamu saat kunjungan ke Sumenep, Madura, pada Rabu (29/7/2026). (Foto: Lukman for jatimnow.com)
Ketua Umum STI SDT, Sumaria Daeng Toba, berfoto bersama petani cabe jamu saat kunjungan ke Sumenep, Madura, pada Rabu (29/7/2026). (Foto: Lukman for jatimnow.com)

jatimnow.com - Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diproyeksikan menjadi salah satu pusat penyedia bibit cabe jamu (Piper retrofractum Vahl) untuk mendukung pengembangan tanaman herbal nasional.

Bibit asal Madura itu akan dibudidayakan di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai bagian dari peringatan Hari Tani Nasional 2026.

Rencana tersebut mengemuka saat Ketua Umum Sahabat Tani Indonesia (STI SDT), Sumaria Daeng Toba, mengunjungi sentra budidaya cabe jamu di Desa Pakandangan Tengah, Kecamatan Bluto, Sumenep, Rabu (29/7/2026).

Sumaria mengatakan bibit cabe jamu asal Madura dipilih karena kualitasnya telah terbukti dan selama ini dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat.

"Bibit cabe jamu (Piper retrofractum Vahl) asal Madura akan dibudidayakan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur," ujarnya.

Penanaman perdana dijadwalkan berlangsung pada 24 September 2026 di lahan seluas satu hektare di Balikpapan. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Sahabat Tani Indonesia dengan SMK Negeri 5 Balikpapan Timur.

Menurut Sumaria, pengembangan cabe jamu tidak hanya ditujukan memperluas areal tanam, tetapi juga menjadi pintu masuk pengembangan komoditas herbal bernilai ekonomi tinggi di Kalimantan Timur.

"Kami datang ke Madura untuk melihat langsung kualitas bibit dan proses budidaya cabe jamu. Tanaman ini nantinya akan kami tanam di Balikpapan saat peringatan Hari Tani Nasional 2026," katanya.

Ia menambahkan, hasil panen nantinya tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku industri, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk UMKM binaan Sahabat Tani Indonesia agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.

"Hasil panen cabe jamu nantinya tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga akan diolah menjadi berbagai produk UMKM binaan Sahabat Tani Indonesia sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Sumaria didampingi penggerak pertanian Balikpapan, H. Muhammad Nur, yang merupakan warga asli Desa Pakandangan Tengah.

Ia menjelaskan, cabe jamu telah lama menjadi komoditas unggulan masyarakat Sumenep. Selain teknik budidayanya relatif mudah, tanaman itu juga memiliki nilai ekonomi tinggi dan tersedia dalam jumlah melimpah.

Baca juga:
Geger Air Sumur Bau Menyengat, Ternyata Ada Jasad Nenek yang Hilang di Sumenep

"Kami datang langsung untuk melihat bentuk fisik tanaman, proses budidaya, hingga hasil panennya. Kunjungan ini juga memastikan ketersediaan bibit untuk penanaman di Balikpapan," kata Muhammad Nur.

Menurutnya, pemilihan Sumenep sebagai lokasi studi banding didasarkan pada reputasinya sebagai salah satu sentra produksi cabe jamu berkualitas di Indonesia.

Selain mendukung pengembangan pertanian, program tersebut juga akan diarahkan pada pembangunan kawasan agroeduwisata bersama SMK Negeri 5 Balikpapan Timur.

"Ke depan kami juga akan mengembangkan kawasan agroeduwisata sehingga petani binaan memperoleh tambahan pendapatan dari pengelolaan lahan dan pengembangan produk turunannya," ungkap Sumaria.

Prospek pengembangan cabe jamu semakin terbuka setelah komoditas khas Sumenep itu resmi tercatat sebagai Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kementerian Hukum dan HAM RI melalui Surat Pencatatan tertanggal 3 Maret 2024.

Pencatatan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas pengetahuan tradisional masyarakat Sumenep sekaligus memperkuat posisi cabe jamu sebagai komoditas unggulan daerah.

Baca juga:
Pulang dari Malaysia, Fauzi Bangun Layanan Keuangan Warga Kangean

Selama ini, cabe jamu dimanfaatkan sebagai bahan baku industri jamu, obat tradisional, kosmetik berbahan alami, hingga pangan fungsional.

Selain memiliki nilai ekonomi, cabe jamu juga menarik perhatian kalangan akademisi. Tanaman dari keluarga Piperaceae itu diketahui mengandung senyawa aktif seperti piperine dan retrofractamide yang dalam sejumlah penelitian memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Sejumlah riset, termasuk pengembangan kombucha berbahan cabe jawa oleh tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), menunjukkan potensi tanaman tersebut sebagai bahan minuman fungsional.

Namun, hasil penelitian itu masih berada pada tahap laboratorium sehingga memerlukan kajian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas.

Melalui perluasan budidaya ke Kalimantan Timur, cabe jamu asal Sumenep diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Madura sebagai sentra rempah, tetapi juga menjadi komoditas herbal strategis yang mendorong pemberdayaan petani, pengembangan pendidikan vokasi, serta pertumbuhan UMKM berbasis tanaman obat Indonesia.