jatimnow.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi dan inklusi Pasar Modal Syariah di kalangan generasi muda sebagai upaya memperluas basis investor domestik sekaligus mencetak investor yang cerdas, bijak, dan memahami risiko investasi. Upaya tersebut dilakukan melalui penyelenggaraa Kuliah Umum Pasar Modal Syariah di Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, Kamis (2/6/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berinvestasi di pasar modal terus menunjukkan tren positif.
Hingga pertengahan Mei 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai sekitar 28,1 juta investor. Lebih dari 54 persen di antaranya merupakan investor berusia di bawah 30 tahun. Sementara itu, jumlah investor pasar modal di Provinsi Jawa Timur telah mencapai sekitar 3,1 juta investor, menjadikan provinsi ini sebagai daerah dengan jumlah investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Hasan menegaskan bahwa peningkatan jumlah investor harus diiringi dengan pemahaman yang memadai mengenai investasi, termasuk investasi berbasis syariah.
“Pada kesempatan ini, saya ingin menegaskan satu hal yang sangat penting yaitu investasi saham bukanlah berupa praktik perjudian. Saham merupakan instrumen investasi yang sah, dan dalam konteks syariah juga telah memperoleh legitimasi yang kuat melalui berbagai fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Bahkan, pasar modal syariah telah didukung oleh Sharia Online Trading System (SOTS) yang memastikan transaksi dilakukan sesuai prinsip syariah,” kata Hasan.
Sebagai wujud komitmen memperluas inklusi pasar modal di kalangan generasi muda, Hasan mengapresiasi pembukaan rekening efek yang dilakukan di Universitas Darussalam Gontor. Langkah tersebut diharapkan menjadi awal bagi mahasiswa untuk mulai berinvestasi secara legal, bertahap, dan sesuai prinsip syariah, sekaligus mendukung perluasan basis investor domestik.
Hasan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terburu-buru berinvestasi hanya karena mengikuti tren, melainkan terlebih dahulu memahami risiko dari setiap instrumen investasi.
“Yang tadi sudah membuka rekening, jangan euforia. Jangan karena sudah punya rekening kemudian tanpa pemahaman langsung menginvestasikan modal ke instrumen tertentu. Teruslah belajar dan memahami risiko di balik setiap keputusan investasi yang diambil. Dan yang paling mudah, selalu ingat prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis,” ujarnya.
Baca juga:
Pertumbuhan UMKM di Malang Dorong Kenaikan Penyaluran Pinjaman
Sementara itu, Rektor Universitas Darussalam Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum tersebut karena dinilai memberikan bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi perkembangan sektor keuangan yang semakin dinamis.
“Sekarang orang harus bisa mengelola uangnya dengan sebaik-baiknya dalam situasi yang dunia ini penuh tipu daya, penipuan, dan kesalahpahaman. Yang penting saya berharap anak-anakku tidak terjebak dan tertipu karena tidak tahu ilmunya bagaimana investasi secara online. Maka dari itu hari ini adalah hari yang sangat penting bagi kalian semuanya,” ujar Hamid.
Kegiatan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 di Provinsi Jawa Timur yang menyasar berbagai kalangan masyarakat.
Selain kuliah umum di Universitas Darussalam Gontor, rangkaian kegiatan juga meliputi sosialisasi pasar modal di Pemerintah Kota Kediri yang disertai pencanangan pembukaan Galeri Investasi bagi ASN, serta sosialisasi perdagangan karbon di Bursa Karbon bagi Lembaga Jasa Keuangan dan pelaku industri daerah di Kota Madiun yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan Lembaga Validasi dan Verifikasi.
Baca juga:
Catat! KCP Sidoarjo Bank Mandiri Taspen Resmi Pindah ke Jalan Sultan Agung
Melalui kegiatan SEPMT 2026, OJK berharap dapat mengoptimalkan literasi dan inklusi pasar modal guna meningkatkan jumlah investor domestik dari berbagai kalangan sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai Bursa Karbon.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri Ismirani Saputri merasa terhormat wilayahnya menjadi lokasi penyelenggaraan rangkaian Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026. Antusiasme peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, ASN, pelaku usaha, hingga masyarakat umum, menunjukkan semakin tingginya perhatian masyarakat terhadap pasar modal.
“Kami berharap ini memperkuat kolaborasi antara OJK, pemerintah daerah, Bursa Efek Indonesia (BEI), Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri jasa keuangan, dan perguruan tinggi. Kami juga akan terus mendorong percepatan literasi dan inklusi pasar modal guna melahirkan investor yang cerdas dan inklusif, sekaligus membentengi masyarakat dari risiko investasi ilegal demi mendukung stabilitas ekonomi daerah,” terang Ismirani Saputri, Senin (6/7/2026).