Pixel Code jatimnow.com

Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA 2026

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Ali Masduki
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan perjalanan 18 Tahun JAPFA for Kids di Surabaya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan perjalanan 18 Tahun JAPFA for Kids di Surabaya, Selasa (19/5/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. Program yang memasuki tahun ketiga tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat edukasi publik terkait pemenuhan gizi anak di Indonesia.

Tahun ini, AKJJ mengusung tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa, Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”. Tema tersebut merekam perjalanan panjang program JAPFA for Kids yang selama hampir dua dekade fokus pada peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak.

Implementasi program terbaru berlangsung di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan pemenuhan gizi anak menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi masa depan.

“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya masa depan Indonesia dimulai dari anak-anak yang mendapatkan asupan gizi baik dan tumbuh dalam lingkungan sehat,” kata Rachmat, Selasa (19/5/2026).

Melalui AKJJ 2026, JAPFA juga ingin memperkuat kolaborasi dengan media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan gizi seimbang.

Persoalan malagizi pada anak masih menjadi tantangan nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 11 persen anak usia 5–12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Data JAPFA di tujuh wilayah pelaksanaan program pada 2024 juga menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa mengalami kondisi serupa.

Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia.

Baca juga:
80 Persen Anak Indonesia Masih Defisit Protein Hewani

Program tersebut mencatat peningkatan status gizi anak. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik. Jumlah itu setara 51,5 persen.

Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa mengalami peningkatan status gizi menjadi kategori baik atau sekitar 62,5 persen.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan program dijalankan melalui berbagai pendekatan terintegrasi.

“Anak-anak dengan kondisi malagizi mendapatkan asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan. Kami juga melakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, disertai pembiasaan hidup sehat lewat program Hari Sehat JAPFA,” ujar Retno.

Selain itu, program dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga monitoring berkala untuk memastikan hasil program terukur.

AKJJ 2026 turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang, mulai dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, hingga pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sandra Fikawati.

Sandra menilai media memiliki peran besar dalam membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang bagi anak.

“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama terkait konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, dan pembiasaan hidup sehat sejak usia dini,” ujarnya.

Melalui AKJJ 2026, JAPFA berharap lahir lebih banyak karya jurnalistik yang mampu memperluas pemahaman masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih sehat.