Pixel Code jatimnow.com

Rektor UIN KHAS Bedah Makna Perjuangan Hidup di Balik Kisah Air Zam-zam

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Sugianto
Prof. Hepni jadi khotib Salat Idul Adha di Mapolres Jember (Foto: Humas UIN KHAS Jember for jatimnow.com)
Prof. Hepni jadi khotib Salat Idul Adha di Mapolres Jember (Foto: Humas UIN KHAS Jember for jatimnow.com)

jatimnow.com – Pelaksanaan Salat Idul Adha di Mapolres Jember berlangsung dengan khidmat. Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Hepni, yang bertindak sebagai khotib, membawakan pesan spiritual yang mendalam mengenai filosofi ibadah Sa’i dan sejarah kemunculan air Zam-zam.

Di hadapan para jemaah, Prof. Hepni mengajak umat Islam untuk merefleksikan kembali ketangguhan Siti Hajar. Menurutnya, rentetan ritual haji yang kini tengah dijalankan oleh jutaan umat Islam di Tanah Suci memiliki relevansi yang sangat kuat dengan realitas kehidupan sosial modern.

Dalam khotbahnya, Prof. Hepni menjelaskan bahwa ritual Sa’i, yakni berjalan dan berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah, bukanlah sekadar aktivitas fisik semata. Ritual tersebut merupakan cerminan dan simulasi dari perjuangan hidup manusia.

"Perjalanan bolak-balik yang dilakukan jamaah haji menggambarkan perjuangan manusia dalam mencari kebaikan, rezeki, dan ridha Allah SWT," ungkapnya.

Rektor UIN KHAS Jember ini juga menyoroti pentingnya etos kerja dan konsistensi. Ia mengingatkan jemaah untuk menjauhi budaya serba instan dalam mencapai kesuksesan.

Baca juga:
Unik, EXCOTEL Surabaya Sajikan Air Zam-zam & Kurma Muda Beku Saat Iftar

"Aktivitas ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kesungguhan dan konsistensi," sambungnya.

Lebih lanjut, Prof. Hepni mengaitkan buah dari ketangguhan ikhtiar Siti Hajar dengan anugerah munculnya mata air suci Zam-zam. Air yang kini selalu menjadi buruan utama jemaah haji tersebut menyimpan pesan kemanusiaan tentang pentingnya kehadiran seseorang bagi sekitarnya.

"Dalam kehidupan sosial, kisah Zam-zam juga mengajarkan pentingnya berbagi manfaat kepada sesama. Air Zamzam yang terus mengalir menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang di Makkah," ungkapnya.

Menutup khotbahnya, Prof. Hepni menaruh harapan besar agar nilai-nilai sejarah keteladanan tersebut tidak hanya berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jember.

"Nilai ini dapat diterapkan melalui sikap tolong-menolong, kepedulian sosial, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar," pungkasnya.