Pixel Code jatimnow.com

Siswa SMK Telkom Malang Ciptakan Game Edukasi Batik Berbasis Teknologi AR

Editor : Yanuar D   Reporter : Avirista Midaada
Permainan edukasi budaya batik Nawasena kreasi siswa SMK Telkom Malang. (Foto: SMK Telkom/jatimnow.com)
Permainan edukasi budaya batik Nawasena kreasi siswa SMK Telkom Malang. (Foto: SMK Telkom/jatimnow.com)

jatimnow.com - Siswa SMK Telkom Malang menciptakan inovasi permainan edukasi berbasis Augmented Reality (AR) untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak. Permainan edukatif bernama board game Nawasena Seri Batik Malang ini menghadirkan cara belajar budaya yang lebih menyenangkan melalui aktivitas bermain.

Sebagai informasi, Augmented Reality (AR) merupakan teknologi yang memproyeksikan atau menggabungkan konten digital, seperti objek 2D atau 3D, teks, dan animasi, ke dalam dunia nyata secara real-time.

Ketua Tim Nawasena, Aliyan Ridho, menuturkan bahwa terciptanya permainan budaya berbasis teknologi ini didasari minimnya pengetahuan anak-anak tentang Batik Malangan. Temuan tersebut diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh dua siswa kelas XI SMK Telkom Malang kepada sejumlah siswa sekolah dasar (SD).

“Berangkat dari kondisi tersebut, tim mengembangkan media pembelajaran yang menggabungkan unsur permainan, budaya, dan teknologi, agar proses belajar menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami,” ujar Aliyan Ridho, Kamis (9/7/2026), kepada jatimnow.com.

Berdasarkan temuan tersebut, Aliyan bersama rekannya menghadirkan permainan edukasi berbasis teknologi AR dan internet untuk menarik minat anak-anak. Selain menghadirkan mekanisme permainan yang edukatif, Nawasena juga dilengkapi kartu AR yang memungkinkan pemain mengeksplorasi motif batik secara lebih menarik.

“Pendekatan ini dirancang agar anak-anak dapat mempelajari budaya tanpa merasa sedang mengikuti pembelajaran formal di kelas,” ungkapnya.

Tim juga menggandeng Soendari Batik sebagai mitra validasi budaya sekaligus salah satu pelaku usaha batik di Malang. Seluruh konten dalam permainan, mulai dari pengenalan motif, filosofi, hingga informasi budaya yang disajikan, telah melalui proses validasi bersama pelaku batik lokal guna memastikan ketepatan informasi yang diterima pemain.

“Kolaborasi tersebut tidak hanya memastikan kualitas materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata. Melalui kemitraan dengan Soendari Batik, pemain berkesempatan mengenal proses membatik secara lebih dekat dan langsung sehingga pembelajaran budaya tidak berhenti pada teori, tetapi juga terhubung dengan praktik pelestarian budaya yang sesungguhnya,” jelasnya.

Baca juga:
Inovatif, Siswa SMKN 2 Bangkalan Produksi Wewangian Berbahan Sereh

Selama empat bulan, sejak Februari hingga Juni 2026, Aliyan bersama tim mengembangkan inovasi game Nawasena. Setelah seluruh inovasi dan gagasan diterapkan, proses uji coba dilakukan kepada siswa kelas II SD di SD Brawijaya 3 Malang dan SDN Rampal Celaket 1. Dari hasil uji coba tersebut, tim kemudian menyempurnakan sejumlah elemen dan fitur game agar lebih menarik, terutama pada sisi penjelasan detail yang dapat dipindai menggunakan gawai saat permainan berlangsung.

“Dalam game tersebut terdapat tiga jenis batik Malang yang ada dalam satu kali permainan. Dimana fitur pengenalan motif, filosofi, hingga informasi budaya tentang batik disajikan,” tuturnya.

Meski telah disusun dan diujicobakan di dua sekolah, pihaknya mengakui masih menghadapi kendala, terutama dalam menyampaikan konsep dan mekanisme permainan kepada anak-anak. Namun, hal itu justru menjadi motivasi bagi Aliyan Ridho dan Noura Azhima, siswa kelas XI Jurusan Pengembangan Game SMK Telkom Malang, untuk terus menyempurnakan permainan tersebut.

“Karena mekanisme game kami ini jarang dikenal oleh anak - anak kaya monopoli, ular tangga. Tapi memang ini jadi diferensiasi kami bahwa kami bisa mengenalkan mekanisme baru ke mereka,” bebernya.

Baca juga:
Pelajar SMK 10 Nopember Sidoarjo Ciptakan Skincare dari Hama Telur Keong Sawah

Kehadiran Nawasena diharapkan menjadi alternatif media yang memadukan unsur edukasi, budaya, dan permainan dalam satu wadah yang menarik bagi anak-anak. Di tengah menurunnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya lokal, pendekatan seperti ini dinilai penting untuk membantu meningkatkan kembali pemahaman dan kecintaan mereka terhadap batik, khususnya Batik Malang.

“Batik Malang ini jadi seri pertama, ke depannya, tim berencana menghadirkan berbagai seri budaya dari daerah lain di Indonesia sehingga Nawasena dapat berkembang menjadi media edukasi budaya berskala nasional yang memperkenalkan kekayaan budaya nusantara kepada generasi muda,” paparnya.

Sementara itu, guru pendamping Nawasena, Muhammad Arifin, menjelaskan bahwa game Nawasena Batik Malang menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Proses pengembangannya dilakukan secara bertahap, mulai dari riset di sekolah hingga validasi kepada perajin batik dan pelaku industri game di Malang.

“Saya optimis dengan pengembangan Nawasena mampu melestarikan dan mengenalkan budaya batik ke anak-anak, dengan cara yang menyenangkan. Ini juga sudah mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan Kota Malang,” kata Muhammad Arifin, selaku guru mata pelajaran Produktif Rekayasa Perangkat Lunak.